
JurnalPost.com – Seperti yang kita ketahui manusia telah diciptakan dengan memiliki dua gender yaitu laki- laki dan perempuan. Gender merupakan faktor utama yang menyebabkan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan namun, Sebagian besar dari perbedaan ini sebenarnya merupakan hasil dari proses sosial dan kultural. Sejak awal abad, banyak aktivis gender dan komunitas, baik laki- laki maupun perempuan yang menyatakan hak-haknya sebagai bentuk kesetaraan gender. Jika kita menengok ke masa sebelumnya adanya kesataran gender, masyarakat pada masa itu selalu memandang laki-laki sebagai sosok yang kuat dan berkuasa. Perubahan dan pergeseran budaya yang kini menjadi semakin penting mendorong ketidakstabilan kesetaraan gender di masyarakat.
Gender berkaitan dengan peran, perilaku, identitas yang dikaitkan dengan manusia sedangkan, jenis kelamin umumnya merujuk pada karakteristik biologis seseorang. Identitas gender untuk laki-laki biasanya dikenal dengan sebutan maskulinitas dan untuk perempuan disebut dengan feminitas. Karakteristik seorang maskulin dipercaya memiliki sifat seperti macho, berani, pemimpin, tidak lemah, ambisius, agresif, tegas, dan athletic. Sebagai konstuk sosial maskulinitas sangat dipengaruhi budaya, sehingga nilai-nilai maskulinitas bisa berbeda antara suatu tempat dengan tempat yang lainnya. Di Indonesia, nilai-nilai tersebut terasa sangat kental sekali, bahkan telah ditanamkan ketika seseorang anak laki-laki baru lahir.
Situasi sosial yang beragam dan berubah-ubah menghasilkan bahwa maskulinitas ini bukanlah satu-satunya sifat, tetapi plural. Media juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk persepsi kita mengenai peran gender, termasuk gagasan tentang maskulinitas dan feminitas. Penggambaran laki-laki dan perempuan di media, termasuk iklan, film, acara televisi, dan media sosial, sering kali menampilkan gambaran yang standar dan stereotip. Ketika kita melihat karakter laki-laki yang selalu kuat, mandiri, bahkan agresif, sedangkan pada karakter perempuan dilihat pada baik hati, emosional, dan penuh kasih sayang, tanpa kita sadar hal tersebut telah menyerap norma-norma.
Dalam situasi lain, laki-laki yang bergaya feminin ini dianggap tidak pantas pada saat pantas berkumpul dengan laki-laki, sehingga mereka diasingkan atau dibedakan. Dalam budaya maskulinitas tradisional. Pria dipaksa tetap tangguh, mereka dilarang menunjukkan kelemahan yang membuat mereka cenderung menyembunyikan perasaan mereka. Ketika banyak pria merasa terbebani, mereka memilih untuk tidak mengungkapkan masalah emosional mereka atau mencari bantuan. Maskulinitas yang sehat mengakui bahwa pria juga memiliki hak untuk mengekspresikan perasaan mereka, mencari dukungan ketika membutuhkanya, dan tidak harus selalu memenuhi ekspetasi orang lain. Beberapa pria memiliki minat atau hobi yang lebih tradisional dianggap seperti feminine, seperti memasak, merajut atau berkebun, sering kali dianggap kurang maskulin di dalam budaya patriarki.
Apa bentuk-bentuk baru maskulinitas yang muncul di era modern, dan bagaimana penerimaan masyarakat terhadap bentuk-bentuk tersebut? Pria modern saat ini lebih nyaman merawat diri termasuk menggunakan produk skincare, mengikuti rutinitas perawatan dan peduli terhadap penampilan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa merawat diri pada pria lebih diterima dan dipandang positif. Perawatan diri tidak dianggap lagi sebagai hal yang tabu bagi pria, melainkan ini merupakan cara lain untuk mencintai diri sendiri. Dengan berpakaian gaya yang stylish adalah salah satu cara menciptakan identitas yang mencerminkan rasa percaya diri, kreativitas, dan kebebasan dalam berekspresi.
