• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Urgensi Diksi yang Terabaikan dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Saat Ini

Editor Redaksi
30 Juni 2026
in Artikel

JurnalPost.com – Bagi kebanyakan mahasiswa, Bahasa Indonesia sering kali hanya dianggap sebagai mata kuliah pelengkap yang sekadar mengulang materi ejaan atau tata bahasa sejak bangku sekolah. Dalam lingkungan perkuliahan, pengajaran bahasa masih sering terjebak pada pengajaran aturan PUEBI atau struktur kalimat yang bersifat prosedural. Fokus pembelajaran di kelas lebih banyak tertuju pada bagaimana menulis sesuai kaidah atau menyusun struktur yang baku, sementara esensi dari komunikasi itu sendiri, yakni ketepatan pemilihan kata atau diksi, justru sering kali luput dari perhatian. Padahal, pemilihan kata yang tepat adalah dasar utama agar sebuah pesan dapat tersampaikan dengan efektif dan berbobot. Apabila kita tidak mampu memilih kata dengan cermat, komunikasi akan menjadi rancu, yang pada akhirnya dapat menciptakan kesalahpahaman fatal, terutama dalam penulisan tugas akademik atau keperluan profesional di masa depan.

Sebenarnya, diksi bukan sekadar urusan gaya bahasa agar tulisan tampak lebih menarik, melainkan upaya menempatkan kata sesuai dengan konteks dan makna yang sebenarnya. Seseorang yang mempunyai penguasaan diksi yang baik akan mudah dalam menyampaikan gagasannya dalam bentuk tulisan dengan kata-kata yang tepat dan mudah dipahami oleh orang lain. Pemilihan diksi yang tepat dapat berkontribusi dalam menjaga prinsip praduga tak bersalah sekaligus mengurangi risiko terbentuknya opini negatif yang prematur di kalangan masyarakat. Namun, dalam proses pendidikan di sekolah hingga bangku kuliah, diksi sering kali dianggap sepele karena dianggap sudah dikuasai secara alami oleh setiap orang. Anggapan bahwa “yang penting lawan bicara paham” inilah yang menjadi penyebab mengapa pendalaman materi diksi jarang mendapatkan porsi yang cukup. Pembelajaran sering kali hanya berorientasi pada hasil akhir berupa kalimat yang benar secara tata bahasa, tanpa mempertanyakan apakah kata yang dipilih memang paling mewakili maksud yang ingin disampaikan. Akibatnya, pemahaman mengenai cakupan makna sebuah kata sering terlupakan, sehingga banyak dari kita terjebak dalam penggunaan kata yang keliru secara terus-menerus.

Fenomena penyalahgunaan diksi ini sangat lazim ditemukan dalam keseharian, salah satunya pada kata “acuh”. Banyak orang secara keliru menggunakan “acuh” sebagai sinonim dari sikap tidak peduli atau abai, padahal menurut kamus, artinya justru peduli atau memperhatikan. Kekeliruan ini kemungkinan besar terjadi karena penggunaan frasa “acuh tak acuh” yang sering disalahartikan, sehingga masyarakat menangkap makna negatif dari keseluruhannya. Selain itu, ada pula penggunaan kata “absen” sebagai kata kerja untuk menyatakan ketidakhadiran. Faktanya, “absen” merupakan kata sifat atau kata benda. Jadi, apabila seseorang tidak hadir dalam perkuliahan, lebih tepat menggunakan frasa “tidak hadir” atau “alpa”, bukan menggunakan kata “mengabsensikan”.

Selain contoh tersebut, penyalahgunaan kata “notulen” dan “agenda” juga sering terjadi. Banyak yang mengira “notulen” adalah sebutan bagi orang yang mencatat rapat, padahal itu adalah istilah untuk hasil catatannya; orang yang bertugas mencatat disebut sebagai notulis. Sementara itu, “agenda” sering kali disalahartikan sebagai sekadar daftar acara, padahal maknanya lebih luas sebagai rencana kegiatan yang disusun. Kesalahan kecil seperti ini akan tampak mencolok jika dilakukan oleh seorang mahasiswa. Begitu pula dengan kata “nuansa” yang sering digunakan untuk menyebut suasana suatu tempat, padahal nuansa seharusnya merujuk pada perbedaan halus atau gradasi makna dan kesan.

