• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Sejarah, Fungsi, dan tujuan Periklanan

Editor Redaksi
3 Januari 2024
in Makalah

Nama kelompok : Ozza Jadid Riski Ferdinan, Rian Nailil Ubaidillah Pasha, Muhammad Ilham, Narendra Arga Dahana

Abstrak
Merancang sebuah iklan yang efektif dapat menjadi salah satu cara bagi perusahaan untuk memperkenalkan atau menawar- kan produknya kepada masyarakat luas dengan cara yang cepat, akurat, ringkas, ringkas dan jelas. Selain memberitahukan, penonton tentunya akan mengharapkan iklan-iklan yang menarik. Beberapa iklan sengaja dirancang dengan cara yang menyenangkan agar penonton tidak mudah bosan. Misalnya dengan menampilkan iklan-iklan yang menyenangkan dan menghibur yang dapat mem- bangkitkan minat penonton. Iklan yang asyik dan menarik sering kali dicari oleh mereka yang mencari hiburan. Tetapi iklan yang menghibur saja tidak cukup, tetapi juga harus mengarahkan orang membeli produk Anda Memang kita melihat iklan bertebaran dimana-mana, me- menuhi media cetak dan elektronik terus menerus. Namun, dari sekian banyak iklan yang beredar, tidak semuanya menarik dan mem- butuhkan perhatian. Terlepas dari apakah iklan membutuhkan per- hatian atau tidak, itu jelas kembali pada kebutuhan masing-masing individu. Agar pembuatan iklan berjalan secara efektif banyak sumber daya yang diperlukan. Waktu, tenaga, ide, pengetahuan, dan tentu saja biaya. Untuk itu, periklanan harus dapat mencapai tujuannya.

Pendahuluan
Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Setiap kegiatan bisnis pasti mengandung resiko, seperti halnya periklanan yang sering berhadapan dengan begitu banyak kritik dan tanda tanya. Lebih-lebih pada era globalisasi ekonomi yang disokong oleh revolusi informasi dan kompetisi terbuka seperti sekarang ini, periklanan telah menjadi persoalan dilematis yang kian tak berujung pangkal.

Harus diakui, memang sulit mencapai keselarasan dalam mempertimbangkan dampak komersial dengan aspek sosial budaya. Bahkan ada semacam dogma, iklan yang bagus dari sisi pemasaran, justru bermasalah karena menimbulkan dampak sosial budaya yang bersifat negatif. Sebaliknya, iklan yang dinilai berdampak sosial budaya positif, justru mandul dari segi pemasaran, maka iklan yang berhasil memadukan dampak komersial dan sosial budaya, akan melestarikan kehidupan produk itu sendiri, dalam jangka waktu panjang.

Pengertian Periklanan
Periklanan, dapat diartikan sebagai suatu bentuk komunikasi yang dibayar dengan tujuan membujuk orang untuk membeli. Definisi standar periklanan mencakup enam elemen penting:
1. Bentuk Komunikasi yang Dibayar: Periklanan melibatkan pembayaran untuk menyampaikan pesan, meskipun iklan layanan masyarakat dapat menggunakan ruang khusus yang gratis.
2. Identifikasi Sponsor: Selain menyampaikan pesan produk, periklanan mencakup proses identifikasi sponsor, menyoroti pentingnya kesadaran konsumen terhadap perusahaan pembuat produk.
3. Upaya Membujuk dan Mempengaruhi Konsumen: Tujuan periklanan adalah membujuk dan mempengaruhi konsumen, tidak hanya terfokus pada kehebatan produk tetapi juga menciptakan kesan positif terhadap perusahaan.
4. Media Massa Sebagai Penyampai Pesan: Periklanan memerlukan elemen media massa seperti radio, televisi, surat kabar, dan majalah sebagai saluran penyampaian pesan kepada audiens sasaran.
5. Sifat Bukan Pribadi: Periklanan bersifat bukan pribadi, ditujukan untuk khalayak luas dengan pesan yang tidak bersifat personal.
6. Audiens yang Dijelaskan: Dalam periklanan, penting untuk menentukan kelompok konsumen yang menjadi sasaran pesan.

