
SURABAYA, JurnalPost.com. – Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan dua praktisi pemberdayaan masyarakat dalam program Praktisi Mengajar guna membekali mahasiswa dengan pengalaman langsung di lapangan. Kegiatan tersebut mengangkat tema Dari Teori ke Praktik: Strategi Komunikasi Pemberdayaan Berbasis Komunitas dalam Menggerakkan Perempuan, UMKM, dan Pemuda.
Dua narasumber yang hadir yakni Founder Omah Jaman Now, Evi Ratnasari, serta Founder Alas Institute, Achmad Danial Abidin. Keduanya berbagi pengalaman mengenai strategi komunikasi yang dinilai efektif dalam mendorong pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat itu menjadi wadah untuk mempertemukan teori yang dipelajari di ruang kelas dengan praktik yang dijalankan langsung di tengah masyarakat.
Pada sesi pertama, Evi Ratnasari menekankan bahwa setiap individu perlu memiliki visi sebagai arah dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, visi bukan sekadar cita-cita, melainkan pedoman dalam menentukan keputusan, menyusun prioritas, hingga menghadapi berbagai tantangan.
“Manusia hanya hidup karena memiliki visi, dan manusia punya visi karena mereka mendalami hidup,” ujar Evi.
Ia menjelaskan, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang mampu diberikan kepada lingkungan sekitar.
Dalam membangun komunitas Omah Jaman Now, Evi mengatakan pemberdayaan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui pelatihan semata. Menurutnya, yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran sosial agar anak muda mampu memahami persoalan di sekitarnya sekaligus terdorong menjadi bagian dari solusi.
“Masalah akan lebih cepat menemukan jalan keluar ketika diverbalkan bersama, karena setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda,” katanya.
Evi juga menilai komunitas harus mampu menyediakan ruang yang aman bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, membangun jejaring, hingga mengembangkan kreativitas tanpa rasa takut dihakimi.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa konsistensi erat kaitannya dengan kesadaran terhadap tujuan yang ingin dicapai.
“Konsistensi dibentuk melalui kesadaran sosial. Ketika seseorang memiliki kesadaran yang kuat terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya, maka ia akan lebih mudah menjaga komitmen,” ungkapnya.
Di akhir pemaparannya, Evi menyebut kesuksesan lahir dari kemampuan menyusun perencanaan secara matang, termasuk memperhitungkan kebutuhan, risiko, hingga langkah implementasi yang akan dilakukan.
Sementara itu, pada sesi berikutnya, Achmad Danial Abidin membagikan pengalamannya mendampingi masyarakat dalam menyelesaikan konflik antara perusahaan minyak dan gas dengan petani di Kabupaten Bojonegoro.
Danial menjelaskan, konflik tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh perbedaan kepentingan, tetapi juga cara pandang masing-masing pihak terhadap suatu persoalan. Karena itu, pendekatan komunikasi harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia mencontohkan perubahan strategi komunikasi yang dilakukan Alas Institute. Jika sebelumnya perusahaan hanya menyampaikan bahaya kebakaran terhadap operasional migas, pendekatan kemudian diubah dengan menyoroti dampak pembakaran lahan terhadap kesuburan tanah dan hasil panen petani.
Menurutnya, pendekatan tersebut lebih mudah diterima karena menyentuh kepentingan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Setiap orang memiliki cara pandang dan mendapatkan solusi yang berbeda-beda. Tugas kita adalah memahami perspektif tersebut sebelum mengajak mereka berubah,” ujar Danial.
Ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari tingginya angka pengangguran, pola pikir instan, minimnya keterampilan, hingga terbatasnya jaringan yang mendukung pengembangan diri.
Melalui program Praktisi Mengajar ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep komunikasi pembangunan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Pengalaman kedua narasumber menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari membangun visi hidup, menumbuhkan kesadaran sosial, memahami perspektif masyarakat, serta menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.




