• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Support System: Kurikulum Tak Tertulis dalam Skripsi Mahasiswa

Editor Redaksi
25 Januari 2026
in Kolom Opini
Dukungan sosial melalui ruang berbagi cerita antarpemuda. Sumber: Ilustrasi AI

Oleh: Vivi Kusumaningrum
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

JurnalPost.com – Ketika laptop dibuka hanya untuk mengerjakan revisi skripsi, tanpa pernah memberi ruang revisi diri, di situlah banyak mahasiswa tingkat akhir berada. Alih-alih hanya sibuk dengan tugas akhir, kesepian justru kerap menjadi ancaman yang menyertai prosesnya. Skripsi tidak lagi sekadar tentang teori, tetapi juga tentang bertahan dalam sunyi.

Kampus mengajarkan segudang teori, ceramah di dosen setiap pertemuan, serta ribuan suapan materi yang ditelan mahasiswa. Namun, nyatanya, tidak pernah benar-benar mengajarkan cara bertahan secara emosional. Di balik jargon “mandiri”, mahasiswa seolah dituntut kuat sendiri. Kesah dianggap sebagai tanda lemah, bukan sebagai proses manusiawi. Di situlah saat semangat surut, terkadang kita membutuhkan dukungan sosial yang membangun.

Di titik semangat mulai surut dan lelah tak dapat disembunyikan lagi, dukungan sosial menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Dukungan inilah yang tak jarang luput dibahas dalam ruang akademik, justru berperan besar dalam menjaga kewarasan mahasiswa tingkat akhir. Dukungan tersebut dikenal sebagai support system, sebuah kurikulum yang tidak tertulis dalam proses penyusunan skripsi mahasiswa.

Sejauh ini, support system kerap dipersempit maknanya sebagai sosok tertentu atau kedekatan dengan lawan jenis. Padahal, lebih dari itu, support system adalah sistem pendukung yang dapat berupa keluarga, teman, maupun lingkungan terdekat yang hadir secara emosional dan praktis untuk membuat seseorang merasa didengar, aman, serta membantu seseorang bertahan menghadapi kesulitan hidup.

Anggapan Skripsi sebagai Fase Akademik Paling Sunyi

Mahasiswa yang telah menembuh ratusan kredit semester, mengikuti pelatihan kerja, magang, hingga Kuliah Kerja Nyata, pada akhirnya akan tiba saatnya di satu fase penentu yaitu penyusunan skripsi. Fase ini sering diposisikan sebagai puncak intelektual mahasiswa sekaligus penanda kedewasaan akademik. Namun, di samping statusnya yang prestisius, skripsi menjadi fase paling sunyi dalam perjalanan pendidikan tinggi.

Berbagai proses pelik harus dilalui. Pengajuan judul yang sempat ditolak berkali-kali, pencarian referensi yang tak kunjung cukup, hingga rutinitas bolak-balik kampus demi menemui dosen pembimbing menjadi pengalaman yang hampir seragam. Anehnya, di tengah proses yang berat tersebut, skripsi justru dipahami sebagai kerja yang dijalani sendiri. Mengajak teman dianggap mengganggu fokus, sementara berproses bersama dipersepsikan sebagai ketergantungan. Dalam fase ini, “menyelamatkan diri” lebih diutamakan daripada bertumbuh bersama.

Perjalanan yang individualistis serta minimnya pendampingan emosional  membuat mahasiswa berada di tahap overthinking, kesepian, dan kelelahan mental dianggap sebagai fase wajar. Padahal tidak semua mahasiswa pada tahap ini memiliki ketahanan mental yang sama. Di ruang bimbingan, kita jarang bertanya bagaimana kabar mahasiswa, yang ditanya hampir selalu “sudah sampai bab berapa?”, seolah progress akademik menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Support System sebagai Proses Belajar Nyata

Dukungan sosial dan emosional atau yang kerap disebut support system tidak berhenti pada sekadar kata penyemangat. Ia hadir sebagai ruang belajar untuk mengelola emosi, tempat validasi ketika gagal, sekaligus pengingat bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh progres skripsi semata. Dalam proses ini, interaksi dengan teman seperjuangan, keluarga, atau sosok yang dirasa aman termasuk dosen pembimbing yang humanis serta memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan proses akademik mahasiswa.

Dukungan tersebut secara tidak langsung membentuk soft skills yang jarang disadari, seperti kedisiplinan dalam mengatur waktu, kemampuan berkomunikasi, ketahanan diri (resilience), serta empati terhadap sesama. Mahasiswa memang belajar banyak hal dari skripsi, tetapi tidak jarang, pelajaran paling bermakna justru datang dari manusia lain, bukan semata-mata dari buku atau jurnal ilmiah.

Ketimpangan Dukungan

Sayangnya, tidak semua mahasiswa memiliki support system yang kuat. Sebagian harus menjalani peran ganda, misalnya kuliah sambil bekerja lepas untuk menutup kebutuhan hidup, mengumpulkan pengalaman kerja demi kesiapan pascalulus, menghadapi tekanan ekonomi, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Kondisi tersebut menjadikan skripsi bukan hanya beban akademik, tetapi juga beban psikologis yang berlapis. Dalam situasi seperti ini, merangkai satu paragraf skripsi dapat terasa jauh lebih berat daripada sekadar urusan teknis penulisan.

Peran Kampus yang Diperluas

Lantas, peran apa yang dapat dilakukan kampus? Pertama, menghadirkan ruang pendampingan nonformal seperti Unit Layanan Konseling yang mudah diakses dan tidak menstigmatisasi mahasiswa. Sayangnya, tidak semua kampus memiliki atau mengoptimalkan layanan ini, padahal kehadiran tenaga pendamping sangat penting dalam menjaga kesehatan emosional mahasiswa tingkat akhir.

Kedua, dosen pembimbing perlu membangun komunikasi yang lebih manusiawi. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa pesannya diabaikan atau hanya mendapat respons teknis tanpa empati. Padahal, dukungan dosen sekecil apa pun bentuknya kerap menjadi penentu keberlanjutan dan keberhasilan tugas akhir mahasiswa.

Meski demikian, peran mahasiswa tetap penting dalam membangun ketahanan diri dan relasi pendukung. Di sinilah peran kampus menjadi krusial, menciptakan ekosistem yang membuat mahasiswa bertahan, bukan dituntut beban.

Skripsi pada akhirnya bukan soal kecerdasan intelektual saja, tetapi tentang siapa yang menemani prosesnya. Jika kurikulum mengajarkan cara lulus, maka support system mengajarkan cara bertahan. Mencari lingkungan yang mendukung dan teman berbagi cerita menjadi penting, tanpa kehilangan fokus untuk tetap bertumbuh dan bertanggung jawab pada diri sendiri.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.