
Author: Andrea Ayudhia Andrizna
JurnalPost.com – Cara mahasiswa mendapatkan, mengolah, dan membuat informasi telah berubah karena kemajuan teknologi digital, terutama kemunculan AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan berbagai perangkat penulisan otomatis lainnya. Meskipun perubahan ini membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan, ia juga menimbulkan tantangan besar bagi etika berbahasa, kemampuan berpikir kritis, dan literasi akademik mahasiswa. Pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tidak lagi hanya dipandang sebagai mata kuliah dasar yang mengajarkan tata bahasa atau penulisan karya ilmiah. Sebaliknya, mata kuliah ini sangat penting untuk membangun literasi akademik, komunikasi ilmiah, penalaran logis, dan integritas akademik mahasiswa di tengah arus informasi digital yang deras.
Penggunaan AI dalam kegiatan akademik siswa meningkat, menurut penelitian terbaru. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, kecerdasan buatan telah digunakan sebagai asisten literasi akademik, menurut penelitian yang dilakukan oleh Abdulloh, Sudarmaji, dan Salamah (2025). AI membantu mahasiswa membuat argumen akademik, memperbaiki struktur kalimat, melakukan pengecekan tata bahasa, dan membuat kerangka tulisan. Studi tersebut menemukan bahwa AI dapat meningkatkan efisiensi proses menulis. Namun, hal itu dapat menyebabkan mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi jika mereka tidak memiliki pengawasan dosen dan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik. Oleh karena itu, siswa bahasa Indonesia harus dilatih untuk menguasai tidak hanya kaidah bahasa tetapi juga untuk mengevaluasi data, membuat argumen secara mandiri, dan membuat karya ilmiah yang unik.
Studi Juanda dan Azis (2025) tentang penggunaan AI dalam pembelajaran akademik juga menunjukkan fenomena serupa. Studi tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dianggap sebagai mitra belajar yang membantu mahasiswa dalam membaca dan menulis akademik dengan menyusun argumen, memperbaiki tata bahasa, dan merevisi tulisan mereka. Meskipun demikian, mahasiswa masih bingung tentang batas mana yang dapat diterima secara moral untuk menggunakan AI. Mereka percaya bahwa perguruan tinggi harus menetapkan standar yang jelas untuk memastikan bahwa penggunaan AI tidak mengganggu kemampuan berpikir kritis atau orisinalitas karya ilmiah. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan akademik mahasiswa di era digital.
Mahasiswa yang kurang literasi informasi adalah masalah lain yang dihadapi perguruan tinggi selain kemajuan AI. Semakin pentingnya kemampuan membaca secara kritis, membedakan fakta dengan pendapat, menilai kredibilitas sumber, dan menyusun argumentasi ilmiah. Sebenarnya, mata kuliah Bahasa Indonesia adalah tempat terbaik untuk mengasah kemampuan ini. Semua disiplin ilmu membutuhkan literasi akademik, yang mencakup kemampuan membaca kritis, menulis ilmiah, membuat daftar pustaka, dan menyampaikan ide secara sistematis. Studi Supriyadi dan Nasution (2024) menemukan bahwa penggunaan AI dan literasi digital secara bersama-sama meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Penelitian terhadap 155 mahasiswa menemukan bahwa penggunaan AI dikombinasikan dengan literasi digital yang baik dan pengawasan dosen akan menghasilkan hasil terbaik. Artinya, teknologi hanya dapat membantu proses pembelajaran dan tidak dapat menggantikan kemampuan berpikir mahasiswa. Kondisi ini menegaskan betapa pentingnya pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan akademik mahasiswa.
Meningkatnya praktik plagiarisme berbasis kecerdasan buatan adalah fenomena lain yang sedang berkembang. AI memungkinkan mahasiswa membuat tulisan baru dalam waktu singkat tanpa benar-benar memahami isi materi. Akibatnya, kualitas penalaran akademik menurun meskipun hasil tulisan terlihat baik secara struktur bahasa. Pengajaran Bahasa Indonesia dalam situasi seperti ini tidak cukup hanya mengajarkan teknik penulisan ilmiah tetapi juga mengajarkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab atas semua ide yang mereka tulis. Kajian literatur sistematis yang dilakukan oleh Wahyuni, Rustam, dan Priyanto (2025) terhadap 25 penelitian tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa fitur AI yang paling penting adalah meningkatkan keinginan siswa untuk belajar, memberikan umpan balik dengan cepat, dan mendukung pembelajaran yang lebih personal. Namun, penelitian tersebut juga menemukan masalah seperti literasi digital yang buruk, kekurangan infrastruktur, kekhawatiran tentang plagiarisme, dan masalah etika dengan penggunaan AI. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi pedagogis dosen dan kemampuan literasi mahasiswa sangat penting untuk penggunaan AI.
Dalam menghadapi derasnya penyebaran informasi yang salah di media digital, pengajaran Bahasa Indonesia menjadi semakin penting. Setiap hari, siswa berinteraksi dengan berbagai sumber informasi, termasuk platform AI generatif, portal berita, dan media sosial. Tidak semua informasi tersebut akademik. Tanpa kemampuan untuk membaca kritis dan mengevaluasi sumber informasi, siswa berpotensi menyebarkan informasi yang salah dan menghasilkan karya ilmiah yang tidak didasarkan pada referensi yang dapat diandalkan. Akibatnya, pembelajaran bahasa Indonesia harus memasukkan keterampilan literasi informasi, evaluasi sumber ilmiah, dan teknik argumentasi berbasis bukti. Sebaliknya, pengembangan budaya komunikasi digital juga berdampak pada seberapa baik siswa menggunakan Bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa yang singkat, penggunaan berbagai bahasa asing, penggunaan singkatan media sosial, dan kurangnya perhatian terhadap struktur kalimat akademik adalah semua hal yang semakin sering ditemukan dalam berbagai tugas mahasiswa. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan bahasa yang digunakan dalam pendidikan tinggi. Mata kuliah Bahasa Indonesia memiliki fungsi strategis untuk mengatasi perbedaan ini sehingga siswa dapat berkomunikasi secara ilmiah tanpa kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.
