• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

SAHUR, DI GACOAN?

Editor Redaksi
28 Maret 2024
in Kolom Opini

Penulis: Salsa Dinar Febriana (Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabya)

JurnalPost.com – Trend baru apa lagi ini? makan sahur tapi di gacoan? Siapa sih yang gatau gacoan. Restoran yang menyajikan hidangan mie level, dari yang rendah hingga level yang bikin bibir kalian jontor. Sebenernya trend ini sudah sering dilakukan oleh Masyarakat Indonesia sejak bulan puasa tahun lalu. Berdasarkan pencarian saya dari Wikipedia, Mie Gacoan berasal dari Bahasa Jawa ‘Gacoan’ yang artinya adalah jagoan atau andalan. Dari Namanya sendiri aja, sudah mengartikan bahwa Gacoan bisa diandalkan ya sebagai menu untuk sekedar makan bersama teman mungkin? Mie gacoan sendiri awalnya di dirikan di kota Malang pada tahun 2016 oleh seorang pria lulusan Sarjana Ekonomi, yang kemudian berhasil membuka cabang di beberapa Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.

Dokumentasi: guiden.id

Back to topic, sebenernya trend sahur di Gacoan ini sudah banyak dilakukan oleh Masyarakat Indonesia khususnya kaum-kaum anak muda. Tetapi berdasarkan hasil pencarian saya dari Dream.co.id di bulan Mei 2023 me mention salah satu video tiktok yang memperlihatkan antrean Gacoan yang meluber sampai ke jalanan. Pasalnya video tersebut diambil pada saat sahur pertama di tahun 2023. Nah, mengingat Mie Gacoan menyajikan menu mie yang sudah terkenal khas dengan kepedasanya. Apakah menu ini aman dikonsumsi untuk sahur dan untuk berpuasa selama satu hari? Meskipun masih ada si… menu mie di Gacoan yang Tingkat kepedasanya di angka 0.

Dokumentasi dream.co.id

0Trend tersebut dapat terjadi dari beberapa faktor, diantaranya tidak ada hidangan makanan dirumah untuk sahur, atau hanya sekedar FOMO belaka. Mengingat mie gacoan sendiri, merupakan hidangan yang sangat viral dan banyak diketahui oleh Masyarakat karena adanya platform tiktok dan konsumennya di dominasi oleh anak muda yang juga ikut meramaikan trendnya di tiktok. Dalam video tiktok tersebut, kebanyakan dari mereka yang datang adalah segerombolan keluarga yang hendak sahur. Dikutip dari komentar yang ada di video akun tiktok tersebut mengatakan bahwa “Demi apa sahur makan gacoan, apa tidak mencret siangnya” tulis akun @Chris di kolom komentar. Ada lagi yang berkomentar “yakin lmbung aman saur pkek gacoan??” tulis akun @punya kamu.

Memang tidak heran lagi dengan Masyarakat Indonesia yang mayoritas memang menyukai makanan pedas. Tetapi apakah mereka memikirkan Kesehatan perut atau dehidrasi setelah mengonsumsinya? Tetapi, tetapi hal tersebut bisa terjadi tergantung dengan Tingkat kepedasan. Berdasarkan data yang diambil dari website Halodoc.com 6 Mei 2020, menyatakan bahwasanya makanan pedas dapat menyerap air saat melewati saluran udara untuk udara dan makanan (bagian belakang kerongkongan) dan perut. Yang artinya peristiwa tersebut, setelah mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas dapat membuat anda sangat haus (dehidrasi) saat menjalani puasa. Pasalnya mie Gacoan di level 1 saja sudah terlalu pedas untuk kaum pemula yang mengkonsumsinya, bagaimana dengan level yang diatasnya.

Trend makan sahur di Gacoan kini mulai ramai lagi untuk dilakukan. Mengutip dari akun tiktok @linda Kristine mengatakan bahwa “minimal sekali seumur hidup harus nyobain sahur di gacoan”. Hal tersebut menjadi dinormalisasikan oleh Masyarakat dengan mengkonsumsi makanan pedas dan mie pada saat sahur. Apakah anak muda saat ini memang gemar sekali FOMO karena dipengaruhi dari faktor sosial yang mereka tonton. FOMO (fear of missing out) Dimana seseorang mengalami rasa takut jika tertinggal informasi yang sedang terjadi dikutip dari Binus University 2022.

Sebenarnya, orang-orang tidak perlu mengikuti trend tersebut hanya untuk dianggap kekinian. Hal tersebut akhirnya berhasil tertanam di pikiran orang Masyarakat Indonesia. Dan akhirnya tren trend tersebut Kembali dilakukan lagi pada bulan puasa ini. Mengikuti trend yang sedang viral memanglah hak setiap orang untuk melakukannya. Tetapi, alangkah baiknya jika hendak melakukan hal tersebut kita juga harus aware akan kesehatan kita selama berpuasa. Setidaknya, kita tahu Batasan-batasan trend mana yang baik untuk diikuti ataupun tidak. Mengingat puasa ini akan dilakukan dengan sebulan penuh.

Menikmati ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini tidak perlu memaksakan diri dengan apa yang seharusnya ada di media sosial. Memang pada dasarnya media sosial merupakan peluang termudah untuk memviralkan sesuatu yang heboh dan akan ramai diperbincangkan karena mayoritas penduduk Indonesia menggunakanya. Serta hal tersebut mudah sekali mendoktrin Masyarakat Indonesia untuk melakukan hal yang sama. Alih-alih ingin terlihat seperti anak muda kekinian. Sebenarnya hal itu lumrah saja dilakukan, selama tidak ada maksud lain dan melakukan hal tersebut karena bersifat tertentu. Misalnya, karena tidak adanya makanan untuk sahur dirumah. tentu saja hal tersebut mendesak dan objek memiliki maksud untuk sekedar sahur saja dan tidak ada maksud untuk mengikuti trend atau FOMO belaka. Berkreasi di media sosial memanglah hak bagi setiap orang untuk mengekespresikan diri. Tetapi, alangkah baiknya tidak ada unsur untuk mendoktrin dan mengharuskan orang lain untuk mengikuti hal yang sama.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.