Dalam praktiknya, periklanan bertujuan menyampaikan pesan secara cepat kepada konsumen melalui media elektronik (radio, televisi) dan media cetak (surat kabar, majalah). Media dianggap memiliki pengaruh terhadap perilaku, nilai, dan niat individu, memungkinkan produsen atau pengiklan mengubah paradigma lama dengan menempatkan calon konsumen sebagai subjek daripada objek.

Dari perspektif periklanan, perbedaannya dengan iklan terletak pada fokusnya. Periklanan menekankan komunikasi tidak langsung, mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan produk untuk menciptakan perasaan positif. Tujuan utama periklanan adalah komunikasi efektif, dengan efek akhir yang diharapkan adalah merubah sikap atau perilaku penerima pesan.

Periklanan didasarkan pada kelebihan dan kekurangan produk dengan penataan pesan untuk menciptakan perasaan menyenangkan yang dapat merubah pikiran konsumen untuk melakukan pembelian. Kesimpulannya, periklanan dapat dianggap sebagai jenis informasi yang menyediakan produk kepada publik melalui media, dengan tujuan utama menjual produk, jasa, atau ide.

Sejarah Periklanan
1. Periklanan Pada Zaman Mesopotamia
Iklan sudah menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia, bahkan sudah dikenal sejak zaman Mesopotamia dan Babilonia sekitar tahun 3000 SM. Pada masa itu, pedagang menyewakan kapal dan mengirim tenaga penjual untuk mengantarkan produk ke konsumen. Sistem distribusi dapat dilakukan antar rumah atau menggunakan “urban screamers”. Iklan pertama kali menggunakan pesan berantai yang disebut sebagai Word Of Mouth untuk membantu mereka yang masih awam dalam menjalankan bisnis.

Pada zaman Yunani dan Romawi, praktik perdagangan door-to-door masih tetap diterapkan, dan hal ini juga terjadi di masyarakat Romawi. Perkembangan periklanan di era Romawi tampak lebih maju dibanding metode sebelumnya. Informasi disebarkan melalui pahatan tembok kota, dan sistem pertukaran informasi cepat terbangun antara produsen dan konsumen.

Selain itu, penggunaan tanda, simbol, atau papan nama mulai dikenal, seperti yang terlihat pada segel batu milik T. Vindaius Ariovertstus yang menjual obat merek Chloron di Inggris. Penggunaan simbol di luar tempat usaha, seperti iklan cetak di dinding, disebut dengan hoarding, menjadi awal dari penggunaan media luar ruang yang kita kenal saat ini.

Seiring dengan penemuan kertas dan perkembangan media cetak, iklan cetak pertama di Indonesia muncul pada tahun 1816, berupa iklan tempel yang berisi informasi terkait penerbitan buku doa gereja.

2. Periklanan Menjelang Abad 19 Hingga Tahun 1930
Menuju akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, populasi dunia mengalami peningkatan umum, terutama dengan meningkatnya keterampilan literasi, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. AC. Nielsen, Daniel Strache, dan George Gallup mulai mempelajari sifat periklanan dan sistemnya secara keseluruhan, serta mengumpulkan opini publik tentang dampak periklanan pada audiens.

Pada era ini, terjadi pergeseran dalam penggunaan media dari media cetak menjadi media elektronik. Iklan radio mulai dikenal luas di Pittsburgh, Pennsylvania, pada tanggal 2 November 1920. Penggunaan televisi muncul pada tahun 1930-an, sehingga J. Walter Thomson mulai menjelajahi periklanan di layar kaca.

3. Masa Sebelum Ditemukannya Mesin Cetak
Para arkeolog meyakini bahwa periklanan sudah ada sejak zaman kuno. Iklan berlangsung dalam berbagai bentuk untuk mempublikasikan peristiwa dan penawaran. Cara pertama beriklan sangat sederhana, di mana pemilik komoditi yang ingin menjual barang dagangannya akan berteriak-teriak di gerbang kota untuk menawarkan dagangannya kepada wisatawan yang akan memasuki kota.

