• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Tradisi Berburu Takjil Menjadi Ramai Diperbincangkan Berbagai Macam Agama, ‘Wajah Asli Indonesia Adalah Keberagaman’

Editor Redaksi
30 Maret 2024
in Kolom Opini
Sumber : Platform Tiktok

Oleh : Putri Yunitasari Susanto

JurnalPost.com – Tradisi berburu takjil merupakan tradisi yang sudah menjadi budaya dan terjadi saat bulan Ramadhan tiba, kegiatan berburu takjil ini umumnya dilakukan pada saat sore hari menjelang berbuka puasa di Indonesia. Bulan Ramadhan ialah bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat muslim, karena bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dimana banyak orang berlomba-lomba untuk memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan guna mengais pahala saat bulan Ramadhan tiba. Memberi sedekah bukan hanya hal yang kerap dilakukan pada saat bulan Ramadhan tiba, Takjil juga menjadi bintang utama saat bulan Ramadhan. Takjil sendiri berasal dari kosakata bahasa Arab yakni ajila atau dapat disebut menyegerakan, dimana memiliki makna untuk segera membatalkan puasa atau dapat pula dimaknai dengan makanan pembuka untuk membatalkan puasa.

Pada saat bulan Ramadhan, berjualan dan berburu takjil merupakan hal yang wajib dan sudah melekat menjadi budaya bagi warga negara Indonesia. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Indonesia memiliki sebuah kebiasaan membatalkan puasa dengan makanan pembuka yakni berbagai macam kudapan ringan dari yang manis, pedas hingga gurih. Takjil pun diperjual belikan tidak hanya bagi umat beragama muslim saja, namun umat beragama lainnya pun boleh menjual atau membeli takjil yang ada. Hal tersebut pun banyak dibuat konten parodi yang lucu dan menghibur banyak orang di media sosial, pasalnya perburuan takjil zaman sekarang pun sangatlah ketat dimana umat beragama muslim dan umat beragama lain ramai memborong takjil yang diperjual belikan. Berbagai tanggapan serta respon positif dari masyarakat terkait maraknya pemborongan takjil hingga diberi istilah ‘Perburuan Takjil Mencapai Ranah Lintas Agama’, hal tersebut dikarenakan banyaknya cuitan konten di media sosial masyarakat beragama muslim terkait kehabisan takjil saat ingin membeli takjil dikarenakan masyarakat beragama non muslim ternyata sudah memburu dan memborong takjil lebih awal daripada masyarakat yang beragama muslim.

Saya sendiri merupakan seorang non muslim dengan agama Katolik, dan memang benar adanya bahwa saya ikut menanti-nantikan takjil saat bulan Ramadhan tiba karena saya memang orang yang doyan ‘njajan’ dan pada saat bulan Ramadhan di dekat rumah saya banyak sekali stand-stand penjual takjil sehingga membuat saya kalap dan ikut semangat berburu takjil setiap sore. Saya sendiri kurang tahu menahu terkait jam paten untuk berbuka puasa jam berapa, namun saya selalu konsisten untuk berburu takjil di jam tiga sore karena pada jam tersebut takjil masih fresh atau dapat dikatakan masih ‘anget’ untuk dibeli. Dan hal yang saya lakukan juga banyak dilakukan oleh masyarakat non muslim yang lain, mereka memang konsisten berburu takjil mulai jam 2 hingga 3 sore dengan alasan yang sama. Oleh karena banyak masyarakat beragama non muslim yang mulai berburu takjil lebih awal dibandingkan dengan masyarakat beragama muslim membuat cuitan – cuitan ‘Perburuan Takjil Mencapai Ranah Lintas Agama’ menjadi semakin ramai diperbincangkan dan viral di berbagai platform media sosial.

Respon positif yang saya lihat terkait perburuan takjil lintas agama ini seketika membuat saya terenyuh dan terharu, bagaimana melihat keberagaman dan perbedaan agama bukanlah penghalang besar bagi masyarakat Indonesia. Karena pada dasarnya, wajah asli Indonesia Raya adalah ‘Keberagaman’ yang sangat beraneka ragam mulai dari Agama, Suku, Ras hingga Budaya. Bulan Ramadhan zaman sekarang sudah beda dengan zaman bahula dimana masyarakat non muslim sangat terasa sekali perbedaan minoritasnya, zaman sekarang bulan Ramadhan malah menjadi jembatan untuk masyarakat Indonesia mempererat hubungan melalui senda gurau seperti perburuan takjil lintas agama yang saat ini sedang terjadi.

Saya sangat senang melihat bagaimana perubahan yang dilakukan anak muda zaman sekarang, termasuk penekanan isu minoritas dan mayoritas di Indonesia. Menurut saya peran anak muda memanglah sangat penting, karena mindset yang mereka miliki jauh lebih maju dan rasional ketimbang pada kaula tua yang cenderung bersikap dan bertindak sesuai kondisi lingkungan tempat mereka besar. Sebagai seorang Katolik tentunya saya senang dapat menjadi bagian dari perburuan takjil di bulan Ramadhan bersama saudara – saudara muslim yang lain, karena selain memberi serta melancarkan rezeki pedagang takjil, hal ini juga mempererat rasa toleransi persaudaraan seluruh masyarakat Indonesia. Semoga dengan fenomena perburuan takjil lintas agama yang sedang terjadi saat ini menjadi benang merah yang memberantas perpecahan dan memperkuat rasa toleransi serta hubungan persaudaraan seluruh masyarakat Indonesia, dengan harapan tidak hanya pada bulan Ramadhan namun pada setiap waktu yang ada seluruh masyarakat indonesia meminimalisir sikap intoleran dan memupuk sikap persaudaraan sehingga menciptakan lingkungan yang rukun dan toleransi.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.