
Sekarlana Alysha Putri & Niken Widi Astuti
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Di era digital saat ini, media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan remaja. Berbagai jenis unggahan media sosial tanpa disadari dapat memberikan tekanan psikologis pada remaja. Konten yang menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, standar kecantikan yang tidak realistis serta momen sosial yang memicu rasa tertinggal dapat mendorong terjadinya perbandingan sosial yang berlebih. Remaja sering kali tidak menyadari bahwa konten yang mereka konsumsi di platform seperti Instagram dan TikTok telah melalui proses seleksi sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan realitas.
Di tengah arus media sosial, kehidupan para remaja seringkali tampak baik-baik saja. Unggahan senyuman, pencapaian akademik, pertemanan yang terlihat hangat, hingga potongan kehidupan yang kerap kali terlihat sempurna mengisi lini masa setiap hari. Namun, di balik itu semua, tidak jarang remaja yang diam-diam memikul beban emosional. Proses membandingkan diri dengan orang lain yang berlangsung secara terus menerus, perlahan membentuk bagaimana mereka menilai diri sendiri (Suryani et al., 2023).
Pada dasarnya media sosial menyediakan ruang untuk berekspresi bagi remaja. Akan tetapi, ketika ruang tersebut menjadi ajang perbandingan sosial yang intens, dampak yang dihasilkan bukanlah hal yang positif. Remaja yang masih berada dalam fase pencarian jati diri seringkali mengaitkan nilai dirinya terhadap jumlah suka, komentar, dan pengakuan yang ada di dunia maya. Dalam kondisi seperti ini, media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, namun menjadi cermin yang seringkali memantulkan standar keberhasilan dan kebahagiaan yang sulit dicapai. Dalam psikologi, kecenderungan seorang individu membandingkan diri dengan orang lain dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial Menurut Festinger (dikutip dalam Anindita K, 2023), individu yang mempunyai keinginan untuk mengevaluasi keterampilan dan keyakinan mereka dengan mengevaluasi bagaimana orang lain memandang mereka.
Pada masa remaja, fase perkembangan ditandai dengan pencarian jati diri dan kebutuhan akan penerimaan sosial hal ini sejalan dengan teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson yang menyatakan bahwa remaja berada pada tahap identity vs role confusion, yaitu fase di mana individu berusaha memahami dan membentuk identitas dirinya (Kris, 2021). Identity vs role confusion merupakan tahapan seorang remaja akan mencoba banyak hal untuk mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya. Dalam pencarian mereka akan ada perasaan baru tentang perubahan fisik dan psikososial yang terjadi, remaja ditantang untuk secara mandiri mengintegrasikan identitas yang bermakna di mana masa lalu, sekarang, dan masa depan (Nadia et al.,2021). Media sosial seringkali menjadi ruang perbandingan tersebut, tidak hanya terbatas pada lingkungan terdekat, namun mencakup figur sebaya hingga tokoh populer yang menampilkan versi terbaik dari kehidupan mereka. Masalahnya, perbandingan yang terjadi di media sosial kerap kali tidak seimbang.
Remaja sering membandingkan kehidupan mereka dengan segala keterbatasan dan kegagalannya, dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang telah diseleksi. Foto, video, ataupun cerita yang tampil di dunia maya umumnya merupakan momen terbaik dari seseorang, bukan gambaran menyeluruh dari kehidupan orang tersebut. Saat perbandingan ini dilakukan secara terus menerus, akan menimbulkan tekanan psikologis yang semakin meningkat. Ketergantungan pada validasi dari eksternal juga menjadi tantangan tersendiri. Jumlah suka, komentar dan respon seringkali menjadi tolak ukur seberapa berharganya seseorang (Yulianto & Virlia, 2023).
