
Oleh: Ratih Eka Noviyana
J04012131366
Awal Mula Perjalanan di Dunia Ekowisata
Syarif Indra Surya Purnama, nama lengkapnya Syarif Indra Surya Purnama, S.Hut., M.Si, adalah seorang dosen yang berdedikasi di program studi Ekowisata. Perjalanan karirnya di bidang yang dicintainya ini tidaklah instan, melainkan sebuah proses panjang yang dimulai jauh sebelum ia secara resmi berdiri di depan kelas sebagai pengajar. Ketertarikannya pada ekowisata berakar kuat dari fondasi pendidikannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), di mana ia memilih jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Pada masanya, istilah “ekowisata” mungkin belum sepopuler dan semendunia sekarang, namun dasar-dasar ilmu mengenai rekreasi alam telah ia serap dengan tekun. Ilmu inilah yang kemudian menjadi bekal berharga, membimbingnya untuk terus mendalami, mengembangkan diri, dan memberikan kontribusi nyata di dunia ekowisata Indonesia.
Sebelum menapaki jalur sebagai dosen, Syarif telah aktif terlibat dalam dunia akademis sebagai asisten dosen. Ia dengan antusias membantu dalam berbagai mata kuliah yang relevan dengan bidangnya. Pengalaman ini memberinya gambaran awal yang jelas tentang dinamika dunia pendidikan, interaksi dengan mahasiswa, dan proses transfer ilmu. Hal ini semakin memantapkan minatnya untuk tidak hanya belajar, tetapi juga berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi penerus. Selain itu, ia juga sempat mengukir pengalaman berharga di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional, The Landscape and Livelihood Group (TLLG), yang berpusat di Edinburgh, Skotlandia. Di sana, ia mendapatkan kepercayaan untuk berperan sebagai fasilitator audit program kerja WWF di Riau, memberikan kesempatan emas untuk menerapkan konsep ekowisata secara langsung di lapangan, berinteraksi dengan masyarakat lokal, dan memahami tantangan nyata yang dihadapi.
Titik balik dalam karir Syarif tiba pada tahun 2006, ketika ia mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di Sekolah Vokasi, yang pada saat itu masih berupa program diploma. Awalnya, ia diminta untuk membantu mengajar mata kuliah Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Ekowisata. Mata kuliah ini menjadi spesialisasinya, menggabungkan pemahaman mendalam tentang geografi, teknologi informasi, dan aplikasinya dalam pengelolaan sumber daya alam dan pariwisata. Meskipun sempat vakum selama beberapa tahun untuk mendampingi sang istri menempuh studi di luar negeri, kecintaan dan panggilan hatinya terhadap dunia pendidikan dan ekowisata membawanya kembali untuk mengabdikan diri sebagai pengajar. Kini, selain Sistem Informasi Geografis, ia juga dipercaya untuk mengampu mata kuliah Penerapan Siklus Kekuasaan serta Metode Survei dan Analisis Data, menunjukkan keluasan pengetahuannya dan kemampuannya dalam mentransfer berbagai disiplin ilmu kepada para mahasiswanya.
Perspektif Syarif Indra
Sebagai seorang pengajar yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan seorang praktisi yang telah terjun ke lapangan, Syarif memiliki pandangan yang cukup kritis terhadap perkembangan ekowisata di Indonesia. Ia mengamati bahwa konsep ekowisata yang ideal, yang tertulis dalam buku-buku dan jurnal ilmiah, belum sepenuhnya terwujud di lapangan. Ia melihat bahwa banyak destinasi wisata yang masih didominasi oleh konsep mass tourism, yang menekankan kuantitas pengunjung dan keuntungan ekonomi jangka pendek, namun seringkali mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan dan edukasi bagi wisatawan. Padahal, menurutnya, esensi dari ekowisata adalah keseimbangan yang harmonis antara tiga pilar utama: ekologi (pelestarian lingkungan), ekonomi (peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal), dan edukasi (peningkatan kesadaran dan pengetahuan wisatawan).
