• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Upaya Presiden Nicolas Maduro Untuk Mengatasi Krisis Ekonomi Venezuela

Editor Redaksi
4 Juli 2023
in Kolom Opini

Oleh: Rivaldi Maulana
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JurnalPost.com – Venezuela sedang mengalami krisis ekonomi seperti hiperinflasi, dan kelangkaan bahan pokok yang membuat negara tersebut menjadi negara terbelakang di Amerika Latin karena kinerja perekonomian yang terpuruk. Krisis ekonomi merupakan suatu keadaan atau situasi dimana sebuah negara mengalami kesulitan terhadap keuangannya yang dapat disebabkan oleh berbagai hal. Dimana hal tersebut dapat memicu terjadinya inflasi. Serta hal lain yang menjadi dampak terbesar dari terjadinya krisis adalah dimana berpengaruh terhadap pendapatan atau pendapatan domestik bruto (PDB) negaranya.

BBC melaporkan bahwa dampak pertama pelemahan dan krisis ekonomi negara ini adalah tingkat inflasi yang terus meningkat. Menurut sebuah studi oleh Majelis Nasional yang dikendalikan oleh pihak oposisi Negara ini bahwa tingkat inflasi tahunan negara mencapai 1.300.000% dalam 12 bulan hingga November 2018 sehingga menyebakan harga kebutuhan pokok naik rata-rata dua kali lipat setiap 19 hari. Selain itu, nilai tukar mata uang bolivar juga terus melemah dari awalnya US$ 1 untuk 200 bolivar pada tahun 2018, namun saat ini untuk US$ 1 hanya dapat 1.600 bolivar.

Krisis yang dialami oleh Venezuela ini terjadi pada masa kepemimpinan presiden Maduro menerapkan sistem ekonomi yang bersifat ekonomi campuran yakni dilakukan dengan cara menerapkan penetapan harga terhadap kebutuhan bahan pokok yang dilakukan oleh pemerintah Venezuela. Akan tetapi penerapan kebijakan ini justru memperburuk perekonomian dalam negeri karena tidak didukung dengan cadangan devisa yang cukup. Akibatnya, menimbulkan fenomena pasar gelap yang semakin sulit dikendalikan dan menjadi permasalahan baru di Venezuela.

Hiperinflasi menyebabkan banyak penduduk yang melarikan diri ke negara tetangga. Menurut PBB dan Uni Eropa dilansir dari Reuters menyatakan penduduk Venezuela yang eksodus ke luar negeri mencapai 5 juta orang sejak tahun 2015. Negara tujuan para migran meliputi Kolombia, Brazil, Equador, Argentina, Chile, Peru, Spanyol hingga warga yang lebih kaya memilih pindah ke Amerika Serikat dan Kanada membuat pemerintah Venezuela semakin kewalahan dengan dampak krisis ekonomi yang terjadi. Barang-barang pokok semakin sukar didapat, sementara harga terus naik. Selain disebabkan oleh faktor tersebut, krisis di negara Venezuela juga disebabkan oleh langkanya harga minyak dunia sehingga berdampak pada pendapatan nasional Venezuela yang hampir seluruhnya bergantung pada industri perminyakan di negara tersebut. Sehingga, satu tahun setelah terpilihnya Maduro, yakni tahun 2014, Venezuela mengalami suatu keadaan krisis ekonomi.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi yaitu pemerintah kini fokus melakukan diverifikasi ekonomi dengan tidak hanya mengandalkan komoditas minyak saja tetapi sedikitnya terdapat 15 motor penggerak lainnya yang ikut dijadikan penggerak roda perekonomian Venezuela. Beberapa motor penggerak ekonomi Venezuela antara lain yaitu farmasi, industri, petrokimia, pariwisata, telekomunikasi, hingga pertanian. Kemudian perkebunan Venezuela juga tidak kalah unggul dimana antara lain yaitu cokelat, kopi, tebu, hingga tembakau.