Dampak perbandingan sosial terlihat dalam meningkatnya gaya hidup hedonisme, ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, dan kecemasan sosial. Sementara kebahagiaan, kualitas hidup, citra tubuh, harga diri, serta kesejahteraan subjektif cenderung mengalami penurunan (Wang, 2025). Melihat kondisi tersebut, persoalan media sosial pada remaja perlu dianggap sebagai tanggung jawab bersama. Cara remaja memaknai media sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan budaya masyarakat. Ketika standar keberhasilan dan kebahagiaan dipersempit pada apa yang dilihat di layar, ruang bagi para remaja untuk menerima dirinya sendiri akan semakin terbatas. Melihat kondisi tersebut, remaja dapat melakukan beberapa hal seperti menghapus akun-akun yang mengganggu kegiatan sehari-hari, memberikan batas waktu menggunakan sosial media, memberikan afirmasi positif ke diri sendiri, dan bercerita ke orang terdekat. Pada akhirnya, media sosial tidak harus diposisikan sebagai musuh perkembangan remaja. Dengan pendampingan yang tepat dan kesadaran kolektif, ruang digital dapat menjadi sarana belajar, berekspresi, dan membangun relasi yang bermakna.
Apa saja yang perlu dilakukan remaja agar media sosial tetap menjadi “pendamping” yang sehat?
Pertama, menggunakan media sosial dengan tujuan yang jelas. Misalnya untuk belajar, mencari informasi, mengembangkan bakat, atau menjaga komunikasi dengan teman dan keluarga. Dengan tujuan yang positif, penggunaan media sosial menjadi lebih terarah.
Kedua, tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran harga diri. Jumlah “like”, komentar, atau pengikut tidak menentukan nilai seseorang. Remaja perlu belajar menerima diri dan menghargai kemampuan yang dimiliki di dunia nyata.
Ketiga, mampu membatasi waktu penggunaan. Penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu belajar, tidur, kesehatan mental, dan hubungan sosial langsung. Keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata sangat penting.
Keempat, selektif terhadap konten. Remaja perlu memilih akun atau informasi yang memberi dampak positif, inspiratif, edukatif, dan mendukung perkembangan diri.
Kelima, tetap menjaga hubungan sosial di dunia nyata. Media sosial sebaiknya melengkapi interaksi, bukan menggantikan kehangatan komunikasi langsung dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar.
Keenam, mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Tidak semua informasi di media sosial benar. Remaja perlu belajar menyaring berita, memahami dampak unggahan, dan berpikir sebelum membagikan sesuatu.
Terakhir, menjadikan media sosial sebagai ruang pengembangan diri. Misalnya untuk berbagi karya, belajar keterampilan baru, mengikuti komunitas positif, atau membangun motivasi belajar dan kreativitas.
Secara psikologis, media sosial akan lebih sehat bagi remaja apabila digunakan dengan kesadaran diri, kontrol diri, dan keseimbangan hidup. Dengan demikian, media sosial tidak menjadi sumber tekanan psikologis, tetapi dapat menjadi sarana tumbuh, belajar, dan membangun relasi yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Anindita, K. (2023). Gambaran social comparison pada emerging adulthood pengguna media sosial
Kris. (2021, November 24). Tahapan identify vs role confusion yang belum selesai. Kompasiana.
Nadiah, S., Nadhirah, N. A., & Fahriza, I. (2021). Hubungan Faktor Perkembangan Psikososial dengan Identitas Vokasional pada Remaja Akhir. Quanta, 5(1), 21-30.
Suryani, A., Endarwati, A., Muchtar, A., Nadar, N., & Hairul, H. (2023). Pengaruh Media Sosial terhadap Self-Esteem Remaja: Tinjauan dari Perspektif Psikologi Sosial. EduPsyCouns: Journal of Education, Psychology and Counseling.
Wang, L. (2025). The Association Between Social Media and Self-Esteem among Adolescents. Journal of Education, Humanities and Social Sciences.
Yulianto, I. A., & Virlia, S. (2023). Pengaruh Social Comparison dan Adiksi TikTok terhadap Self-Esteem pada Remaja. Jurnal Diversita



