
Oleh : Fatimatus Zahro -Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost.com – Bagaimana keserakahan tukang parkir di Surabaya? Nampaknya begitu ramai sebagai perbincangan warga kota Surabaya akibat tukang parkir yang ada di setiap tempat dan setiap sudut kota Surabaya, biasanya biaya parkir di kota Surabaya berkisar 3000 untuk pengguna motor dan 5000 untuk mobil, sangat lumayan untuk penghasilan tukang parkir setiap motor dan mobil ketika singgah di tempat tersebut. Mereka bekerja dan menjaga tempat tersebut sehari full tanpa celah, Tukang parkir memang sangat di butuhkan di tempat-tempat tertentu yang sekiranya letak motor ketika kita tinggal ke tempat tujuan luamayan jauh, atau sekedar coffeshop untuk nongkrong, dan di tempat-tempat lain yang membutuhkan singgah dengan waktu yang lama, sehingga kendaraan rawan hilang, disitulah pemanfaatan tukang parkir dalam melaksanakan tugasnya, mengingat kota ini tidak aman kendaraan-kendaraan di biarkan tergeletak dengan waktu lama tanpa ada yang menjaga.
Letak kejengkelan warga beberapa yang ditemui terkadang tukang parkir yang hanya meminta upah namun enggan untuk bekerja seperti mengeluarkan sepeda dan berkontribusi menyebrangkan pengendara yang sudah singgah di tempat tersebut. Hal itu membuat jengkel ketika tidak ada kesadaran dari tukang parkir tersebut. Pengalaman pribadi salah satu tukang parkir yang menjaga tempat di Surabaya sampai membawa istrinya untuk ikut menjaga bagian wilayah yang biasnya di tempati sedangkan suaminya menjaga tempat sebelah untuk meraup penghasilan yang banyak, bisakah tukang parkir tersebut di katakan ilegal karna tidak memiliki surat izin dari pemerintah setempat, atau di anggap legal-legal saja karna itu hanyalah profesi tukang parkir? Bahkan hal demikian tidak bnyak di perhatikan aparat-aparat yang berwajib.
Adanya tukang parkir di indomaret membuat sepi pengunjung.
biasanya yang paling tercengang yaitu di indomaret yang sudah di labeli dengan tulisan “Gratis parkir” masih saja di tempati tukang parkir untuk mencari penghasilan, padahal mereka tau jelas benner terpampang besar di tembok indomaret, pengalaman saya ketika pergi ke indomaret setelah melakukan pembayaran, kasir memberikan peringatan kepada pembeli bahwa pembelian sudah termasuk dana parkir, di tegaskan untuk tidak memberikan uang parkir lagi sekalipun dimintai. Hal itu menandakan bahwa tak hanya warga pengunjung saja yang kesal tetapi pemilik atau petugas tempat tersebut juga sangat jengkel terhadap tukang parkir. Namun ada beberapa indomaret yang bebas dari tukang parkir karna ketegasan oleh pemilik indomaret atau petugas indomaret tersebut sehingga tempat-tempat ini selalu ramai pengunjung dan menggiring pengunjung lainnya lebih memilih singgah disana dari pada tempat yang ada tukang parkirnya, begitupun biasanya tukang parkir menarik harga 3000 untuk biaya parkir, ketika hendak ke indomaret dan membeli sesuatu jangka waktu yang sebentar dan pengunjung memberikan biaya parkir 2000 terkadang di tolak dan tetap bersikeras meminta 3000.
Tukang parkir meminta biaya parkir kepada driver online
Herannya pengalaman pribadi ketika sedang memesan makanan online di beberapa aplikasi termasuk gojek sering kali driver tersebut di mintai biaya parkir, sehingga driver meminta ganti biaya tersebut kepada kita yang memesan makanan, padahal saat kita memesan makanan sudah tertera berbagai biaya tambahan mulai dari biaya penanganan, biaya ongkir. Kita tetap terkena imbasnya, sebagai mahasiswa juga sangat kesal, atau bahkan tidak mahasiswa saja yang jengkel, bukan apa, karna terkadang ketika ingin memesan tentunya sudah mengobrak-abrik diskon untuk mendapatkan harga murah. harusnya semua itu bisa di atasi oleh para peimilik tempat memberikan kebijakan tukang parkir agar tidak meminta biaya kepada para driver-driver online atau kesadaran tersendiri dari para tukang parkir tersebut. Karna beberapa tempat di Surabaya sudah bebas parkir untuk para driver online.
Kurangnya kesadaran tukang parkir membuat warga disurabaya sangat jengkel, mereka berada di tempat-tempat yang seharusnya tidak di tempati untuk meraup keuntungan yang lebih besar, harusnya mereka melihat kondisi dan posisi di mana yang harus di tempati dan tidak, sekaligus masih banyak tukang parkir di Surabaya bagian toko-toko dan tempat yang tidak begitu mewah, mereka tidak menggunakan rompi khusus, kebanyakan hanya memakai baju sehari-harinya. tukang parkir yang menempati di depan warung-warung dan minimarket membuat warga resah hingga akhirnya membuat mereka kadang enggan untuk pergi ke toko tersebut dan memilih tempat lain, lalu bisakah kita menyebut tukang parkir sebagai penghambat rezeki? Ketika pengunjung sebuah toko yang akhirnya memutuskan tidak jadi membeli di toko tersebut akibat adanya tukang parkir.



