
JurnalPost.com – Dunia tidak pernah lepas dengan eratnya budaya Patriarki (Nurlimah, 2012). hal tersebut dapat dilihat melalui tayangan sebuah film berjudul “The Substance” di sutradarai oleh Coralie Fargeat, dan di bintangi oleh aktris cantik ternama yaitu Margare Qually. Film “The Substance” mengangkat tema mendalam yang mengkritik budaya patriarki, menggambarkan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat yang masih kuat memegang nilai-nilai patriarkal. Sukses menembus 43 ribu penonton saat pertamakali rilis pada September 2024 karena dianggap sangat kuat dengan Langgengnya Budaya Patriarki yang menimpa perempuan. Oleh sebab itu film ini memiliki Tagline “Girls will be girls”
Mengisahkan seorang artis senior bernama Elizabeth yang berada di penghujung karirnya karena telah memasuki usia 50 tahun dimana fisiknya sudah mulai berubah. Namun pekerjaan menjadi seorang artis dan model iklan menuntunya untuk terus terlihat sempurna melalui simbol yang ditampilkan pada film yakni paras cantik, bertubuh langsing, dan memiliki jiwa lincah. Karena faktor usia dan fisik inilah yang menyebabkan Elizabeth melakukan berbagai tindakan yang tidak masuk akal agar Karirnya tidak berhenti sampai disitu yaitu dengan menyuntikan vaksin “substance” yang dapat merubah fisiknya kembali muda. Namun efek samping yang di timbulkan oleh vaksin tersebut berbahaya hingga dapat merubah dirinya menjadi monster selamanya.
Fenomena ini pernah diteliti pada tahun 2019 oleh Diana Anita ia menyebutkan jika Patriarki membuat perempuan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Dari tayangan film “the substance” mengisyaratkan jika bertambahnya usia perempuan dapat merubah penampilan hingga fisik yang menyebabkan ia kehilangan pekerjaan. Terdapat beberapa makna penting dari film “the substance” yaitu:
1. Kritik terhadap Standar Sosial Patriarki
Tayangan Film “The Substance” refleksi jika perempuan harus berjuang melawan standar sosial yang masih terjadi hingga saat ini. Mengeksplorasi tekanan sosial yang berdampak pada psikolgis perempuan.
2. Hilangnya Identitas diri
Menyoroti diri perempuan yang harus terus menerus menyesuaikan dengan harapan standar masyarakat sehingga perempuan kehilangan jati diri untuk menjadi dirinya sendiri.
3. Representasi Peran Gender dinilai kaku
Film “The Substance” memperlihatkan perempuan yang terjebak dalam peran gender tradisonal sehingga perempuan tidak dapat berkembang.
4. Efek Sosial dan Psikologis dari Patriarki
Film ini memperlihatkan bagaimana kontrol patriarki dapat mempengaruhi psikologis perempuan. Ia akan menjadi obsess untuk merubah dirinya dengan cara yang tidak masuk akal hanya untuk memenuhi standar masyarakat.
5. Pemberontakan
dalam film “the substance”, terdapat emosi dan transformasi karakter perempuan yang berusaha untuk melawan kendali patriarki yang menerjang kehidupan mereka. Ini menjadi simbol perlawanan terhadap struktur sosial yang tidak adil.
Tentang Penulis
Mutiara Ajeng Pramesti, Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2021. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang sedang menempuh Mata Kuliah Komunikasi & Gender, oleh bimbingan Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.



