
Dosen pengampu : Drs. Jupriono, M.Si.
Anggota : Nana Anggraini (1152300051), Elvira Hemalia (1152300061), Tria Dyah Lestari (1152300068), Shafa Athisyah Nurtain (1152300098), Zawitri Damayanti (1152300135)
Surabaya, JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital kini dirasakan hingga ke sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sejumlah pelaku usaha kuliner kaki lima kini mulai beradaptasi dengan adanya sistem pembayaran nontunai. Sebagai mahasiswa kita memiliki peran penting untuk membantu para sektor UMKM untuk memahami penerapan pembayaran digital. Program pengabdian masyarakat menggelar kegiatan penyuluhan bertajuk “Sosialisasi dan Penerapan Pemayaran Digital” yang menyasar pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan sektor kuliner, khususnya pedagang mie ayam dan angkringan. Kita selaku mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag sby pada tanggal 17 juni 2026 melakukan observasi ke 2 UMKM tersebut.
Selama ini, transaksi di warung Mie Ayam Pak Tommy maupun Angkringan Dwarawati identik dengan pembayaran tunai. Sebagian besar pelanggan membayar menggunakan uang tunai dikarenakan cara tersebut dianggap lebih mudah dan menjadi kebiasaan dalam aktivitas jual beli sehari-hari. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin jarang membawa uang cash ditambah kemudahan transaksi digital mendorong banyak pedagang kecil untuk mulai mengikuti perkembangan zaman. Perubahan kebiasaan ini mendorong pelaku UMKM termasuk pedagang mie ayam dan angkringan, untuk mulai beradaptasi dengan sistem pembayaran digital agar tetap memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pelanggan. Salah satu metode pembayaran yang paling banyak digunakan adalah sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Adaya code QRIS memungkinkan pelanggan melakukan pembayaran digital.
Oleh karena itu, diperlukan program sosialisasi dan pendampingan mengenai penggunaan pembayaran digital bagi pelaku UMKM kuliner. Program ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman pelaku UMKM mengenai manfaat transaksi digital serta membantu penerapan sistem pembayaran nontunai. Program sosialisasi pembayaran digital bagi UMKM kuliner saat ini sangat dibutuhkan untuk mendorong digitalisasi usaha. Kegiatan sosialisasi ini dirancang secara komprehensif, dimulai dari edukasi mengenai cara mendaftar dan penggunaan QRIS secara tepat. Tidak hanya memberikan teori, program ini juga mencakup pendampingan langsung dalam pembuatan akun merchant guna memastikan para pelaku usaha dapat melewati proses teknis dengan mudah. Sebagai bentuk dukungan nyata, peserta juga akan diberikan fasilitas berupa banner dan bentuk fisik QRIS Code secara gratis untuk langsung dipasang di lapak jualan mereka.
Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan, diharapkan warung Mie Ayam Pak Tommy dan Angkringan Dwarawati dapat mengikuti perkembangan digital. Selain memberikan kemudahan bagi pelanggan, penggunaan QRIS memudahkan efisiensi transaksi, mengurangi resiko kehilangan uang tunai, serta mendukung perkembangan usaha agar semakin kompetitif di era digital.
Mie Ayam Pak Tommy yang terletak di kawasan pemukiman padat penduduk mengaku awalnya ragu dengan adanya penggunaan sistem pembayaran digital. Pak Tommy khawatir proses transaksi menjadi lebih lama dan merepotkan, terlebih usianya yang terbilang sudah rentan dan konsumennya lebih dominan pada anak sekolah yang sudah jarang membawa uang tunai dalam jumlah kecil. Namun setelah mengikuti penyuluhan singkat dari mahasiswa dan mencoba sendiri, ia mengakui pembayaran nontunai justru memudahkan dan mempercepat dalam pelayanan terhadap pelanggan.
Hal serupa disampaikan oleh pedagang Angkringan Dwarawati yang biasa berjualan pada malam hari. Menurutnya, banyak pelanggan dari kalangan anak muda yang sering menghabiskan waktu di angkringan lebih nyaman menggunakan pembayaran digital daripada membawa uang tunai dalam jumlah kecil. Dengan adanya QRIS, ia merasa tidak lagi kehilangan calon pembeli hanya karena mereka tidak memiliki uang pas.
Kedua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penerapan pembayaran digital melalui QRIS tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pelaku UMKM. Dengan adanya sosialisasi pelatihan, dan pendampingan langsung sehingga pelaku usaha yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan teknologi digital kini dapat beradaptasi secara bertahap. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta mendorong pertumbuhan usaha yang lebih berkelanjutan ditengah perkembangan teknologi digital.
Dengan adanya sosialisasi dan penerapan pembayaran digital pada usaha Mie Ayam Pak Tommy dan Angkringan Dwarawati memberikan berbagai manfaat, baik bagi pelaku UMKM maupun pelanggan. Seiring meningkatnya pembayaran digital menjadi salah satu langkah yang dapat meningkatkan daya saing UMKM. Penerapan pembayaran digital membawa sejumlah manfaat signifikan bagi para pelaku usaha, salah satunya adalah mempermudah proses transaksi karena tidak perlu lagi repot menyiapkan uang kembalian. Selain itu, sistem ini juga mampu meningkatkan transparansi keuangan karena seluruh riwayat transaksi akan tercatat secara otomatis dan akurat. Manfaat lainnya yang tidak kalah penting adalah memperluas jangkauan pembeli, termasuk menarik minat konsumen yang sudah terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai (cashless).

Melihat berbagai manfaat tersebut, penerapan pembayaran digital melalui QRIS menjadi salah satu langkah yang tepat untuk mendukung perubahan digital pada UMKM kuliner.
Meskipun penerapan pembayaran digital melalui QRIS memberikn banyak manfaat bagi pelaku UMKM, proses dilapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan utama merupakan keterbatasan literasi digital, terutama pada pedagang yang berusia lanjut dan belum terbiasa menggunakan aplikasi pembayaran digital. Selain itu, masih ada kekhawatiran mengenai biaya administrasi atau potongan transaksi yang dikenakan pada setiap pembayaran digital. Disisi lain, kebiasaan sebagai masyarakat yang masih menggunakan uang tunai, terutama untuk transaksi dengan nominal kecil, menyebabkan digital belum digunakan secara maksimal oleh seluruh pelanggan.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, diperlukan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah maupun penyedia layanan pembayaran digital. Pendampingan tidak hanya berupa sosialisasi mengenai penggunakan QRIS, tetapi juga pelatihan serta evaluasi secara berkala agar pelaku UMKM semakin memahami manfaat dan cara penggunaan pembayaran digital. Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan semakin banyak pedagang yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan usahanya.
Pada akhirnya, penggunaan pembayaran digital menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil. Dengan dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan, pedagang mie ayam, angkringan, maupun UMKM lainnya dapat mengikuti perkembangan zaman, daya saing usaha, serta memberikan pelayanan yang lebih praktis dan nyaman bagi pelanggan.




