• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Upaya yang Dilakukan untuk Menghindari Dampak Self- DiagnoseMelalui Media Sosial

Editor Redaksi
27 Februari 2024
in Kolom Opini
Sumber: Pinterest

Oleh: Larasati Maharani (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB)

JurnalPost.com – Self-diagnose merupakan mendiagnosis diri sendiri mengidap sebuah gangguan ataupun penyakit dalam diri yang didasarkan melalui pengetahuan pribadi maupun informasi yang diperoleh secara pribadi. Salah satu yang tidak jarang disebutkan adalah self-diagnose mengenai mental illness. Banyaknya unggahan-unggahan mengenai mental illness pada media sosial yang membuat tidak sedikit juga masyarakat melakukan self-diagnose pada masalah kesehatan yang satu itu.

Mental illness atau mental disorder yang disebut juga sebagai gangguan mental/jiwa adalah suatu kondisi dimana terjadinya perubahan perasaan, emosi, yang melibatkan kepribadian dan perilaku. Seperti yang sudah dikatakan bahwa banyaknya angka unggahan mengenai gangguan mental pada media sosial. Unggahan-unggahan tersebut kebanyakan berbicara mengenai gejala ataupun ciri-ciri seseorang mengalami/mengidap gangguan mental.

Ragam media sosial yang biasa digunakan sebagai platform unggahan mengenai gangguan mental diantaranya adalah Instagram, Twitter atau X, dan yang paling sering terlihat dan jadi bahan perbincangan adalah pada media sosial Tiktok. Pada Instagram terdapat unggahan dalam bentuk foto berisikan kata-kata mengenai tanda-tanda kesehatan mental terganggu. Lalu, pada platform media sosial Twitter atau X juga terdapat perbincangan mengenai gangguan mental. Pada tiktok kebanyakan konten mengenai gangguan mental dibuat dalam bentuk video yang mengemukakan tanda-tanda terkena gangguan mental.

Pada platform Tiktok video tepatnya di fyp (for your page), konten yang lewat terkadang bukan hanya konten yang digemari oleh penonton. Bila video yang lewat ditonton hingga habis kemungkinan video atau konten-konten sejenisnya akan sering melewati fyp (for your page) penonton. Jadi, dengan hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa konten gangguan mental dapat lewat kapan saja.

Konten pada platform Tiktok mengenai gangguan mental dapat menarik banyak audiens. Dapat terlihat jika melakukan pencarian mengenai gangguan mental di Tiktok, video-video terkait berhasil mendapatkan ratusan ribu jumlah like yang artinya banyak masyarakat yang tertarik dengan konten tersebut. Tentunya diikuti dengan reaksi-reaksi penonton pada kolom komentar yang bertanya bagaimana cara mengatasinya karena dianggap dirinya mengalami gejala-gejala gangguan mental. Selain itu, ada pula yang menyetujui dan berkata cocok sekaligus menyimpulkan bahwa dirinya terkena gangguan mental.

Tentunya terkejut melihat masyarakat dengan mudahnya mempercayai unggahan mengenai gejala gangguan mental. Padahal bentuk kontennya hanya sekedar menampilkan kata-kata dalam bentuk poin-poin. Bahkan kebanyakan dalam video mengenai gangguan mental tidak tercantum sumber yang dapat dipercaya. Tanggapan penulis mengenai hal ini, dapat dikatakan bahwa gangguan mental termasuk ke dalam masalah yang cukup serius dan ada baiknya pendapatkan penanganan. Namun haruslah dikonsultasikan kepada ahlinya, misalnya psikolog atau psikiater. Bukanlah melakukan self-diagnose dengan hanya menonton video mengenai gejala gangguan mental yang bahkan tidak tertera sumber terpercaya di dalamnya.

Tidak hanya video dengan berisikan poin-poin terkait gangguan mental. Terdapat pula video yang menunjukkkan bentuk perilaku orang dengan gangguan mental. Video yang seperti ini juga mengundang perhatian audiens. Isi kolom komentar juga dipenuhi oleh masyarakat yang merasa mengalami hal serupa.

Hal yang paling mengejutkan adalah adanya potongan-potongan video yang berkata bahwa orang dengan gangguan mental adalah orang yang keren. Lalu, selain itu cukup banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental merupakan hal yang estetik. Bahkan ada yang memamerkan bahwa dirinya memiliki gangguan mental melalui media sosial. Dengan anggapan mereka yang memperlihatkan bahwa dirinya mengidap gangguan mental akan mendapatkan empati dari masyarakat yang melihatnya. Atau bahkan bila ada yang merasakan hal serupa, yang mengidap gangguan mental menjadi merasa dirinya memiliki teman yang serupa dengannya.

Pemikiran-pemikiran seperti itu dirasa merupakan pemikiran yang tidak baik. Hal tersebut dapat mengundang masyarakat yang lain untuk melakukan hal serupa. Apalagi bagi yang melakukan diagnosis hanya dengan unggahan video Tiktok lalu memakerkan bahwa dirinya memiliki gangguan mental agar terlihat kekinian. Dengan seperti ini juga dapat memicu banyaknya Masyarakat yang melakukan self-diagnose secara berlebihan. Orang yang terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan disebut cyberchondria (Ryen W. White & Eric Horvitz, 2014)

Mendiagnosis gangguan mental hanya bermodalkan suguhan konten pada media sosial tentunya berbahaya. Hal ini dapat menimbulkan risiko kesalahan dan ketidakakuratan. Lalu, bisa saja meningkatkan keparahan pada penyakit atau bahkan menimbulkan penyakit lain. Dengan self-diagnose bahwa dirinya memiliki gangguan mental, dirinya dapat mengalami kekhawatiran yang tidak perlu. Kekhawatiran yang tidak diperlukan itulah yang nantinya akan menimbulkan penyakit, misalnya mengalami stress.

Setelah itu lama kelamaan bisa saja muncul gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan dapat terjadi dikarenakan seseorang mengalami kekhawatiran yang berlebihan akan sesuatu. Bisa saja yang tadinya tidak mengalami gangguan mental ataupun gangguan kecemasan, namun karena melakukan self-diagnose dirinya jadi mengalami gangguan mental. Maka, ada baiknya setiap penyakit haruslah dikonsultasikan atau diobati langsung pada ahlinya. Misalnya, kepada psikiater atau psikolog bukannya memastikan lewat unggahan gangguan mental yang ada di sosial media. Ada baiknya janganlah menjadi dokter untuk diri sendiri.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir self-diagnose adalah dengan membatasi diri jika masyarakat terkait belum memiliki pemahaman atau pelatihan terkait hal medis. Cobalah berpikir lebih luas self-diagnose bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Berpikirlah bahwa hal seperti ini layaknya penyakit lainnya yang harus dikonsultasikan dengan yang professional. Sebagai generasi yang akan datang kita seharusnya pintar-pintar dalam memilah informasi dengan jangan terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan. Misalnya, terkena paparan mengenai gangguan mental dan merasa bahwa dirinya mengalami hal serupa. Jika sudah seperti itu janganlah langsung menyimpulkan terkena gangguan mental. Melainkan dapat dipastikan dengan melihat sumber yang terpercaya, lalu melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut, yaitu psikolog atau psikiater.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.