• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Tanggapan Pemerintah Quebec terhadap Aksi Penembakan Massal tahun 2017

Editor Redaksi
4 Juli 2023
in Kolom Opini

Oleh: Ocha Yolanda, Mahasiswa UIN Jakarta

JurnalPost.com – Terorisme bukan suatu hal yang baru bagi Kanada. Semenjak munculnya kasus 11 September 2001 menganai terorisme menjadi titik awal perubahan dunia dalam melihat ancaman serta permasalahan terorisme. Kanada pernah menjadi salah satu korban dari serangan terorisme, tanggal 29 juni 2017, telah terjadi penembakan massal di Centre Culterel Islamique de Quebec. Penembakan massal terjadi di sebuah masjid, dipinggiran Kota Quebec Kanada. Quebec merupakan kota Indah yang mempunyai tigkat kejahatan yang rendah. Kejadian ini terletak di dekat Universita Laval yang dimana mempunyai banyak mahasiswa Internasional dari Prancis serta Afrika yang mayoritas muslim. Dari tahun 2016, selama bulan Ramadhan masjid ini disebut masjid pidana kebencian yang dimana saat itu terdapat kepala babi yang ditinggalkan diluar masjid. Quebec merupakan kota yang sulit dalam mempertahanan identitas sekuler nya dan Quebec merupakan salah satu kota Indah yang mempunyai tigkat kejahatan yang rendah.

Penembakan ini bermula dari dua orang pria bersenjata menembakan pelurunya setelah sholat Isya usai di Quebec. Penembakan ini menyebabkan enam orang tewas dan terdapat delapan orang yang terluka, para korban adalah seorang muslim yang memang sedang beribaha di masjid tersebut. Pelaku melarikan diri dan tidak lama kemudian ditangkap oleh polisi. Pelaku bernama Alexandre Bissonnette yang dimana mempunyai pandangan ekstrimis dan anti imigran. Pelaku mempunyai kemencian tersendiri terhadap muslim dan imigran.
Alexandre Bissonette akhirnya di dakwa dengan tuduhan pembunuhan dan upaya pembunuhan, tahun 2018, Alexandre Bissonnete dihukum seumur hidup tanda adanya kemungkinan untuk mendapatkan kesemoatan pembebasan bersyarat selata 40 tahun. Kejadian ini membuat Kanada menjadi khawatir dan juga menyebabkan kecaman yang luas terhadap tindakan kekerasan dan fanatisme dan dapat memicu upaya yang lebih besar dalam memerangi kebencian ras dan agama.

Perdana Menteri Kanada tidak hanya diam dalam merespon hal ini. Ia mengeluarkan Statement yang mengecam serangan itu. Tidak hanya itu pemerintah Kanada dan kepolisian juga bertindak sangat cepat dalam menangani kasus ini. Walikota Quebec bersikeras bahwa Quebec dengan tegas menolak kekerasan yang tidak kemanusiaan ini. Beliau juga mengancam serangan terorisme dan menyuruh meletakan benderan di Majelis Nasional Quebec akan dinaikan setengah tiang.

Bersamaan dengan itu, Menteri Keamanan Publik, menggelar konferensi press bersama serta membuat panggilan bersama untuk persatuan. Hasil Konferensi ini adalah mengenai kenyamanan untuk Muslim di Quebec. Walikota New York juga mempunyai tanggapan tentang kasus ini bahwa terdapat kasus yang sama yaitu Masjid di Texas juga dibakar , dan secepatnya harus menghentikan pelaku nya. Presiden Prancis juga menanggapi bahwa Prancis akan membantu para korban dan keluarga di Quebec.

Pemerintah Quebec bekerja sama dengan otoritas keamanan nasional maupun internasional untuk memantau, mencegah serta menanggapi aksi ini. Pemerintah Quebec mengutamakan kerja sama dengan kelompok masyarakat termasuk komnitas muslim untuk berdialog. Hal ini dianggap salah satu upaya untuk terorisme tidakterkait dengan agama atau identitas tertentu.

Quebec merupakan kota yang sangat Indah dan sering kali Turis berwisata ke Quebec. Aksi terorisme, penembakan serta kekerasan di Quebec jelas harus dihapuskan. Quebec harus menegaskan penegakan hukum bagi pelaku terorisme, pelaku harus ditangkap dan diberikan hukuman yang setimpal dengan Undang-Undang yang berlaku. Hal ini dapat menunjukan bajwa aksi terror tidak akan di toleransi dan mendapatkan hukuman serius untuk pelaku. Quebec juga harus melakukan kerjsama dengan Badan Intelijen yang dimana sangat efektif dan perlu ditingkatkan agar dapat mengidentifikasi serta mencegah serangan terror.

Quebec perlu bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk dapat mendeteksi dan melaporkan aktivitas yang mencurigakan. Masyarakat juga perlu diberikan pelatihan serta pendidikan yang tepat mengenai radikalisme. Pendidikan dan membangun kesadaran mengenai keragaman, toleransi dan mengormati perbedaan sangatlah penting. Masyarakat harus mempunyai sikap dalam mengatasi prasangka, diskriminasi serta kebencian rasial dalam agama. Dengan adanya pembangunan dialog antar agama dan komunitas hal ini dapat memperkuat hubungan sosial antara masyarakat.

Tidak hanya tu, Quebec juga perlu bekerja sama dengan dunia Internasional, dengan membangun kerja sama, Quebec akan mendapatkan pertukaran informasi penting antara negara-negara yang mempunyai pengalaman dalam memerangi terorisme. Lalu, pemberdayaan Komunitas sangat penting karena rentan terhadap radikalisasi. Dalam hal ini juga melibatkan Quebec dalam pengembangan program sosial, pendidikan dan ekonomi yang juga sangat membantu dalam mengatasi akar penyebab radikalisme tumbuh. Dengan adanya pemenuhan dasar dalam pendidikam, lapangan kerja dapat membantu untuk mencegah radikalisasi ini tumbuh. Setiap solusi harus juga di dkung dengan masyarakat setempat, pemerintah, elmabaga keamanan serta Organsiasi Internasional maupun Regional untuk dapat menghadapi serta mencegah segala aksi teroris.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.