• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Tradisi Ma-Apam Kajai: Kearifan Lokal yang Terus Hidup di Nagari Kajai, Pasaman Barat

Editor Redaksi
2 Februari 2026
in Berita

Penulis: Mahasiswa KKN Kajai Universitas Andalas Periode I, 2026

JurnalPost.com – Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, memiliki tradisi unik yang masih lestari hingga kini, yakni Ma-Apam. Tradisi ini merupakan kegiatan memasak dan membagikan makanan khas berupa apam sejenis kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan yang dilaksanakan masyarakat setempat setiap bulan Rajab dalam rangka memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Ma-Apam tidak sekadar tradisi kuliner, melainkan juga menjadi ruang kebersamaan warga. Kegiatan ini biasanya diisi dengan memasak apam secara gotong royong, pengajian, serta tausiyah keagamaan yang menekankan nilai-nilai keislaman dan kebersamaan sosial.

Keterangan foto: Tradisi Ma-Apam di Nagari Kajai yang melibatkan partisipasi masyarakat secara gotong royong (Dokumentasi Tim PDD KKN Kajai Reguler 1 Universitas Andalas, 2026).

Sejarah dan Keunikan Tradisi Ma-Apam
Secara historis, tradisi Ma-Apam telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Nagari Kajai sejak masa lalu. Berdasarkan cerita lisan yang berkembang, apam dulunya dibuat oleh para orang tua sebagai hidangan penyambut masuknya bulan Rajab, yang diyakini sebagai bulan istimewa dan penuh keberkahan. Apam kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, serta jamaah yang hadir dalam kegiatan keagamaan sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.

Menurut Bapak Vero, selaku Kepala Jorong Nagari Kajai, Ma-Apam menjadi sarana penting dalam mempererat hubungan sosial masyarakat. “Ma-Apam bukan hanya soal memasak apam, tetapi juga tentang kebersamaan dan silaturahmi warga nagari,” ujarnya.

Keunikan Ma-Apam di Nagari Kajai terletak pada waktu pelaksanaannya yang hanya dilakukan pada bulan Rajab. Hal ini membedakannya dengan tradisi pembuatan apam di daerah lain yang tidak terikat pada waktu tertentu. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional, mulai dari pencampuran bahan hingga penyajian kuah apam berbahan santan, gula aren, dan daun pandan.

“Apam ini kami buat bersama-sama dari pagi. Resepnya masih sama seperti yang diajarkan orang tua dulu, dan biasanya baru dibuat saat bulan Rajab. Selain untuk dimakan bersama, apam ini juga kami bagikan ke tetangga sebagai bentuk syukur,” ujar dr rice, salah seorang warga Nagari Kajai yang rutin terlibat dalam pembuatan apam.

Sumber : Dokumentasi Tim PDD KKN Reguler 1 Universitas Andalas, 2026

Gotong Royong sebagai Pengikat Silaturahmi
Pelaksanaan Ma-Apam melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga warga nagari secara menyeluruh. Ketua Da’i berperan dalam memimpin doa bersama dan menyampaikan tausiyah, sementara pemuda nagari aktif membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan lintas generasi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong sekaligus menjadi sarana regenerasi budaya.

Kegiatan memasak yang dilakukan secara bersama-sama menciptakan ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Dalam suasana sederhana tersebut, Ma-Apam menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat Nagari Kajai.

Makna Filosofis Tradisi Ma-Apam
Di balik kesederhanaannya, tradisi Ma-Apam mengandung makna filosofis yang mendalam. Apam dipandang sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Proses pembuatannya yang dilakukan secara kolektif merepresentasikan nilai gotong royong dan semangat saling membantu yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat nagari.

Secara historis, Ma-Apam pada awalnya dilaksanakan dalam kegiatan wirid dan pengajian sederhana di surau atau masjid. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi kegiatan yang lebih terbuka dan melibatkan masyarakat luas tanpa menghilangkan makna awalnya. Perkembangan tersebut justru memperkuat identitas budaya Nagari Kajai sebagai komunitas yang menjunjung tinggi perpaduan nilai adat dan nilai religius.

Hingga kini, Ma-Apam tetap menjadi tradisi yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perubahan sosial dan budaya, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sosial masyarakat Nagari Kajai.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.