
JurnalPost.com – Tari topeng merupakan salah satu kesenian yang berasal dari cirebon. Sama dengan nilai-nilai kesenian lainnya, tari topeng mempunyai nilai historis, cerita, dan filosofisnya. Ciri khas yang terdapat dalam tari topeng ini yaitu setiap penari menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Setiap topeng yang digunakan mempunyai ciri khas tersendiri, hal ini yang menambah keunikan dari topeng itu sendiri. Dalam pertunjukannya, setiap penari kesenian ini mengenakan sebuah topeng. Topeng Cirebon itu terbuat dari kayu yang cukup lunak, yaitu ‘kayu jarang’.
Dalam pembuatannya, sang pengrajin sangat membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Sebab, proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, yaitu setidaknya satu hari. Dalam pementasan Tari Topeng Cirebon, dikenal lima Topeng Cirebon yang juga disebut Topeng Pancawanda. Kelima topeng tersebut adalah Panji, Samba (Pamindo), Rumyang, Patih (Tumenggung), dan Kelana (Rahwana). Setiap topeng tersebut juga memiliki maknanya masing-masing. Panji berwajah putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir dan perawakan Sang Hyang Tunggal. Samba melambangkan anak-anak yang ceria, lucu, dan lincah.Rumyang menggambarkan remaja. Patih melambangkan orang dewasa yang berwajah tegas, memiliki kepribadian yang kuat, serta bertanggung jawab. Terakhir, Kelana menggambarkan seseorang yang sedang marah.
Sejarah dan Asal-Usul Tari Topeng
Tari topeng ini muncul pada abad 10 hingga 16 Masehi. Pada masa Kerajaan Jenggalan dengan pemerintahan dipimpin oleh Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, tarian ini masuk ke Cirebon lewat seniman jalanan. Dari sinilah muncul perpaduan budaya hingga akhirnya melahirkan Tari Topeng khas Setelah Islam masuk, seni tari ini juga ikut terpengaruh. Pada masa Sunan Gunung Jati tepatnya pada tahun 1470, Cirebon dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Sunan Gunung Jati kemudian menggunakan tari topeng tersebut sebagai media untuk mengenalkan agama Islam. Tak hanya itu, mereka juga menggunakan tari topeng sebagai media hiburan di lingkungan keraton. Tari ini juga menjadi pedoman dan dasar dari terbentuknya tarian lain seperti Tari Topeng Panji, Tari Topeng Rumyang, Tari Topeng Kelana, dan lainnya.
Nilai Historis Pada Tari Topeng
Awal mulanya, pertunjukan tari topeng hanya dilakukan di lingkungan keraton saja. Namun seiring berkembangnya waktu, tarian tersebut juga digelar untuk masyarakat umum sebagai sarana hiburan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tari topeng juga digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Oleh karena itu, tari ini dikemas menjadi sebuah pertunjukan yang mengandung nilai filosofis dan juga lebih berwatak. Pengemasan tarian ini bertujuan untuk menggambarkan ketakwaan manusia dalam beragama, yang bermakna sebagai berikut: Makrifat atau Insan Kamil merupakan tingkatan tertinggi di kehidupan manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama. Hakikat merupakan sebuah gambaran tentang manusia berilmu. Sehingga mereka sudah memahami tentang hak seorang hamba dan Tuhan Sang Pencipta. Tarekat merupakan penggambaran manusia yang sudah hidup dan menjalankan agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Syariat merupakan gambaran manusia yang telah memasuki dan juga mengenal ajaran Islam.
Perlengkapan Tari Topeng
Selain memiliki sejarah yang menarik, tarian tradisional ini juga memiliki kelengkapan atau properti tari yang wajib dikenakan oleh penari saat melakukan pertunjukan. Properti yang digunakan dalam Tari Topeng di antaranya: Topeng Kupluk Anting Sumping Baju kurung Sampur Mongkron Keris Gelang tangan Gelang kaki Celana berbentuk segitiga Ikat pinggang Mahkota Selendang.
Disusun Oleh Kelompok 2
Putri Fadilla 2108302081
Lina Maulidiyah 2108302083
Afifa Fikriyah 2108302090
Ahmad Ja’far Shodiq 2108302087
Salma Ainul faatin 2108302098
Aulia Nurul Hanifah 2108302103
Rai Muhammad Rafli 2108302113