Lebih jauh lagi, terdapat kekeliruan pada kata “bergeming” yang justru sering dianggap sebagai lawan kata dari diam. Secara etimologi, “bergeming” justru berarti diam sama sekali atau tidak bergerak, bukan sebaliknya. Kekeliruan serupa juga terjadi pada pasangan kata “masing-masing” dan “saling”. Sering kita temui kalimat seperti “kita masing-masing harus saling membantu,” yang secara semantik tidak efektif karena “masing-masing” merujuk pada individu, sementara “saling” mensyaratkan adanya interaksi. Terakhir, istilah “efektif” dan “efisien” sering dianggap memiliki makna yang sama, padahal efektif berarti mencapai tujuan dengan tepat, sedangkan efisien menekankan pada penggunaan sumber daya atau tenaga secara hemat.

Berdasarkan kondisi tersebut, kesalahan diksi ini terjadi karena pengaruh kebiasaan berkomunikasi yang serba cepat, terutama di media sosial. Di ruang digital, kecepatan dalam menyampaikan informasi sering kali lebih diutamakan dibandingkan ketepatan kata. Banyak orang menyerap penggunaan kata dari unggahan yang belum tentu benar, lalu menjadikannya standar baru dalam berkomunikasi sehari-hari. Pergeseran makna pun terjadi karena kurangnya keinginan untuk merujuk pada kamus sebagai pedoman utama. Hal ini menciptakan pola di mana kesalahan yang dilakukan secara berulang dianggap sebagai kebenaran, bahkan dalam lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi presisi bahasa. Fenomena penggunaan bahasa tidak baku ini juga memperlihatkan adanya pergeseran norma berbahasa akibat dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Dampak dari pengabaian diksi ini tentu sangat serius bagi kredibilitas seseorang. Dalam tugas akademik atau dunia profesional, diksi adalah cerminan dari ketajaman analisis seseorang. Mahasiswa yang tidak mampu memilih kata dengan tepat akan dianggap tidak memahami substansi dari apa yang ia tulis. Ketika istilah digunakan secara asal-asalan, argumen yang dibangun menjadi lemah dan kehilangan kekuatannya. Komunikasi yang tidak presisi akan membuang waktu karena harus dilakukan klarifikasi berkali-kali untuk menyamakan persepsi. Dengan demikian, kemampuan diksi sebenarnya adalah kemampuan berpikir logis. Jika seseorang tidak bisa memilih kata yang tepat, besar kemungkinan ia belum memikirkan gagasannya secara matang.

Oleh karena itu, pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi perlu melakukan reorientasi. Strategi pengajaran diksi tidak boleh lagi hanya berupa latihan mengisi titik-titik pada soal tata bahasa. Sebaliknya, pendidikan harus melibatkan analisis kritis terhadap berita, opini, atau tulisan yang sedang berkembang. Mahasiswa perlu diajak untuk membedah mengapa sebuah kalimat terasa janggal atau mengapa pemilihan kata tertentu dapat membuat sebuah pesan lebih persuasif. Latihan memperbaiki kalimat yang salah kaprah dalam keseharian, melalui diskusi kelompok atau penulisan esai, akan jauh lebih efektif dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya diksi dibandingkan sekadar menghafal definisi.

Pengajaran Bahasa Indonesia perlu menempatkan diksi sebagai aspek dalam pembelajaran. Mengetahui aturan ejaan memang penting, tetapi menguasai pemilihan kata yang tepat adalah puncak dari kemahiran berbahasa. Ketika kita mampu menempatkan kata sesuai dengan makna aslinya, kita tidak hanya menjadi komunikator yang lebih baik, tetapi juga individu yang mampu berpikir lebih tajam dan kritis. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti meremehkan diksi, karena setiap kata yang kita pilih membawa konsekuensi terhadap pemahaman kita akan dunia dan diri kita sendiri.

Penulis: Keisha Rahma Adnani

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.