Selain itu juga pemerintah Venezuela saat ini sedang berupaya kerasa untuk dapat mengembalikan stabilitas harga pangan di negaranya. Dimana pemerintah Venezuela sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi krisis ekonomi di negaranya, salah satunya dengan menggelontarkan sebagian besar anggaran negaranya bagi pemenuhan kebutuhan pangan. Kemudian juga pemerintah Nicolas Maduro akan mendongkrak volume produksi minyak bumi yang memegang menjadi andalan perekonomian Venezuela selama ini. langkah lainnya yaitu pemerintah Venezuela dengan mengembangkan mata uang virtual. Maduro telah menetapkan mata uang negara mereka menjadi petro, yang juga merupakan cryptocurrency dengan nilai yang disesuaikan dengan harga minyak Venezuela per barrel (sekitar 60 dollar AS). Namun, mata uang digital tersebut juga kurang sukses lantaran didiskreditkan oleh komunitas global.

Penanganan krisis ekonomi yang terlalu lambat dan kebijakan yang salah dengan menghadirkan mata uang baru justru menjadi blunder dan permasalahan justru semakin bertambah parah. Redenominasi yang dilakukan negara produsen minyak itu dianggap tidak bisa mengatasi akar permasalahan negara, yakni inflasi yang luar biasa tinggi alias hiper inflasi. Kebijakan uang kertas baru itu diresmikan Presiden Nicolas Maduro untuk mengganti nama mata uang bolivar lama dan merevaluasi nilainya. Maduro mengklaim kebijakan tersebut bertujuan mengatasi inflasi yang terus melonjak dan mengatasi krisis ekonomi. Akan tetapi kebijakan itu justru menjadikan krisis menjadi lebih parah. Mata uang baru ini memotong nilai mata uang lama yang disebut “bolivar perkasa” dengan lima angka nol atau per ratus ribu; 1 juta bolivar lama dihargai dengan 10 bolivar baru.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro meminta bantuan China untuk mengatasi masalah ekonominya. Nicolas Maduro dalam hal ini mengunjungi Beijing, dimana dirinya mengadakan perundingan dengan Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang dan juga terkait dengan kesepakatan di bidang energi, perdagangan dan keuangan. Tepatnya pada 14 September Venezuela menjalani hubungan bersama dengan China dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi. Dimana kesepakatan ditandatangani yang meratifikasi kesepakatan pembangunan bersama, penanaman modal, ratusan juta investasi untuk merealisasikan pembangunan perusahaan bersama antara kedua negara.

Negara-negara Amerika Latin juga menyerukan dunia internasional untuk memberikan bantuan kepada jutaan pengungsi Venezuela yang melarikan diri dari negaranya karena krisis ekonomi. Dimanaya sebanyak 11 negara yang terdiri dari Argentina, Brasil, Ekuador, Kosta Rika, Kolombia, Cile, Meksiko, Panama, Paraguay, Peru, dan Uruguay juga menandatangani deklarasi di ibu Kota Ekuador Quito yang menyerukan perlunya peningkatan perhatian untuk mengatasi eksodus warga Venezuela. Delegasi negara-negara tersebut kemudian bertemu di Quito untuk membentuk tim teknis guna untuk mengatasi krisis pengungsi Venezuela. Dimana mereka juga menyerukan peningkatan bantuan bagi warga Venezuela oleh negara-negara Amerika Latin dan dunia internasional termasuk ke PBB.

Referensi
Adrianti, S. (2020). Kebijakan Presiden Nicolas Maduro Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi di Venezuela. Indralaya: Universitas Sriwijaya.
Kunkunrat, A. P. (2021). Dinamika Politik dan Pemerintahan Venezuela di Bawah Kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro. JURNAL TRANSBORDERS, 4.
Nuryanti, S. (2019). Strategi Kebijakan Pemerintah Venezuela di Tengah Krisis. Sospol: Jurnal Sosial Politik, 5.
Sindo, K. (2018, Agustus). Belajar dari Krisis Ekonomi yang Melanda Venezuela. Indonesia.
Suastha, R. D. (2018, Maret). Mencalang Penyebab Kritisnya Ekonomi Venezuela. Indonesia . Diambil kembali dari https://www.cnnindonesia .com/internasional/20180313043920-134-282482/mencalang-penyebab-kritisnya-ekonomi-venezuela

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.