• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

WILLOW PROJECT : DILEMA  KEPENTINGAN AMERIKA SERIKAT SERTA DESAKAN MASYARAKAT INTERNASIONAL

Editor Redaksi
8 Juli 2023
in Kolom Opini

Penulis: TANIA EGA MAHARDIKA
Mahasiswa HI UIN Jakarta

JurnalPost.com – Kenaikan harga minyak serta kebutuhan akan minyak bumi di Amerika Serikat menjadi pemantik Joe Biden menyetujui willow project. Willow Project merupakan sebuah proyek pengeboran minyak bumi di sebuah lahan yang terletak di alaska yang dapat memproduksi 180.000 barel minyak per hari. Projek tersebut tentu mendapatkan banyak kritik dari para aktivis lingkungan ataupun aktor internasional. Alaska yang berada di daerah sekitar kutub yang terdiri dari banyak lahan yang bersalju merupakan sebuah lahan penyeimbang yang menahan kenaikan air laut di bumi. Apabila terjadi pencairan di kutub yang disebabkan oleh global warming, maka akan membuat berbagai daratan di dunia terancam.

Seperti wilayah kawasan pacific yang terdiri dari kepulauan kecil yang akan terancam tenggelam dikarenakan kenaikan air laut yang disebabkan oleh cairnya es di kutub. Pada sisi lain, penduduk Alaska mendukung projek tersebut dikarenakan menimbulkan keuntungan seperti menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan, meningkatkan perekonomian pada negara bagian Alaska, peningkatan pendapatan negara dan lain sebagainya.

Joe biden dinilai tidak menepati janji pemilunya untuk melindungi bumi dari perubahan iklim yang disebabkan oleh global warming yang dipicu dari banyak hal termasuk penggunaan serta produksi minyak bumi di Alaska. Kenaikan harga minyak serta ketidakstabilan harga di Amerika Serikat memicu Joe Biden untuk memikirkan alternatif agar kestabilan dalam negeri dapat terkendali, terlebih pemilu akan diadakan pada 2024 mendatang. Kenaikan Harga minyak di Amerika Serikat dapat disebabkan oleh beberapa hal.

OPEC+ yang merupakan organisasi negara penghasil minyak melakukan pemangkasan produksi minyak bumi sehingga membuat kenaikan harga serta menimbulkan dilema bagi Amerika Serikat. Dilema Amerika Serikat dipicu oleh beberapa hal. Salah satunya ialah kebijakan OPEC+ pada 2 April 2023 dengan mengurangi produksi minyak bumi yang sangat mempengaruhi keadaan pasar minyak global. Penurunan produksi minyak global akan berdampak pada kenaikan harga minyak yang tentu dapat merugikan salah satu konsumen terbesar minyak bumi yaitu Amerika Serikat.

Selain itu, keputusan Pangeran Muhammad bin Salman (MBS)  untuk menegaskan kepada Amerika Serikat mengenai pengurangan ekspor minyak bumi untuk Amerika Serikat memicu kekhawatiran. Saat ini Pengeran MBS dinilai lebih dekat untuk menjalin kerjasama di bidang energi dengan Rusia. Hal tersebut karena harga minyak bumi di Rusia yang cenderung lebih murah dibandingkan dengan harga produksi dalam negeri dari negara Saudi itu sendiri. Kondisi daerah OPEC yang cenderung tidak stabil sehingga dapat mempengaruhi produksi serta cuaca yang menghambat proses  serta pengurangan produksi minyak bumi menyebabkan Amerika Serikat mengkhawatirkan kepentingan nasionalnya. Selain itu, Venezuela yang merupakan  salah satu negara dengan penghasil minyak bumi terbanyak juga sempat mengalami ketegangan dengan Amerika Serikat. Venezuela ingin terbebas dari Amerika Serikat yang terkesan mendominasi kebijakan di Venezuela terutama dalam hal produksi minyak bumi.

Hal tersebut menimbulkan berbagai permasalahan serta ketidakstabilan harga minyak yang  membuat Amerika Serikat perlu memikirkan cara lain agar dapat menciptakan kestabilan demi kepentingan nasionalnya. Salah satu usaha Joe Biden adalah dengan menyetujui willow project walaupun menuai banyak kontroversi serta kecaman dari berbagai aktor internasional. Amerika serikat yang merupakan negara super power berada pada posisi dimana tidak bisa mengontrol kebijakan negara lain sehingga berusaha untuk tidak bergantung terhadap negara manapun, terutama dalam hal pokok seperti minyak bumi.

Pada konteks ini, Amerika Serikat memiliki ketergantungan dengan Arab Saudi terkait impor minyak bumi. Kecaman dari berbagai aktor internasional dan juga aktivis lingkungan tidak membuat Amerika Serikat mengurungkan niatnya untuk membatalkan projek tersebut. Sistem internasional saat ini yang anarki menyebabkan tidak ada kekuasaan lain diatas negara serta negara setara satu sama lain, mampu menjelaskan bahwa kepentingan nasional masih menjadi hal yang utama diatas kepentingan lainnya.

Amerika Serikat memilih untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya serta berusaha untuk mempertahankan kestabilan  walaupun harus mendapatkan berbagai kecaman dari aktor internasional. Bahkan, Direktur Eksekutif Sierra Club mengatakan bahwa, willow project merupakan salah satu kegiatan pengeboran minyak terbesar di wilayah Amerika yang akan menghasilkan emisi karbon serta mengancam keberlangsungan makhluk hidup bumi selama puluhan tahun.

Kerusakan alam yang dihasilkan di masa mendatang dinilai tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan. Walaupun demikian, tindakan Amerika Serikat untuk mengamankan kepentingan nasionalnya tidak dapat dicegah walaupun mendapatkan desakan serta kecaman dari berbagai pihak.
 

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.