
Oleh: Shabrina Ratna Pavita
Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang
JurnalPost.com – Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatat peningkatan persalinan berkepanjangan di Indonesia, meningkat dari 35% pada tahun 2012 menjadi 41% pada tahun 2017 (Kemenkes, 2018) Mengurangi rasa nyeri selama persalinan adalah langkah penting dalam mencegah persalinan yang berkepanjangan dan dampak negatifnya pada ibu dan bayi.

Persalinan adalah suatu proses di mana leher rahim membuka dan menutupnya dengan disertai masuknya janin dan plasenta ke dalam jalan lahir hingga pelepasan sempurna terjadi, termasuk selaput ketuban. Proses ini terjadi ketika kehamilan telah mencapai usia antara 37-42 minggu atau ketika janin sudah berusia satu bulan. Persalinan ini terjadi dengan kepala janin berada dalam posisi kepala ke bawah, dengan lubang tengkorak yang lebih kecil, dan secara alami menggunakan tenaga ibu tanpa menimbulkan risiko bagi ibu dan bayi, kecuali dalam kasus episiotomi. Selain itu, proses ini berlangsung kurang dari 24 jam tanpa komplikasi bagi ibu dan bayi (Wagiyo & Putrono, 2016).
Selama proses kelahiran, ibu akan mengalami berbagai ketidaknyamanan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini termasuk posisi tubuh yang tidak nyaman, keringat berlebihan, cairan ketuban yang terus-menerus keluar, tekanan pada kandung kemih, rasa mulut kering, kecemasan, dan rasa takut.
Respon terhadap rasa sakit juga bervariasi. Seiring meningkatnya intensitas kontraksi saat persalinan berlangsung, kesadaran ibu terhadap lingkungan sekitarnya menurun dan ia mungkin kesulitan dalam mendengar serta memahami instruksi verbal. Cara ibu mengatasi nyeri selama kontraksi juga beragam, mulai dari menggunakan teknik pernapasan hingga mengubah posisi tubuh. Ada yang mulai dengan rintihan ringan, ekspresi wajah yang menunjukkan kesakitan, hingga penggunaan suara keras ; semuanya merupakan cara ibu menghadapi proses persalinan.
Nyeri pada kala pembukaan disebabkan oleh membukanya mulut rahim, misalnya peregangan otot polos merupakan rangsangan yang cukup menimbulkan nyeri. Terdapat hubungan erat antara besar pembukaan mulut rahim dengan intensitas nyeri (makin membuka makin nyeri), dan antara timbulnya rasa nyeri dengan timbulnya kontraksi rahim (rasa nyeri terasa +15-30 detik setelah mulainya kontraksi).
Upaya dalam meredakan nyeri pada saat persalinan antara lain pelayanan ibu yang bertujuan untuk membantu ibu agar merasa aman dan nyaman pada saat proses persalinan, salah satu pelayanan asuhan ibu diberikan pada kala I persalinan (Hendrawan, 2020). Pereda nyeri tanpa rasa sakit dengan memberikan intervensi dalam pendekatan non-farmakologis salah satunya. Tindakan pereda nyeri tanpa farmakologi dimana bisa diterapkan sejak awal kehamilan pengaturan psikologis ibu, relaksasi, pijat, stimulasi kulit, aromaterapi, hipnosis, akupunktur dan yoga. Tindakan ini dilakukan dengan menekan otot atau ligamen tanpa merubah posisi untuk mengurangi nyeri, menyebabkan relaksasi, dan meningkatkan sirkulasi (Fitriahadi & Utami, 2020).
Pijatan lembut selama persalinan membantu ibu merasa segar, rileks, dan nyaman. pijatan selama 20 menit setiap jam selama persalinan dapat mengurangi rasa sakit karena merangsang tubuh melepaskan 22 senyawa endorfin, yang adalah pereda nyeri alami serta menciptakan perasaan nyaman dan gembira. Bagian tubuh ibu yang dapat dipijat mencakup kepala, leher, punggung, dan kaki (Meiliasari & Danuatmaja, 2004). Terdapat berbagai metode pijatan seperti effleurage, deep back massage, rubbing massage, counter pressure, dan abdominal lifting yang dapat digunakan (Fitriahadi & Utami, 2020)..