Enam tema utama dalam penggunaan AI generatif ditemukan dalam penelitian Sasmayunita dan Kurniawan (2025) tentang adaptasi literasi digital siswa. Ini termasuk perubahan pola belajar, peningkatan kesadaran kebahasaan, kebingungan etika, sikap institusi yang tidak seragam, peningkatan kreativitas, dan keinginan siswa untuk pedoman penggunaan AI yang jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital mengubah teknologi pembelajaran dan perilaku belajar siswa. Akibatnya, pembelajaran bahasa Indonesia harus diintegrasikan dengan pembelajaran digital, pembelajaran informasi, dan pembelajaran etika. Selain itu, pengajaran Bahasa Indonesia meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi. Dunia kerja modern semakin menuntut keterampilan komunikasi tertulis, negosiasi, penyusunan laporan, presentasi ilmiah, dan penyampaian ide. Tidak hanya lulusan bidang sosial yang membutuhkan kemampuan ini, tetapi juga lulusan bidang teknik, kesehatan, ekonomi, pertanian, dan sains. Oleh karena itu, kemampuan bahasa Indonesia menjadi kompetensi yang melintasi disiplin yang menentukan kualitas seorang profesional.
Bahasa Indonesia juga dapat digunakan untuk tujuan strategis sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Penguatan kemampuan menulis akademik akan mendorong peningkatan publikasi ilmiah nasional dan memperkuat posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah yang dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Perguruan tinggi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa karya ilmiah mahasiswa berkualitas tinggi, baik dari segi kebahasaan, argumentasi, dan etika akademik. Pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi harus direorientasikan dari sekadar pembelajaran bahasa ke arah pembelajaran literasi akademik yang menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai fenomena tersebut. Keterampilan berpikir kritis, evaluasi informasi digital, penulisan ilmiah berbasis bukti, komunikasi akademik, literasi digital, dan etika penggunaan AI semuanya harus dimasukkan ke dalam kurikulum. Dosen juga harus mengembangkan strategi pembelajaran yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu tanpa menghilangkan proses berpikir siswa.
Pada akhirnya, dengan berkembangnya teknologi digital dan kecerdasan buatan, pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi semakin penting. Mata kuliah ini bukan lagi sekadar pelengkap kurikulum; itu menjadi alat penting untuk menghasilkan lulusan yang mampu berkomunikasi secara ilmiah, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sambil tetap menjadi siswa yang berprestasi. Kemampuan manusia untuk memahami, mengkritisi, dan mengkomunikasikan pengetahuan secara moral adalah kompetensi yang paling penting di era ketika mesin dapat menghasilkan informasi dalam hitungan detik. Akibatnya, meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Referensi
Abdulloh, A., Sudarmaji, S., & Salamah, S. (2025). Pemanfaatan artificial intelligence (AI) sebagai asisten literasi akademik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 18(2), 377–386. https://jurnal.stkippgribl.ac.id/index.php/lentera/article/view/2078
Juanda, & Azis. (2025). Integrasi Artificial Intelligence dalam pembelajaran akademik: Perspektif literasi membaca dan menulis. In Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian 2025: Transformasi Sains, Teknologi dan Seni dalam Riset dan Pengabdian Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045 (pp. 940–966). LP2M Universitas Negeri Makassar. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5752907
Langi, R. S., Patiku, T., Patoding, R., Presdioyono, & Pongtasik, M. (2025). Dari berpikir ke membaca teks AI: Dampak penggunaan ChatGPT dan Gamma AI dalam tugas makalah dan presentasi terhadap nalar kritis mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, 3(10), 1420–1430. https://jutepe-joln.net/index.php/JURPERU/article/view/1079/1065
Muthmainnah, Bila, A. S., Putri, R. P., Parasati, I. C., Hayykusuma, A., Riyanti, M. D., Wijayanti, W. B., Widiastuti, L., Herlambang, T. B., Sasti, N. F., Khairunnisa, F., Afkarina, H., Rohimah, S., & Puspitasari, S. (2025). Pemanfaatan artificial intelligence (AI) bagi mahasiswa Gen Z. Widina Media Utama. https://repository.penerbitwidina.com/media/publications/620951-pemanfaatan-artificial-intelligence-ai-b-f7e67f6c.pdf
Sasmayunita, & Kurniawan, R. (2025). Adaptasi literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia: Studi pada mahasiswa di Kota Ternate. INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(3), 282–291. https://ojs.unm.ac.id/Indonesia/article/view/85700/pdf
Supriyadi, Nasution, Z., & Amalia, A. N. (2024). Teknologi artificial intelligence (AI) dan literasi digital mahasiswa terhadap hasil belajar mata kuliah evaluasi pembelajaran. Jurnal Teknodik, 28(2), 113–118. https://jurnalteknodik.kemendikdasmen.go.id/index.php/jurnalteknodik/id/article/view/1185/546
Wahyuni, R. N., Rustam, & Priyanto. (2025). Pemanfaatan artificial intelligence dalam pembelajaran Bahasa Indonesia: Systematic literature review. Dalam Prosiding Seminar Nasional AMIKOM Surakarta (SEMNASA) 2025 (hlm. 316–322). Seminar Nasional AMIKOM Surakarta. https://ojs.amikomsolo.ac.id/index.php/semnasa/article/view/944/310



