
Oleh: Ahmad Nizar – Mahasiswa Universitas Siber Asia
JurnalPost.com – Ada satu hal yang luput dari perhatian jutaan orang yang ikut menari mengikuti tren “naik turun” di media sosial sepanjang pertengahan 2026: suara yang mereka nyanyikan bukan berasal dari pita suara manusia. Lagu-lagu seperti itu, juga judul-judul nyeleneh yang ikut viral di linimasa TikTok dan Instagram, ternyata lahir dari sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu meniru timbre, cengkok, bahkan nuansa emosional vokal manusia dengan tingkat presisi yang sebelumnya mustahil dibayangkan (Inikata.co.id, 2026; IDN Times, 2026). Publik terkecoh bukan karena kurang jeli, melainkan karena batas antara karya cipta manusia dan hasil komputasi memang telah menjadi kabur.
Fenomena ini menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai gimmick teknologi, melainkan sebagai gejala sosial yang lebih besar: pergeseran masyarakat dari era Revolusi Industri 4.0 menuju konsep Society 5.0. Jika Industri 4.0 berorientasi pada otomatisasi proses produksi melalui integrasi teknologi digital — Internet of Things, big data, hingga kecerdasan buatan — maka Society 5.0 melangkah lebih jauh dengan menuntut agar seluruh kecanggihan itu tetap berpusat pada kesejahteraan dan nilai kemanusiaan, bukan pada efisiensi semata. Pertanyaannya kemudian: sejauh mana masyarakat Indonesia hari ini benar-benar bergerak ke arah tersebut, atau justru masih terjebak pada euforia teknologi tanpa kesiapan reflektif untuk menyikapinya?
Ketika Generasi Muda Menjadikan AI sebagai Mitra Berpikir
Jawaban atas pertanyaan itu sedikit banyak tergambar dari pola konsumsi teknologi generasi muda. detikcom (2026) mencatat bahwa aplikasi seperti Canva AI 2.0 dan Perplexity AI kini bukan lagi sekadar alat eksperimen bagi Generasi Z, melainkan telah menjadi bagian dari rutinitas kerja dan belajar sehari-hari. Yang menarik, pola pemanfaatannya condong pada dua kebutuhan yang justru sangat manusiawi: mempercepat eksekusi ide kreatif, dan memverifikasi kebenaran informasi di tengah banjir hoaks. Dengan kata lain, generasi muda tidak sepenuhnya menyerahkan otoritas berpikir mereka kepada mesin — mereka justru menempatkan AI sebagai mitra yang mempercepat proses, sementara keputusan akhir dan tanggung jawab etis tetap berada di tangan manusia. Inilah nuansa Society 5.0 yang paling kentara: teknologi sebagai perpanjangan kapasitas manusia, bukan penggantinya.
Namun demikian, relasi ini tidak sepenuhnya aman dari risiko. Ketergantungan yang terlalu besar pada AI untuk berpikir kritis berpotensi menumpulkan justru kemampuan itu sendiri — sebuah paradoks yang perlu terus diwaspadai, mengingat kemudahan sering kali datang berbarengan dengan kelengahan.
Negara Mempercepat Infrastruktur, tetapi Juga Mengejar Regulasi
Di level struktural, transformasi ini juga difasilitasi oleh negara. Pikiran Rakyat (2026) melaporkan bahwa Indosat Ooredoo Hutchison telah mengintegrasikan teknologi AI-RAN ke dalam jaringan 5G, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang menanamkan kecerdasan buatan langsung ke tulang punggung infrastruktur telekomunikasinya. Fakta bahwa Indonesia kini menjadi pengguna AI generatif terbesar kedua di Asia Pasifik setelah Jepang bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari akselerasi infrastruktur digital yang berjalan hampir bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakatnya.
Namun percepatan infrastruktur semacam ini pada dasarnya berjalan lebih cepat dibanding kesiapan regulasinya — sebuah pola yang lazim terjadi pada setiap lompatan teknologi besar. Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, baru menyusul dengan menyiapkan Peraturan Menteri yang mewajibkan pencantuman label atau watermark pada setiap konten hasil AI generatif, sebagai pelengkap dari dua Peraturan Presiden yang mengatur peta jalan nasional dan etika pemanfaatan AI (CNBC Indonesia, 2026; ANTARA News, 2026). Kewajiban ini lahir dari kesadaran bahwa risiko AI di Indonesia bukan hanya soal teknis, melainkan menyentuh potensi kesenjangan sosial, kebocoran data, hingga persoalan etika penggunanya.
Pola “teknologi berlari, regulasi mengejar” ini sesungguhnya adalah cerminan tantangan klasik dalam setiap era industri: infrastruktur dan pasar selalu bergerak lebih dulu, sementara kerangka hukum dan etika baru menyusul setelah dampaknya mulai terasa di masyarakat.
