
Pasuruan, JurnalPost.com – Sebuah inovasi breakthrough dalam dunia keselamatan kebakaran telah diperkenalkan oleh sekelompok mahasiswa Teknik Industri Universitas Negeri Malang (UM). Mereka menciptakan SIPAR (Singkong Pemadam Api Ringan), sebuah alat pemadam api ringan (APAR) yang terbuat dari bahan alami dan ramah lingkungan, yaitu kulit singkong. Baru-baru ini, tim mahasiswa ini melakukan sosialisasi dan implementasi SIPAR di UMKM Lumpia Jeng Nenny, Pasuruan, Jawa Timur, menandai langkah penting dalam upaya meningkatkan keamanan kebakaran sekaligus mendukung sustainabilitas lingkungan.
SIPAR merupakan hasil inovasi yang menggabungkan konsep keamanan kebakaran dengan pemanfaatan limbah pertanian. “Inspirasi di balik pengembangan SIPAR berawal dari dua permasalahan utama: tingginya angka kebakaran yang menimpa UMKM dan melimpahnya limbah kulit singkong yang belum dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Verelin, ketua tim pengembang SIPAR dari UM. “Kami berhasil mengolah kulit singkong menjadi bahan pemadam api yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan.”
Jeng Nenny, pemilik UMKM Lumpia Jeng Nenny yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade, menyambut antusias kehadiran SIPAR di tempat usahanya. “Sebagai pengusaha kuliner yang sering berurusan dengan api, keamanan kebakaran selalu menjadi prioritas kami,” tuturnya. “SIPAR tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga sejalan dengan komitmen kami untuk menjadi usaha yang lebih ramah lingkungan.”
Sosialisasi dan implementasi SIPAR di UMKM Lumpia Jeng Nenny berlangsung selama dua hari, melibatkan serangkaian kegiatan komprehensif:
1. Hari Pertama: Pengenalan dan Edukasi
Presentasi tentang teknologi SIPAR dan cara kerjanya
Penjelasan keunggulan SIPAR dibandingkan APAR konvensional
Diskusi tentang pentingnya manajemen risiko kebakaran bagi UMKM
2. Hari Kedua: Pelatihan dan Simulasi
Demonstrasi penggunaan SIPAR dalam memadamkan api
Pelatihan penggunaan SIPAR untuk seluruh karyawan
Simulasi tanggap darurat kebakaran dengan menggunakan SIPAR
“Penting bagi semua pihak yang terlibat dalam operasional UMKM untuk memahami cara kerja SIPAR dan tahu bagaimana harus bertindak dalam situasi darurat,” tegas Budi.
Keunggulan SIPAR dibandingkan APAR konvensional meliputi:
1. Ramah lingkungan: Terbuat dari bahan alami dan biodegradable
2. Ekonomis: Memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah
3. Aman: Tidak mengandung bahan kimia berbahaya
4. Efektif: Telah melalui serangkaian uji laboratorium untuk memastikan kemampuan pemadaman api
5. Mudah digunakan: Desain ergonomis dan petunjuk penggunaan yang sederhana

Tim pengembang SIPAR tidak berhenti pada implementasi di UMKM Lumpia Jeng Nenny. Mereka telah menyusun rencana untuk melakukan riset lanjutan guna meningkatkan efektivitas SIPAR dan memperluas cakupan penggunaannya. “Kami sedang mengeksplorasi kemungkinan penggunaan SIPAR untuk jenis kebakaran yang lebih beragam,” kata Nafi, anggota tim yang fokus pada aspek teknis produk.
Lebih dari sekadar alat pemadam api, SIPAR juga berperan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya manajemen risiko kebakaran dan sustainabilitas lingkungan di kalangan pelaku UMKM. “Melalui SIPAR, kami ingin menunjukkan bahwa keamanan dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan seiring,” ungkap Verelin.
Dengan hadirnya inovasi seperti SIPAR, masa depan UMKM di Indonesia terlihat semakin cerah, aman, dan berkelanjutan. Alat ini tidak hanya melindungi aset fisik usaha dari risiko kebakaran, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah pertanian dan promosi ekonomi sirkular.
Keberhasilan SIPAR di UMKM Lumpia Jeng Nenny menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan sektor bisnis dapat menghasilkan solusi inovatif yang berdampak langsung pada masyarakat dan lingkungan. Ini juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan.
Seiring dengan semakin banyaknya UMKM yang mengadopsi teknologi seperti SIPAR, diharapkan akan terjadi peningkatan signifikan dalam keamanan kebakaran sektor ini, serta kontribusi positif terhadap pengelolaan limbah pertanian. Pada akhirnya, hal ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.
Penulis : Sri Kartika (Anggota Kelompok)




