
Penulis:
Marsha Angelina, Chelsea Annabel, Shenyfer Chandra, Carolin Elena Bernardi, Fransina Diana
Pembimbing:
Dr. Ir. Rita Markus Idulfilastri, M.Psi.T
JurnalPost.com – Perkembangan media digital telah mengubah cara generasi Z memandang kesuksesan. Penelitian Dimock (2019) menyatakan bahwa Generasi Z merupakan individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 yang sering disebut sebagai generasi internet atau I-Generation.
Setiap hari, mereka terpapar konten yang menampilkan pencapaian di usia muda, gaya hidup yang dianggap ideal, hingga keberhasilan yang tampak instan. Paparan ini tidak bersifat sesekali, melainkan terjadi secara terus-menerus melalui berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan platform media digital lainnya. Paparan yang berjangka panjang dapat membentuk cara individu memandang realitas sosial. Penelitian We Are Social (2024) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial, yang memperkuat intensitas paparan terhadap konten tersebut.
Hal ini menjadi makin terasa karena konten yang beredar cenderung menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Proses panjang, kegagalan, serta perjuangan sering kali tidak terlihat. Akibatnya, media digital menciptakan gambaran kesuksesan yang terlihat seragam, tinggi, dan seolah-olah mudah dicapai oleh semua orang. Dalam kondisi ini, generasi Z tidak hanya melihat, tetapi juga mulai menilai dirinya berdasarkan standar tersebut.
Paparan yang intens dapat mendorong munculnya fenomena perbandingan diri atau social comparison. Dalam hal ini, individu secara tidak sadar membandingkan pencapaian, kondisi hidup, dan masa depan mereka dengan apa yang ditampilkan di media digital. Jika proses perbandingan ini terjadi secara terus-menerus, maka dapat menggeser standar kesuksesan yang awalnya bersifat personal menjadi standar eksternal.
Fenomena ini semakin kuat karena adanya proses internalisasi, yaitu ketika seseorang menyerap standar dari lingkungan digital dan menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. Fenomena ini berkaitan dengan adanya kesenjangan antara diri saat ini dan diri ideal yang diharapkan, yang dapat memunculkan perasaan tidak puas dan cemas. Penelitian Chou & Edge (2012) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat memengaruhi persepsi individu terhadap kehidupan orang lain yang dianggap lebih baik dari dirinya.
Penelitian Vogel et al. (2014) menunjukkan bahwa perbandingan sosial di media digital berkaitan dengan penurunan evaluasi diri dan kesejahteraan psikologis. Hal ini sejalan dengan teori self-discrepancy yang menyatakan bahwa bila terdapat ketidaksesuaian antara actual self (diri yang dirasakan saat ini), ideal self (diri yang diinginkan), dan ought self (diri yang dirasakan sebagai kewajiban atau tuntutan sosial) dapat menimbulkan reaksi emosional dan psikologis seperti kekecewaan, kecemasan ataupun perasaan bersalah.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat dilihat pada individu yang awalnya merasa cukup dengan pencapaiannya, namun mulai merasa tertinggal setelah sering terpapar konten tentang kesuksesan di usia muda. Standar pribadi yang sebelumnya jelas, perlahan berubah mengikuti standar yang berkembang di media digital. Individu juga dapat merasa hidupnya kurang memadai ketika membandingkan dirinya dengan orang lain yang tampak lebih berhasil, tanpa menyadari bahwa konten yang dilihat tidak sepenuhnya mencerminkan realitas.
Dampak dari fenomena ini cukup signifikan bila terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu dampak yang sering muncul adalah career anxiety, yaitu kecemasan terhadap masa depan karier. Individu dapat merasa tertekan untuk mencapai kesuksesan dalam waktu singkat, ragu terhadap pilihan hidup, serta takut tertinggal dari lingkungan sebayanya. Kesenjangan yang ada dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, rendah diri, dan stres akibat kesenjangan antara kondisi diri aktual dan standar ideal yang terbentuk dari media digital. Selain itu, dapat memicu kecenderungan untuk terus mencari validasi dari orang lain melalui media digital.
Paparan di media digital juga dapat memberikan tekanan untuk mencapai kesuksesan semakin meningkat karena media digital sering kali menampilkan narasi bahwa keberhasilan harus dicapai dalam usia muda. Konten mengenai individu yang telah memiliki karier mapan, bisnis sukses, maupun pencapaian finansial di usia tertentu dapat memunculkan ekspektasi bahwa kesuksesan harus diperoleh secepat mungkin. Padahal, pencapaian dan perkembangan hidup setiap individu berlangsung dengan cara serta waktu yang berbeda.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa media digital tidak hanya menjadi sarana informasi dan hiburan, tetapi juga memiliki peran besar dalam membentuk cara individu menilai dirinya sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih kritis dalam menyikapi standar kesuksesan yang berkembang di ruang digital agar individu tetap dapat mempertahankan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai dan kondisi pribadinya.
Referensi:
Caliskan, A., et al. (2024). Social comparison in digital environments. Journal of Social Psychology.
Chou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121.
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Higgins, E. T. (1987). Self-discrepancy: A theory relating self and affect. Psychological Review, 94(3), 319–340.
Hu, C., et al. (2022). Self-discrepancy and psychological well-being in the digital era. Current Psychology.
Shrum, L. J. (2017). Cultivation theory: Effects and underlying processes. The International Encyclopedia of Media Effects.
Stein, J. P., Krause, E., & Ohler, P. (2021). Every (Instagram) picture tells a story: Exploring the impact of Instagram on self-perception. Media Psychology.
Vogel, E. A., et al. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222.
We Are Social. (2024). Digital 2024 Indonesia Report.