Syarif menekankan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai daya tarik utama ekowisata. Keindahan alam yang lestari adalah modal utama yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Namun, ia menyayangkan bahwa masih sering terjadi kerusakan lingkungan, bahkan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi contoh praktik ekowisata yang baik. Kerusakan ini bisa berupa penebangan liar, pencemaran air dan tanah, perburuan satwa liar, dan berbagai aktivitas lain yang merusak ekosistem. Selain itu, ia juga menyoroti perlunya peningkatan ekonomi masyarakat sekitar destinasi wisata melalui pemanfaatan kegiatan wisata yang berkelanjutan. Masyarakat lokal harus menjadi bagian integral dari pengembangan ekowisata, bukan hanya menjadi penonton atau bahkan korban dari kegiatan tersebut. Aspek edukasi juga tidak boleh dilupakan, di mana setiap pengunjung harus mendapatkan pengetahuan berharga tentang konservasi alam, keanekaragaman hayati, dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungan selama berwisata.
Dengan nada prihatin, ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini, ia belum melihat ada contoh ekowisata di Indonesia yang benar-benar berhasil menerapkan ketiga pilar tersebut secara seimbang dan berkelanjutan. Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan di berbagai aspek. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penelitian-penelitian terkait ekowisata sangat dibutuhkan untuk memberikan solusi konkret dan membantu para pengelola destinasi wisata dalam mengembangkan konsep yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan serta masyarakat sekitar. Penelitian ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, praktisi, pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak swasta, sehingga menghasilkan solusi yang komprehensif dan dapat diimplementasikan secara efektif.
Harapan untuk Generasi Penerus Ekowisata dan Pesan untuk Indonesia
Melihat kondisi ekowisata di Indonesia yang masih jauh dari ideal, Syarif memiliki harapan besar pada generasi muda, khususnya para mahasiswa yang memiliki minat dan panggilan hati untuk berkarir di bidang ini. Ia berpesan agar para mahasiswa tidak hanya terpaku pada teori-teori yang dipelajari di bangku kuliah dan terpukau dengan angka-angka di laporan keuangan, tetapi juga aktif mencari pengalaman dan pengetahuan di lapangan. Mereka harus berani terjun langsung ke berbagai destinasi wisata, berinteraksi dengan masyarakat lokal, mengamati permasalahan lingkungan, dan mencari solusi inovatif untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada. Kerja keras, dedikasi tinggi, dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci utama untuk mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Indonesia.
Syarif juga menyayangkan fenomena banting setir yang sering terjadi pada lulusan program studi ekowisata di Indonesia. Banyak dari mereka yang setelah lulus kuliah akhirnya bekerja di bidang yang tidak relevan dengan pendidikan yang telah ditempuh, seperti perbankan, asuransi, atau bahkan menjadi content creator di media sosial. Padahal, menurutnya, untuk mengembangkan ekowisata yang berkualitas dan berkelanjutan, dibutuhkan bibit-bibit unggul yang memiliki komitmen yang kuat untuk terus bergelut di bidang ini, mengembangkan diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ekowisata Indonesia. Ia berharap agar para lulusan ekowisata dapat lebih termotivasi untuk memanfaatkan ilmu dan keterampilan yang telah mereka peroleh untuk membangun karir yang sukses di bidang yang mereka cintai.
Sebagai penutup, Syarif memberikan contoh keberhasilan ekowisata di negara lain, seperti Kosta Rika, yang telah berhasil mengembangkan industri ekowisata yang berkelanjutan dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian negara. Keberhasilan ini tidak lepas dari kesadaran masyarakat yang tinggi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mempromosikan potensi wisata daerah mereka. Syarif berharap agar Indonesia dapat mencontoh keberhasilan tersebut dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, mengembangkan perilaku yang ramah lingkungan, dan mendukung pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Dengan begitu, ekowisata di Indonesia dapat berkembang lebih baik, memberikan manfaat yang lebih besar bagi semua pihak, dan menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia.




