• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Seleksi Tenaga Sosial: Ketika Rekomendasi Mengalahkan Kompetensi

Editor Redaksi
21 Januari 2026
in Kolom Opini

Oleh: Azis Ibnu Thufail

JurnalPost.com – Proses rekrutmen tenaga sosial semestinya menjadi pintu masuk bagi individu-individu berpengalaman, berintegritas, dan memiliki rekam jejak nyata di masyarakat. Namun, temuan di lapangan menunjukkan bahwa mekanisme tersebut masih menyisakan persoalan serius, terutama terkait transparansi dan objektivitas seleksi.

Budi (bukan nama sebenarnya), seorang aktivis sosial yang telah lama terlibat dalam isu lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat lintas wilayah, mengikuti seleksi tenaga sosial setelah menemukan informasi lowongan secara daring. Ia lolos tahap seleksi administrasi dan tes tulis, sebelum akhirnya diundang mengikuti wawancara tatap muka di salah satu perguruan tinggi.

Pada hari pelaksanaan wawancara, suasana di lokasi menimbulkan sejumlah kejanggalan. Area kampus dipadati kendaraan travel yang mengangkut peserta secara berkelompok. Sejumlah peserta tampak datang dalam rombongan yang sama dan telah saling mengenal sebelumnya.

Berdasarkan pengamatan langsung, diskusi antarpeserta berlangsung intens di berbagai titik. Namun, topik pembahasan tidak berkisar pada substansi kerja sosial, tantangan lapangan, atau strategi pemberdayaan masyarakat. Sebaliknya, diskusi berfokus pada kisi-kisi pertanyaan wawancara serta isu keberadaan “surat rekomendasi” sebagai syarat tidak tertulis.

Ketika dikonfirmasi secara informal kepada beberapa peserta, muncul pengakuan bahwa rekomendasi dari pihak tertentu dianggap krusial dalam proses kelulusan. Salah seorang peserta menyebutkan bahwa tanpa rekomendasi, peluang lolos sangat kecil, dan wawancara hanya bersifat formalitas bagi mereka yang telah “membawa nama”.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kesetaraan kesempatan dalam seleksi. Jika rekomendasi informal memiliki bobot lebih besar dibandingkan kapasitas dan pengalaman, maka proses rekrutmen berpotensi kehilangan esensi meritokrasi.

Dalam sesi wawancara, Budi menjawab pertanyaan pewawancara dengan lugas dan berbasis pengalaman lapangan. Isu-isu yang diajukan merupakan bagian dari aktivitas hariannya di komunitas. Sebaliknya, beberapa peserta lain tampak kesulitan menjawab pertanyaan mendasar terkait tugas dan peran tenaga sosial.

Namun hasil akhir seleksi justru menunjukkan paradoks. Budi dinyatakan hanya lolos sebagai cadangan, sementara peserta yang dinilai tidak mampu menjelaskan tugas secara substantif justru dinyatakan lolos penuh dan langsung memperoleh lokasi penempatan.

Pola ini mengindikasikan bahwa proses seleksi belum sepenuhnya mengutamakan kompetensi. Ketidaksesuaian antara performa wawancara dan hasil akhir menimbulkan dugaan kuat adanya faktor non-teknis yang memengaruhi keputusan.

Jika praktik semacam ini terus dibiarkan, kualitas tenaga sosial di lapangan berisiko menurun. Program-program sosial yang menyasar masyarakat rentan bisa kehilangan efektivitas karena dijalankan oleh individu yang tidak memiliki kapasitas memadai.

Lebih jauh, kondisi ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi penyelenggara. Rekrutmen yang tidak transparan tidak hanya mencederai pelamar yang kompeten, tetapi juga merugikan masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.

Kasus yang dialami Budi mungkin bukan satu-satunya. Namun tanpa evaluasi menyeluruh dan pengawasan independen, praktik serupa akan terus berulang—menjadikan seleksi tenaga sosial bukan sebagai ruang mencari yang terbaik, melainkan yang terdekat.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.