
Foto milik Disney. © 2024 Disney Enterprises Inc.
Oleh: Erinda Amelya Safitri
JurnalPost.com – Bayangkan sejenak. Seorang putri yang selama hampir satu abad dikenal dengan kulit “seputih salju”, rambut hitam legam, dan sikap pasif menanti pangeran dengan ciuman ajaib. Kini, di tahun 2025, ia hadir kembali sebagai pemimpin pemberani dengan kulit kecoklatan, tidak lagi menunggu disentuh pangeran, melainkan siap memimpin kerajaannya sendiri.
Kedengarannya progresif memang. Tapi, tunggu dulu.
Film Snow White live-action versi 2025 hanya meraup $42.2 juta di akhir pekan pertama domestik (Box Office Mojo, 2025). Angka yang jauh tertinggal dari saudara remake-nya, Beauty and the Beast (2017) yang membuka dengan $170 juta (Tempo.co, 2017). Ya, kegagalan komersial ini mengejutkan banyak pihak. Namun di balik angka tersebut, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diperbincangkan, yaitu “Apakah perubahan karakter Snow White benar-benar bentuk representasi otentik? Ataukah ini hanya sekadar rebranding kekuasaan budaya Disney yang tetap meninggalkan masalah lama, seperti ras, disabilitas, dan standar kecantikan?”
Ketika Disney Mendefinisikan “Perempuan Ideal”
Kita tidak bisa memungkiri kekuatan budaya yang dimiliki Disney. Sejak kecil, kita dibesarkan oleh dongeng-dongeng mereka. Namun kabar buruknya, studi tahun 2024 menunjukkan bahwa hingga saat ini, Disney masih memerankan protagonis perempuan secara stereotip (Clarke et al., 2024). Memang ada sedikit perbaikan antara tahun 2009 hingga 2016, tapi secara fundamental, standar feminitas versi Disney tidak pernah benar-benar berubah (Hine et al., 2018). Hanya saja kini “ideal” tersebut telah bergeser, dari yang awalnya pasif menjadi independent leader.
Tapi jangan salah. Definisi itu tetap sempit dan sepenuhnya dikendalikan oleh korporasi.
Sebuah temuan tahun 2025 (survei internal Disney Store) mengungkapkan bahwa 85% orang tua mengaku memperlakukan anak mereka seperti “bangsawan” serta 70% anak rutin berdandan sebagai putri (Jameson, 2025). Temuan ini bukan sekadar angka. Temuan ini adalah bukti betapa dalamnya pengaruh Disney dalam membentuk imajinasi gender sejak usia dini. Mereka tak hanya menjual film, tapi juga mimpi tentang seperti apa seharusnya seorang perempuan.
Ironi “Snow White” Isn’t White Anymore
Warisan Snow White klasik sebagai ‘putri pertama’ Disney tetap kuat hingga hari ini. Di tingkat popularitas, ia masih berada di posisi kedua sebagai putri favorit orang dewasa Amerika versi polling YouGov (2023) dengan 10% suara, hanya kalah dari Cinderella (Ballard, 2023). Namun yang lebih penting, warisan ini bukan sekadar soal angka. Sebuah studi etnografi tahun 2023 di ruang kelas Kanada menemukan bahwa anak-anak masih secara konsisten mengambil peran stereotip gender pasif dan heteronormatif saat bermain dengan merchandise Disney Princess (Valade, 2023). Dengan kata lain, ‘warisan’ Snow White tidak hanya tentang popularitas, tetapi juga tentang bagaimana tubuh dan imajinasi anak-anak terus dibentuk secara kultural oleh definisi Disney tentang ‘perempuan ideal’ yang telah usang.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa aktris berkulit cokelat tak pantas menjadi putri. Pertanyaannya lebih mendasar, yaitu “Apakah mengganti warna kulit otomatis membuat Disney anti-rasis?” Tentu tidak. Terlebih ketika kita tahu bahwa 90% wanita muda saat ini mengaku mengedit foto mereka agar sesuai dengan standar kecantikan budaya, di mana standar tersebut sudah sejak lama dibentuk dan diperkuat oleh industri seperti Disney (Law, 2023).
Dengan segala hormat, yang dilakukan Disney lebih terlihat seperti diversity-washing, yaitu mengganti warna kulit tanpa membongkar akar rasialisme mereka sendiri. Stereotip eksotis, pola white savior, dan ketiadaan narasi yang benar-benar membongkar kuasa rasia terbukti masih tetap utuh. Hasilnya adalah ilusi inklusi yang dikemas rapi untuk konsumsi publik.
Strong Woman, Tapi Tetap Kurus dan Cantik
Lalu, representasi disabilitas hampir tidak ada pembahasan. Bahkan, tidak ada aktor dengan dwarfisme yang terlibat signifikan dalam film ini. Padahal isu dwarfs dalam versi aslinya sudah lama dikritik sebagai stereotip merendahkan. Namun Disney memilih jalan aman, yaitu menghindar.
Sementara itu, Snow White versi baru digambarkan sebagai strong female leader. Tapi sekali lagi, dia tetap kurus, cantik, muda, dan heteronormatif. Isu tubuh ideal tidak tergoyahkan. Apalagi isu kelas, bentuk tubuh non-ideal, dan disabilitas yang sama sekali tidak disentuh. Disney terlalu takut menyentuh ketidaksetaraan struktural yang sesungguhnya karena itu bisa mengganggu bisnis mereka.
