• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pro Kontra Teknologi AI, Artificial Intelligence baik atau buruk?

Editor Redaksi
7 November 2023
in Kolom Opini

Oleh Maysaro
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang

JurnalPost.com – Seiiring dengan perkembangan zaman, teknologi juga semakin berkembang dan tidak menutup kemungkinan akan munculnya temuan-temuan inovasi yang canggih. Contohnya teknologi kecerdasan buatan, AI atau Artificial Intelligence yang sekarang sudah bisa diakses oleh siapapun hanya dengan menggunakan internet.

Teknologi AI ini pertama kali ditemukan pada tahun 1956, namun baru mulai berkembang di tahun 2000-an. Setuju tidak setuju, kecerdasan buatan ini cukup memudahkan dalam mengerjakan aktivitas kita sehari-hari. Contoh, dengan adanya Google Maps membantu kita untuk mengetahui kondisi jalanan serta cuaca saat itu juga. Akan tetapi, mengapa masih banyak pihak yang pro kontra dengan keberadaan AI?

Pro Kontra terhadap AI
Kebanyakan orang beranggapan bahwa dengan adanya kecerdasan buatan maka kontribusi manusia sudah tidak lagi dibutuhkan, hal ini mengakibatkan maraknya pengangguran. Memang AI sangat membantu pekerjaan manusia, namun ada kalanya AI tidak bisa menyetarai kemampuan yang manusia miliki. Contohnya saja dalam hal pemikiran, manusia tentu lebih unggul sebab otak kita dapat berpikir secara alami. Sedangkan AI merupakan kecerdasan buatan yang mana telah dirancang untuk memberikan hasil sedemikian rupa.

Zaman sekarang ini dengan perkembangan yang makin pesat, AI sering kali disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Banyak contoh yang telah beredar di sosial media, contohnya menggunakan tubuh orang lain untuk mengedit wajah orang tertentu seperti artis atau yang lain. Selain berbahaya, hal ini tentunya sangat mengganggu kenyamanan.

Dampak lain yang ditimbulkan dengan adanya kecerdasan buatan ini yaitu ketergantungan, anggapan bahwa dengan adanya AI manusia bisa bebas tidak melakukan apapun dan hanya mengandalkan teknologi AI. Akhirnya, lambat laun otak kita akan tergerus dan mengakibat lambatnya proses berpikir. Padahal Artifical Intelligence awalnya diciptakan untuk membantu memudahkan pekerjaan, bukan untuk menggantikan pekerjaan manusia.

Perlu diingat bahwa kita harus pandai dalam memanfaatkan teknologi jika tidak ingin disesatkan. Akan ada banyak dampak buruk yang disebabkan sehingga sebagai manusia yang bijak sudah sepatutnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Baik buruknya AI ditentukan oleh kita sendiri yang menggunakannya. (*)

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.