Ketika Persepsi Publik Menjadi Pertaruhan
Kajian dalam jurnal Managing: Jurnal Bisnis dan Manajemen (2026) memperkuat urgensi persoalan ini dengan temuan bahwa intensitas paparan berita viral tentang AI berkorelasi positif dan signifikan terhadap pembentukan persepsi publik. Artinya, cara media menyajikan isu kecerdasan buatan — apakah secara berimbang atau sensasional — turut menentukan apakah masyarakat akan bersikap resisten berlebihan terhadap inovasi, atau sebaliknya, terlalu naif dan mudah menjadi korban penyalahgunaan teknologi seperti penipuan digital maupun manipulasi data. Di sinilah literasi digital, atau dalam konteks kajian Human Literacy, memainkan peran penentu antara masyarakat yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan masyarakat yang justru terperangkap olehnya.
Menempatkan Kembali Manusia sebagai Pusat
Merangkai keempat fenomena tersebut — lagu ciptaan AI yang mengecoh telinga publik, adopsi AI sebagai mitra berpikir generasi muda, akselerasi infrastruktur digital nasional, hingga regulasi yang berusaha mengejar ketertinggalannya — tampak jelas bahwa Indonesia bukan sedang “menuju” Society 5.0 sebagai sebuah tujuan yang jauh di masa depan, melainkan sudah berada di tengah proses transisi tersebut, dengan segala keteraturan dan kekacauannya. Society 5.0 pada dasarnya bukan sekadar level lanjutan dari Industri 4.0 secara teknologis, melainkan sebuah koreksi filosofis: bahwa kecanggihan apa pun harus kembali dipertanggungjawabkan pada nilai kemanusiaan yang menciptakannya.
Dari sudut pandang Estetika Humanisme, fenomena AI yang mampu “bernyanyi” layaknya manusia semestinya tidak direspons dengan ketakutan berlebihan maupun euforia buta, melainkan dengan kesadaran kritis: bahwa keindahan dan kreativitas sejati tetap membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan di baliknya — sesuatu yang, setidaknya untuk saat ini, belum sepenuhnya bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Penutup
Saya memiliki pandangan bahwa selama masyarakat masih memiliki rasa penasaran dengan “Siapa sebenarnya yang menciptakan ini?”, maka di situlah nilai kemanusiaan sesungguhnya sedang dipertahankan dan justru itulah yang membuat saya optimis bahwa secanggih apapun teknologi belum sepenuhnya menggantikan kesadaran kritis manusia.
Daftar Referensi
Inikata.co.id. (2026, 25 Mei). Mengejutkan, 5 Lagu Indonesia Viral 2026 Ini Ternyata Hasil Karya AI. Diakses dari https://inikata.co.id/mengejutkan-5-lagu-indonesia-viral-2026-ini-ternyata-hasil-karya-ai
IDN Times. (2026, 25 Mei). 5 Lagu Indonesia Viral Ini Ternyata Bikinan AI, Kamu Sadar?. Diakses dari https://www.idntimes.com/hype/viral/lagu-indonesia-viral-ini-ternyata-bikinan-ai-00-hwff8-tc073m
detikcom. (2026, 5 Mei). 5 Aplikasi Viral Andalan Gen Z 2026: Dari Canva hingga TikTok. Diakses dari https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d-8475490/5-aplikasi-viral-andalan-gen-z-2026-dari-canva-hingga-tiktok
Pikiran Rakyat Pemalang. (2026). AI Viral di Indonesia 2026: Dari Bisnis hingga Layanan Publik, Transformasi Digital Semakin Nyata. Diakses dari https://pemalang.pikiran-rakyat.com/teknologi/pr-24010321922/ai-viral-di-indonesia-2026-dari-bisnis-hingga-layanan-publik-transformasi-digital-semakin-nyata
CNBC Indonesia. (2026, 26 Januari). Komdigi Siapkan Aturan Baru, Konten AI Harus Pakai Label. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260126193410-37-705490/komdigi-siapkan-aturan-baru-konten-ai-harus-pakai-label
ANTARA News. (2026, 26 Januari). Kemkomdigi Siapkan Aturan Konten Buatan AI Wajib Diberi Label. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/5377558/kemkomdigi-siapkan-aturan-konten-buatan-ai-wajib-diberi-label
Managing: Jurnal Bisnis dan Manajemen. (2026). Pengaruh Viralitas Berita Artificial Intelligence (AI) Terhadap Persepsi Publik di Indonesia Tahun 2025, Vol. 3, No. 1. Diakses dari https://managing.hellowpustaka.id/index.php/i/article/download/50/43
Gambar 1 dan Gambar 2 merupakan ilustrasi orisinal yang dibuat sendiri oleh penulis untuk keperluan artikel ini (bukan gambar pihak ketiga).



