
JurnalPost.com – Pada Rabu, 9 Juli 2025, Departemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga sukses menggelar acara utama berupa seminar dan diskusi dari pengabdian masyarakat berjudul Edukasi Aksesibilitas Fisik dan Informasi bagi Guru Pendamping Siswa Disabilitas untuk Mewujudkan Lingkungan yang Inklusif di Wilayah Kota Surabaya. Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Ibu Dr. Fitri Mutia, A.KS., M.Si. dengan anggota tim yaitu Bapak Helmy Prasetyo. Sementara, Ibu Ragil Tri Atmi, S.IIP., M.A. menjadi koordinator dari keseluruhan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini. Partisipasi dari mahasiswa program studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) angkatan 2024 juga berperan dalam membantu pengumpulan data lapangan dan pelaksanaan acara utama berupa seminar dan diskusi ini.
Sebelumnya, tim pengabdian masyarakat sudah melakukan observasi dan wawancara terhadap perpustakaan sekolah dan guru-guru pendamping disabilitas maupun pustakawan sekolah inklusi. Para guru pendamping khusus (GPK) dan pustakawan dari total sebelas sekolah inklusi inilah yang kemudian diundang menghadiri seminar dan diskusi tersebut. Tujuan dari urutan kegiatan ini yaitu untuk menampung pandangan setiap guru dan pustakawan berdasarkan pengalaman masing-masing di lapangan, baru kemudian mendiskusikannya bersama materi seminar dari Departemen Informasi dan Perpustakaan.
Seminar diselenggarakan di Hall A Lantai 5 Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Pukul 09:30 pagi, Master of Ceremony membuka acara dengan sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Airlangga, lantas dilanjutkan dengan pembacaan doa, serta sesi dokumentasi. Berikutnya, Ibu Dr. Fitri Mutia, A.KS., M.Si. memberikan sambutan selaku ketua pengabdian masyarakat, kemudian memberikan pemaparan sebagai narasumber dengan judul Strategi Implementasi Aksesibilitas Fisik dan Informasi di Lingkungan Sekolah.
Materi ini dimulai dari pengenalan konsep aksesibilitas, lalu dilanjutkan dengan pendefinisian jenis akses yakni akses fisik dan akses informasi, tantangan dalam penyediaannya serta strategi menyiapkannya sesuai dengan tujuh prinsip universal design, kemudian aplikasinya di ranah edukasi. “Menyiapkan akses fisik dan informasi bukan sekadar untuk memenuhi syarat teknis, tapi untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif, adil, dan memanusiakan siswa,” tutupnya.
Sesi berikutnya adalah pemaparan materi kedua yang berjudul Pendampingan dan Pelatihan Stratengi Aksesibilitas Informasi melalui Perpustakaan Sekolah oleh Bapak Helmy Prasetyo.
Beliau membahas dari dasar hukum untuk pendidikan inklusif seperti Permendikbud Nomor 48 Tahun 2023, kemudian membawakan konsep perpustakaan dan program literasi inklusif. Peran guru pendamping khusus dan pustakawan juga merupakan submateri yang dijabarkan, sebelum diakhiri dengan strategi kolaborasi efektif. Tak lupa, beliau menyampaikan bahwa output nyata dari pengabdian masyarakat ini salah satunya adalah buku yang ditulis berdasarkan hasil wawancara dari berbagai pengalaman guru-guru pendamping khusus serta pustakawan sekolah inklusi sebagai studi lapangan bagi penelitian Departemen Informasi dan Perpustakaan.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Peserta acara menyampaikan pemikiran mereka terkait pentingnya kesadaran (awareness) yang dipengaruhi besarnya pemahaman berbagai pihak seperti masyarakat, akademisi, dan pembuat kebijakan akan pentingnya aksesibilitas. Bu Khalissa dari SMPN 4 Surabaya memberikan sharing mengenai bagaimana menyiasati aksesibilitas di sekolahnya yang kurang strategis secara tata letak, yakni dengan memberi sosialisasi inklusi tak hanya pada guru tetapi juga siswa. “Di samping guru yang sudah mendapatkan workshop dari dinas, ada pemberian modal kepedulian siswa reguler. Di kelas, biasanya ada 4-5 siswa reguler yang dititipkan mendampingi siswa disabilitas, sehingga menularkan awareness untuk teman-teman lain,” ucapnya.
Pak Andri, GPK SMPN 5 Surabaya juga menuturkan kewajiban penerapan sekolah inklusi bagi SMP secara bertahap hingga resmi menyeluruh, meskipun penerapan baik di SMPN 5 maupun SMP lain yang dikunjunginya memang belum ideal. Sehingga, beliau mengharapkan adanya kolaborasi antara FISIP dan Dinas Pendidikan agar kenyataan di lapangan dapat tersampaikan dan memantik kepekaan dinas untuk mengutus panduan bagi penyandang disabilitas.
Saran ini sejalan dengan output nyata pengabdian masyarakat ini. “Nah, inilah yang hendak kita targetkan dengan menerbitkan buku. Supaya teori yang kami punya, bersama fakta di lapangan Bapak dan Ibu bisa disebarluaskan, termasuk disampaikan kepada pihak dinas dalam bentuk karya,” tutur Ibu Dr. Fitri Mutia, A.KS., M.Si. menyetujui sekaligus menutup sesi diskusi.
Berakhirnya sesi diskusi menandakan seluruh rangkaian acara telah terpenuhi. Acara ditutup dengan satu lagi sesi dokumentasi. Diharapkan dengan adanya pengabdian masyarakat ini dapat menjadi langkah kolaborasi antara Departemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga dengan sekolah-sekolah inklusi di Surabaya dalam mewujudkan aksesibilitas fisik dan informasi bagi kawan-kawan disabilitas.
Penulis: Fatimah Azzahra