Selanjutnya para pria lebih memilih cara yang lembut dan damai untuk menyelesaikan konflik dan membangun hubungan. Indikator maskulinitas yang dianggap tegas telah mengalami perubahan dan beberapa pria menganggap hal tersebut kurang “jantan”. Hal ini termasuk kedalam toxic masculinity karena dalam konteks ini, toxic masculinity merujuk pada standar sosial yang mengharuskan lelaki kekuatan, ketangguhan dan menghindari sifat- sifat kelemahan emosional. Pria yang dianggap kurang maskulin seringkali mencerminkan pergeseran positif dalam cara memahami maskulinitas.
Pria modern cenderung mendukung kesetaraan gender dalam kehidupan rumah tangga dengan siap berbagi peran dalam hubungan dan keluarga. Mereka tidak mendukung peran yang setara dengan pasangannya termasuk merawat anak dan membersihkan rumah. Penerimaan terhadap bentuk maskulinitas ini semakin diterima, terutama di kalangan anak muda. Norma-norma maskulinitas tradisional biasanya memiliki akar budaya yang kuat, sehingga perubahan dalam persepsi mengenai maskulinitas sering kali menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa faktor utama yang menjadi penghambat perubahan antara lain:
1. Kesulitan mengubah persepsi yang telah lama tertanam.
Karena sudah lama tertanam, norma-norma ini sering kali dianggap sebagai bagian dari “kebenaran” atau hal yang dialami, sehingga sulit untuk diubah.
2. Ketakutan akan hilangnya identitas atau tradisi.
Dengan membangun pemahaman bahwa maskulinitas tidak harus bersifat kaku dan dapat menyesuaikan diri dengan nilai-nilai modern tanpa harus kehilangan budaya.
3. Penolakan dari kelompok-kelompok konservatif.
Mereka biasanya beranggapan bahwa perubahan pada norma gender, termasuk maskulinitas adalah sesuatu yang merusak tatanan sosial yang ada. Dengan
melibatkan diskusi antarbudaya dan generasi dapat membantu mengembangkan perspektif yang lebih inklusif sambil mempertahankan prinsip konservatif.
Tantangan di era modern adalah bagaimana cara mengatasi norma-norma maskulinitas yang kaku dan mengembangkan pandangan yang lebih inklusif mengenai identitas gender. Dengan membuka ruang diskusi dan representasi yang lebih beragam di media, maskulinitas dapat berkembang menjadi sebuah konsep yang lebih fleksibel dan mencerminkan keberagaman individu. Tantangan maskulinitas modern pada akhirnya bermuara pada upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendukung kebebasan berkespresi tanpa batasan gender tradisional sehingga setiap individu merasa diterima apa adanya.
Penulis:
Dhea Ayu Puspitasari seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Saat ini saya sedang menempuh mata kuliah Komunikasi Gender dibawah bimbingan Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.
Daftar Pustaka:
Hermawan, Irfan dan Hidayah Nur. (2023). Toxic Masculinity dan Tantangan Kaum Lelaki Dalam Masyarakat Indonesia Modern. Yogyakarta: Dimesia: Jurnal Kajian Sosiologi.
Saputra, Rizal Eko & Dwiningtyas. Representasi Maskulinitas dan Feminitas Pada Karakteristik Perempuan Kuat dalam Serial Drama Korea.
Wandi, Gusri. (2015). Rekonstruksi Maskulinitas: Menguak Peran Laki-Laki Dalam Perjuangan Kesetaraan Gender. Padang: Jurnal Ilmiah Kajian Gender Vol. V No. 2
Narazelda Tavita. “ Evolusi Maskulinitas dalam Era Fleksibilitas Gender”
https://kumparan. com/tavita-narazelda/evolusi-maskulinitas-dalam-era-fleksibilitas-gender- 22eIbENFd33/full diakses pada kamis 07 November 2024.



