• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Politik Indonesia, memang seburuk itu?

Editor Redaksi
17 November 2023
in Kolom Opini

Siti Yuliyanah (6662230135)
Mahasiswa Fisip Untirta 2023, semester 1
Mata Kuliah Ilmu Politik

JurnalPost.com – Sekarang kerap kali kita dengar issue permasalahan politik yang tidak berkesudahan dari masalah yang bisa dikatakan sepele sampai dengan yang sangat besarnya. Banyak faktor yang bisa menjadi pemicu akan munculnya konflik politim tersebut. Dan mungkin ini beberapa penyebab dari konflik politik Indonesia:’

Kesalahan sistem politik
Kondisi buruk politik Indonesia saat ini bisa dikatakan sebagai kesalahan sistem akibat sistem terdahulu. Karena satu sistem yang dulu mendikte sistem yang sekarang sehingga saat ini terkesan sangat sulit dalam memperbaiki kondisi perpolitikan saat ini. Sistem paling bawah di sebuah negara disebut human behavior dan sistem itu akan rusak jika tidak segera diperbaiki. Dan saat ini pun terdapat anggapan bahwa untum terjun kedalam dunia perpolitikan Indonesia saat ini membutuhkan dana yang tidak sedikit dan itu juga termasuk salah satu kesalahan sistem politik.

Politik saat ini hanya mementingkan kebutuhan dan kepuasan pribadi, bukan negara maupun masyarakat. Politik sekarang hanya dongeng kicauan burung dalam ruang lingkup masyarakat. Politik juga berkembang menjadi bahan lucu bagi kebanyakan orang saat ini.

Kelembagaan partai politik Indonesia yang masih lemah
Partai politik mempunyai kedudukan penting dalam sebuah sistem demokrasi perwakilan. Partai politik ini diharapkan menjadi instrumen yang strategis untuk perkembangan demokrasi Indonesia di masa depan nanti. Akan tetapi setelah era reformasi terjadi penurunan tinglat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.

Terdapat beberapa faktor yang membuat tingkat kelembagaan partai politik belum dapat berkembang dengan baik. Partai-partai yang ada umumnya relatif baru sehingga infrastruktur partai belum terbangun dengan baik. Selain itu, partai-partai kerap mengalami konflik yang menguras tenagadan waktu sehingga tidak ada waktu untuk membangunpelembagaan partai politik. Para elite pun belum menjadikan AD/ART berpartai yang menghormati perbedaan budaya politik demokrasi di kalangan elite partai belum sepenuhnya tumbuh. Unsur patrimonialisme atau bahkan feodalisme masih kuat di kalangan elite partai.

Supaya partai politik berfungsi dengan baik harus ada penguatan kelembagaan partai politik agar menjadi institusi demokrasi yang kuat dan berjalan dengan optimal. Adapun upaya penguatan seperti penguatan platform partai, kaderisasi, dan menciptakan kohesivitas internal partai adalah hal-hal yang harus segera dilaksanakan.

Politik identitas sebagai tantangan dalam demokrasi
Banyak isu politik identitas yang beredar akan mengancam persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Apalagi jika penggunaan isu keagamaan dalam penghimpunan dukungan politik mempunyai peluang besar yang bisa saja ditumpangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan hanya menginginkan perpecahan Indonesia. Jika hal ini berlanjut, semangat persatuan dan kesatuan yang rendah akan meningkatkan potensi polarisasi masyarakat bahkan elite politik. Politik identitas juga berpotensi menghancurkan prinsip-prinsip demokrasi. Sudah seharsunya kita tahu bahwa sistem demokrasi telah menjadi sistem pemerintahan yang dianut Indonesia mengingat pluralisme masyarakatnya. Apabila isu populisme dalam politik identitas semakin kuat maka tidak akan ada lagi keadilan sosial, persamaan hak untuk seluruh rakyat Indonesia, bahkan kebebasan untuk orang lain maupun diri sendiri.

Politik uang, induk, dan korupsi
Hal-hal ini bisa meruntuhkan intergritas dari sistem politik. Menyebabkan kebohongan, kerugian, kesengsaraan, dan penderitaan bagi masyarakat. Dari politik uang yang hanya mementingkan kpenetingan pribadi agar bisa terjun diramah politim dengan segala cara. Atau korupsi yang merajalela, dengan para petinggi yang haus akan sebuah kefanaan dunia perpolitikan. Itulah sebabnya KPK mencanangkan strategi Trisula, yaitu pendidikan, pencegahan, dan penindakan untuk memberantas korupsi. Dengan pendidikan antikorupsi yang baik, masyarakat yang cerdas akan mampu memilih pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.

Politik dinasti
Sistem politik dinasti dapat mengandung konotasi negative ketika sitem perpolitikan tersebut dipadupadankan pada pengambilan kekuasaan. Makna kepemimpinan bukan lagi menjadi hal krusial pada sistem dinasti dengan konotasi negative. Dalam sebuah lembaga politik, mereka yang masih mempunyai hubungan dekat dengan keluarga acap kali mendapatkan keistimewaan untuk menempati berbagai posisi penting dalam puncak hirarki kelembagaan organisasi. Dinasti politik akan menumbuhkan oligarki politik dan iklim yang tidak kondusif bagi upaya regenerasi kepemimpinan.

Upaya untuk memperbaiki buruknya politik di Indonesia salah satunya adalah dengan meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam kebijakan publik, pemerintah harus sering dilakukan penyuluhan atau simulasi yang terkait dengan peran-peran yang bisa mereka lakukan dalam publik, sehingga masyarakat mengetahui cara dan media yang dapat mereka pakai untuk berperan serta dalam perumusan kebijakan publik tersebut. Selain itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya kaum Gen Z sekarang karena mereka di masa yang akan datang menjadi tonggak awal pembaharuan termasuk di dunia perpolitikan dan juga para pembuat kebijakan publik sehingga mereka mampu mengatasi berbagai tindakan partisipatif dari masyarakat yang seringkali menimbulkan konflik, selain itu meningkatkan kemampuan para pembuat kebijakan untuk dapat menentukan alternatif-alternatif yang tepat dan memilihnya untuk dijadikan sebuah kebijakan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.