Hal ini merupakan ironi yang menggelikan. Di tengah narasi inklusi yang digembar-gemborkan, data industri tahun 2025 justru menunjukkan bahwa film dengan pemeran utama perempuan di 100 film terlaris turun menjadi hanya 39 film saja (Petski, 2026). Data ini menjadi data yang terendah dalam tujuh tahun terakhir. Sutradara perempuan pun hanya 8,1% (Kay, 2025). Jadi ketika Disney berbicara soal pemberdayaan perempuan, sebaiknya kita bertanya, “Pemberdayaan untuk siapa dan dengan standar siapa?”
Bom Komersial dan Medan Perang Budaya
Dengan budget sekitar $336.5 juta, film ini diperkirakan rugi hingga $170 juta (Hall, 2026). Rating IMDb pun hanya menyentuh angka 1,7/10, meskipun ada kemungkinan besar rating ini merupakan hasil review bombing dari kubu konservatif. Sementara itu, skor dari kritikus hanya 44% di Rotten Tomatoes (Leetmedia, 2025). Artinya, film ini gagal di mata kritikus dan juga gagal di mata sebagian penonton.
Yang “ramai” sebenarnya bukan karena film ini bagus. Tapi karena ia menjadi medan perang budaya. Disney membaca situasi dengan keliru, di mana mereka pikir mengganti warna kulit dan membuat Snow White lebih “berani” akan cukup untuk memenangkan hati publik progresif. Namun perubahan kosmetik tanpa substansi justru membuat dua kubu sama-sama kecewa. Di satu sisi, kelompok konservatif marah karena “Snow White Isn’t White Anymore”. Di sisi lain, kelompok progresif kecewa karena representasi yang ditawarkan masih dangkal dan tidak menyentuh akar masalah.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
“Snow White isn’t white anymore” bukanlah kemenangan inklusi. Pernyataan ini adalah bukti bahwa Disney lebih peduli pada citra progresif daripada keadilan representasi yang sesungguhnya. Mereka ingin dianggap berubah tanpa benar-benar mengubah struktur yang membuat eksklusi itu ada.
Maka, jangan mudah puas dengan strong woman kemasan korporasi. Jangan hanya bertepuk tangan melihat perempuan memegang pedang di layar, lalu diam saja ketika di belakang layar sutradara perempuan hanya 8,1%. Tanyakan, “Siapa yang masih tertinggal? Penyandang disabilitas? Perempuan dengan tubuh tak langsing? Kelas pekerja yang tak mampu membeli gaun putri?”
Disney akhirnya belajar bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin. Tapi sayangnya, mereka masih percaya bahwa pemimpin itu harus muda, langsing, dan heteronormatif. Mengganti warna kulit tanpa menyentuh standar tubuh ideal, bukankah itu hanya sekadar ganti bungkus kemasan saja?
Kita pantas mendapat lebih dari sekadar bungkus kemasan yang baru.
Referensi:
Ballard, J. (2023, 14 Juli). America’s favorite Disney princess: Cinderella tops the list. YouGov. https://yougov.com/en-us/articles/45848-americans-favorite-disney-princess-cinderella-poll
Box Office Mojo. (2025). Snow White (2025). Diakses pada 27 April 2026, dari https://www.boxofficemojo.com/title/tt6208148/
Clarke, L. L., Hine, B., England, D., Flew, P. P. M. S., Alzahri, R., Juriansz, S. N., & Garcia, M. J. B. C. (2024). The gendered behaviors displayed by Disney protagonists. Frontiers in Sociology, 9, 1338900. https://doi.org/10.3389/fsoc.2024.1338900
Disney.id. (2025). Snow White. Disney.id. https://www.disney.id/movies/snow-white-2025
Hall, A. (2025, 15 April). Disney loses $170 million on ‘Snow White’ flop: Report. Fox Business. https://www.foxbusiness.com/media/disney-loses-170-million-snow-white-flop-report
Hine, B., England, D., Lopreore, K., Skora, E. M., & Webb, L. K. (2018). The rise of the androgynous princess: Examining representations of gender in Disney princess films. Sex Roles, 79(9), 527–541.
Kay, J. (2025, 31 Desember). Women directed lowest share of top 100 films in US in seven years, study finds. ScreenDaily. https://www.screendaily.com/news/women-directed-lowest-share-of-top-100-films-in-us-in-seven-years-study-finds/5212370.article
Law, V. (2023, 3 April). Women, photo editing, and Instagram: The pressure to conform to beauty standards. Breakthrough. https://breakthrough.neliti.com/women-photo-editing-instagram/
Leetmedia. (2025, 20 Maret). Film live-action Snow White jadi salah satu film Disney terburuk sepanjang masa dengan rating 1,7 di IMDb, ini alasannya. https://leetmedia.id/highlight/film-live-action-snow-white-jadi-salah-satu-film-disney-terburuk-sepanjang-masa-dengan-rating-17-di-imdb-ini-alasannya/
Petski, D. (2025, 25 Maret). ‘Snow White’ receives lowest IMDb rating in Disney history amid review bombing concerns. IMDb News. https://www.imdb.com/news/ni65691692/
Petski, D. (2026, 2 Januari). Women directed lowest share of top 100 films in US in seven years, study finds. [Data disimpulkan dari Kay, 2025]. IMDb News.
Tempo.co. (2017, 20 Maret). Sepekan, Beauty and the Beast raih pendapatan 170 juta dolar AS. https://www.tempo.co/teroka/sepekan-beauty-and-the-beast-raih-pendapatan-170-juta-dolar-as-1287139
Valade, T. (2023). Postfeminism at play: Pretend play with Disney princess transmedia in the early childhood education classroom. McGill Journal of Education / Revue des sciences de l’éducation de McGill, 58(3), 57–80. https://doi.org/10.26443/mje/rsem.v58i3.10092