Masyarakat juga telah menggunakan bentuk iklan pesan berantai (Word of Mouth) dalam bentuk pengumuman. Pesan berantai dikomunikasikan dari mulut ke mulut untuk membantu menyederhanakan proses jual beli. Pesan iklan tertulis ditemukan pada era Babilonia sekitar tahun 3000 SM dalam bentuk potongan tanah liat dengan tulisan tentang pedagang salep, juru tulis, dan pembuat sepatu.

4. Masa Setelah Ditemukannya Mesin Cetak
Penemuan mesin cetak Gutenberg pada tahun 1450 meningkatkan tingkat melek huruf secara signifikan dan mendorong masyarakat untuk terlibat dalam bisnis periklanan. Periklanan berkembang secara massal, mengambil bentuk awal dalam poster, flyer, dan iklan baris di koran. Inovasi ini tidak hanya mendukung penyebaran informasi, tetapi juga memicu perkembangan industri periklanan yang terus berkembang hingga saat ini.

Fungsi periklanan
Fungsi periklanan sangat signifikan dalam dunia konsumen, memberikan kemudahan dalam mencari, membeli, atau menggunakan produk dan jasa. ada beberapa fungsi utama yang dijalankan periklanan, antara lain: informasi, yang menyampaikan detail produk dan lokasi penjualan; persuasif, yang mencoba mempengaruhi konsumen untuk memilih merek tertentu; serta pengingat, yang terus menerus mengingatkan konsumen tentang produk agar tetap dipilih.

Dalam pertumbuhan ekonomi, periklanan menjadi kunci karena konsumen cenderung memperhatikan iklan produk yang mereka beli. fungsi komunikasi periklanan, seperti memberi informasi, mempersuasi, mengingatkan, memberikan nilai tambah, dan mendampingi, sangat vital bagi kesuksesan perusahaan dan organisasi. Iklan yang efektif dapat menciptakan kesadaran merek, membujuk konsumen untuk mencoba produk, menjaga kesegaran merek dalam pikiran konsumen, memberikan nilai tambah, dan mendukung upaya pemasaran lainnya.

Tujuan periklanan
Tujuan utama dalam periklanan adalah menetapkan tujuan yang didasarkan pada keputusan masa lalu terkait pasar sasaran, positioning, dan bauran pemasaran. Keputusan ini menentukan tugas yang harus dilakukan dalam rencana pemasaran. Secara keseluruhan, tujuan periklanan adalah membangun hubungan pelanggan dengan menyampaikan nilai pelanggan. Tujuan iklan dapat diklasifikasikan berdasarkan fokus utamanya, seperti memberikan informasi, mempersuasi, atau mengingatkan.

Tags: #ilmukomunikasi#mahasiswailmukomunikasi#perkembanganteknologi#UntagSurabaya
Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

Editor Redaksi
24 Oktober 2024
0

Mata Kuliah : Bisnis Ekowisata Dosen Pengampu : Garsione Agni Andrea. S.Pd., M.Sc. Disusun Oleh : Yuni Eka Qotrunnada ​​(21045010076)...

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Ade Rizky Anantya1, Natalia Cristina Saragih2, Oktaviani Lumban Raja3, Dra. Berlianti, MSP4. Universitas Sumatera Utara Abstrak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial...

Pengaruh Asuransi Kesehatan Terhadap Kualitas Hidup Pekerja Informal Di Kota Medan

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Oleh: Elsi Apulina Br Tarigan (210902100), Mutiara Violanda Sinaga (210902026), Rizki Ananda (200902092) PENDAHULUAN Asuransi kesehatan merupakan salah satu hal...

Dinamika Pertamini: Studi Kasus Tentang Larangan Penjualan BBM Eceran Di Kota Samarinda, Kalimantan Timur

Editor Redaksi
3 September 2024
0

Jalu Aji Yodha Pradana, Nim. 2202016004 Administrasi Publik, Fisipol Universitas Mulawarman Email: [email protected] Masalah Utama Permasalahan penggunaan bahan bakar minyak...

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Editor Redaksi
19 Juli 2024
0

Ahmad Rasul Mahbubi 1)  Osinta Eka Febianti 2)  Muhammad Jamaluddin3) 1)Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.