• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Politik Demokrasi Kehilangan Harga Diri

Editor Redaksi
16 Desember 2023
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Demokrasi adalah sistem politik yang tidak abadi. Baik faktor dari luar maupun individu yang hidup di negara demokrasi itu sendiri bertanggung jawab atas kematian demokrasi. Suara terus menerus tentang hal ini dapat mengurangi dan menggerogoti kepercayaan masyarakat akan manfaat dan pentingnya demokrasi. Sepertinya demokrasi, yang dulunya dianggap sebagai representasi kemenangan prinsip-prinsip kebebasan dan partisipasi publik, sedang mengalami krisis identitas. Kebijakan dan keputusan yang dibuat dapat merusak demokrasi itu sendiri ketika mereka terjebak dalam lingkaran politik finansial.

Sekarang kita sering mendengar tentang korupsi yang merajalela. Penyalahgunaan kekuasaan dan dana publik oleh para yang katanya “pemimpin”, yang seharusnya mewakili kehendak rakyat, menimbulkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap integritas demokrasi dan merupakan salah satu pilar demokrasi. Selain itu, korupsi dapat mengganggu pembangunan dan ekonomi, berujung pada kekecewaan terhadap lembaga-lembaga demokratis.

Selain itu, politisasi kebohongan dan disinformasi telah merusak demokrasi kontemporer. Untuk mencapai tujuan politik mereka, para pemimpin tidak jarang menggunakan retorika yang menyesatkan dan menggiring opini publik dengan narasi yang tidak benar. Hal ini merusak keyakinan masyarakat terhadap sistem demokratis. Ironisnya lagi, dalam sistem yang seharusnya memungkinkan percakapan bebas, banyak negara demokratis menghadapi ancaman yang signifikan terhadap hak-hak yang seharusnya tetap diam. Pemimpin yang otoriter sering membatasi kebebasan media dan menekan suara oposisi, membawa demokrasi ke arah yang semakin represif.

Pada awalnya, politik identitas dianggap sebagai bentuk perbedaan yang diterima dalam masyarakat demokratis, tetapi seringkali menjadi alat untuk memecah belah dan menimbulkan perbedaan. Identitas sering menyebabkan perbedaan dan konflik dalam masyarakat. Ketidaksetaraan yang semakin meningkat di negara-negara demokratis ini menyebabkan ketidaksetaraan yang dapat merusak demokrasi. Orang-orang dalam masyarakat yang merasa terpinggirkan dan tidak memiliki representasi dapat kehilangan kepercayaan pada sistem yang seharusnya menjaga hak-hak mereka.

Akan selalu ada harapan bagi demokrasi untuk mengembalikan harga dirinya, meskipun tantangan ini nyata. dengan memperkuat institusi dan memberantas korupsi. menganjurkan pendidikan politik yang mendidik warga tentang hak dan kewajiban mereka dalam demokrasi. memberi media kebebasan untuk memberikan informasi yang objektif dan dapat diandalkan. Agar demokrasi tetap dapat dirasakan adil oleh semua warga negara, partisipasi aktif warga terutama mahasiswa, dalam proses politik dan pentingnya mendengarkan serta menghormati keragaman pendapat juga harus diperkuat.

Harga diri yang hilang dalam demokrasi bukanlah takdir yang tidak dapat dihindari. Kita dapat mengembalikan nilai-nilai dasar demokrasi seperti kebabasan, keadilan, dan partisipasi dengan tekad untuk perubahan dan partisipasi aktif dari semua pihak. Resiko demokrasi yang semakin meningkat dapat menjadi kenyataan yang sulit diubah jika kita tidak menantikan dan bertindak.

(CITRA SYAHRANI, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA, FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT, PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT)

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.