Oleh : Khansa Rulif Mahadana
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Teknologi Yogyakarta
JurnalPost.com – Sejarah wilayah Uzbekistan yang terhimpit oleh daratan (Land Lock) ini dimulai pada masa Pada Abad Pertengahan, wilayah yang sekarang menjadi Uzbekistan adalah bagian dari Kekhanan Khwarezm, lalu selanjutnya berpindah ke khanate bukhara. Dimana pemerintahan saat itu dianggap yang memberikan pengaruh dan kemakmuran yang signifikan dalam perdagangan dan kebijakan regional. Karena wilayah Uzbekistan merupakan jalur perdagangan yang biasa di sebut dengan jalur sutra. Yang menghubungkan antara Eropa dengan Tiongkok dan Asia timur.
Pada era imperialisme yaitu tahun 1800-an hingga awal abad ke-19, Uzbekistan di kuasai atau di anexsasi oleh Kekaisaran Rusia, yang memperoleh kendali atas wilayah ini melalui penaklukan, perang dan perjanjian dengan kekhanan-kekhanan di sekitarnya yang menguasai asia tengah. Setelah runtuhnya Kekaisaran dan Tsar Rusia, Uzbekistan menjadi negara merdeka dan menjadi bagian dari Uni Soviet. Setelah Revolusi bolshevik wilayah Uzbekistan tetap dibawah pemerintahan komunis. Selama periode kepemimpinan Soviet, ekonomi dan infrastruktur Uzbekistan berkembang, tetapi wilayah administrasi Uzbekistan ini tetap landlocked dan tidak memiliki laut maupun wilayah yang bergaris pantai (Davidovich, 1998).
Uzbekistan meraih kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991 setelah keruntuhan Uni Soviet. Hal ini membuatnya menjadi salah satu negara yang merdeka di Asia Tengah. Meskipun Uzbekistan tidak memiliki akses langsung ke laut, negara ini tetap memiliki jalur perdagangan dan transportasi yang penting, terutama melalui jalan kereta api dan pipa minyak dan gas yang menghubungkannya dengan negara-negara tetangga.
Hubungan diplomatik antara Uzbekistan dengan Rusia ini sudah berlangsung sejak sebelum kehancuran Unisoviet. Namun secara resmi Uzbekistan membuka kedutaan dengan Rusia pada tahun 1991. Hubungan historis yang dekat antara Uzbekistan dengan Rusia menghasilkan berbagaimacam kerjasama yang terjalin. Dimana pada tahun 1992 Uzbekistan menandatangani kerjasama bilateral dengan Rusia. Isi perjanjian tersebut diantaranya kerjasama perdagangan, ekonomi, pertahanan dan politik antara kedua negara (Lubin, 1997).
Hubungan yang baik antara Uzbekistan dengan Rusia ini berlangsung harmonis tanpa adanya kendala kurang lebih selama 10 tahun setelah hancurnya uni soviet. Pada 2001 hubungan kerjasama antara Rusia dan Uzbekistan ini berada di fase puncaknya dengan kedua negara bergabung kedalam Sanghai China Organization (SCO). Kerjasama tersebut sangat membantu Uzbekistan dimana dalam perjanjian tersebut menjadikan banyak warga Uzbekistan yang menjadi pekerja di Rusia dimana hal tersebut sangat membantu perekonomian Uzbekistan. Kerjasama keamanan antara Uzbekistan dengan Rusia juga meningkat dengan terbentuknya Collective Security Treaty Organization (CSTO). Dimana banyak negara anggota pecahan Uni Soviet bergabung dan memiliki keamanan regional bersama. Hal tersebut membuat Uzbekistan menjadi lebih aman dari ancaman negara sekitarnya. Namun, hal tersebut tidak berjalan lama karena Uzbekistan pernah keluar dari CSTO sebanyak 2 kali dan keluar permanen pada tahun 2016. Keluarnya uzbekstan dari CSTO tersebut di sebabkan oleh terpilihnya Shavkat Mirziyoyev sebagai perdana mentri Uzbekistan (Pannier, 2022).
Puncak panasnya hubungan antara Uzbekistan dengan Rusia ini terjadi pada tahun 2005 dimana Uzbekistan menarik pangkalan militer Rusia yang berada di sana. Walaupun Hubungan antara Uzbekistan dengan Rusia yang sempat memanas pada tahun 2003, namun hubungan perdagangan antara kedua negara tetap berjalan lancar. Hubungan antara Rusia dengan Uzbekistan mulai membaik pada tahun 2010 dimana kedua negara mulai membangun kerjasama bilateral lagi. Uzbekistan dan Rusia bersama mengembangkan kerjasama dalam sektor energi, terutama di bidang gas alam dan energi nuklir. Pembangunan Kerjasama dalam pertahanan dan keamanan juga tetap menjadi pembahasan antara kedua negara saat itu (Lubin, 1997).
Dengan bergabungnya Uzbekistan kedalam Eurasian Economic Community (EurAsEC) pada tahun 2006 ketika memanasnya hubungan antara Uzbekistan dengan Rusia cukup membantu Uzbekistan untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. Namun keanggotaan Uzbekistan di dalam EurAsEC tidak berjalan lama ketika pada tahun 2014 Uzbekistan memilih untuk keluar. Pada 2017 perdana mentri Shavkat Mirziyoyev mengunjungi Moskow dimana pada saat kunjungan tersebut presiden Uzbekistan membicarakan langkah kerjasama antara kedua negara kedepannya. Dimana Uzbekistan sendiri tidak akan mampu bertahan sendirian tanpa bantuan negara sekitarnya. Sehingga hubungan bilateral merupakan cara Uzbekistan memperbaiki hubugan dengan negara sekitar. Dimana semenjak kunjungan ke Rusia pada tahun 2017 tersebut Uzbekistan menandatangani kontrak perdagangan senilai 3,8 Milyar US Dolar dengan Rusia. membaiknya hubungan antara Uzbekistan dengan Rusia ini berjalan hingga saat ini, dimana pada Pada tahun 2021 Rusia dan Uzbekistan menandatangani pembentukan Dewan Strategis antara kedua negara. Perjanjian tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerjasama bilateral dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, keamanan, dan budaya (Gusev, 2019).