Counter pressure adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengurangi rasa nyeri selama persalinan. Teknik ini melibatkan pemberian tekanan yang kuat dan berkelanjutan pada titik tertentu di bagian bawah punggung selama kontraksi. Tekanan ini dapat diberikan dengan menggunakan kepalan tangan, pangkal telapak tangan, atau benda keras, dan biasanya dilakukan oleh seorang penolong persalinan atau tenaga medis yang memberikan perawatan (Rejeki et al., 2020). Teknik pijatan lainnya ada teknik effleurage, metode pijatan yang digunakan untuk mempercepat penurunan nyeri dengan menggunakan sentuhan tangan, dengan tujuan menciptakan efek relaksasi (seperti yang dijelaskan oleh (Rahayu et al., 2022). Effleurage adalah metode pijatan yang melibatkan penggunaan ujung jari dengan lembut dan lembut di area perut dan paha. Biasanya, teknik ini digunakan saat kala I persalinan. Selama pelaksanaannya, gerakan mengusap dilakukan secara ringan, tanpa memberikan tekanan yang kuat, dan jari-jari selalu berada dalam kontak dengan permukaan kulit sepanjang waktu (Marmi, 2016).
Manfaat Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Teknik Counter pressure, ketika digunakan selama kontraksi pertama pada saat persalinan, membuktikan manfaatnya bagi perempuan dengan mengurangi rasa sakit yang mereka alami. Ini menghasilkan perasaan ketenangan selama proses persalinan. Pendekatan ini terbukti sangat efektif karena melibatkan pijatan lembut. Teknik pijat ini melibatkan sentuhan lembut juga terbukti bermanfaat dalam mengatasi nyeri punggung yang sering muncul selama proses persalinan. Dengan menggunakan teknik tekanan balik, perempuan dapat merasakan kenyamanan dan meredakan rasa sakit yang tidak menyenangkan selama kontraksi atau bahkan di antara kontraksi (Lane, 2009, sebagaimana dikutip dalam (Satria, 2018). Dalam buku lain (Monsdragon, 2004, sebagaimana dikutip dalam (Pasongli et al., 2014), dijelaskan pula bahwa teknik tekanan balik taktis membantu meredakan nyeri akut dan menciptakan perasaan nyaman yang membantu mengatasi ketidaknyamanan selama kontraksi atau di antara kontraksi (Ahmad et al., 2023). Lalu Penggunaan teknik effleurage dalam pijatan terbukti efisien dalam mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan selama persalinan karena mampu meningkatkan kesehatan sendi, meningkatkan aliran darah, serta memperbaiki kondisi otot dan jaringan tubuh lainnya ( wijanarko & Riyadi, 2010 dalam (Rahayu et al., 2022).
Mekanisme Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Teknik pijatan counter pressure berupa tekanan kuat menggunakan berbagai bagian tubuh seperti tumit tangan, bagian datar tangan, atau bola tenis pada area sakrum atau lumbal dapat mengatur atau bahkan menghambat impuls nyeri melalui mekanisme pertahanan di berbagai tingkat sistem saraf pusat. Teori Gate Control oleh Melzack dan Wall menjelaskan bahwa impuls nyeri akan terhambat saat mekanisme pertahanan tersebut ditutup. Selain itu, teknik counter pressure juga memanfaatkan prinsip teori endorfin opiat endogen, di mana reseptor opiat di otak dan sumsum tulang belakang berperan dalam mengaktifkan endorfin dan enkefalin saat rasa sakit muncul. Melalui pijatan dan tekanan yang kuat, pelepasan endorfin dapat dipicu, yang pada gilirannya dapat menyebabkan relaksasi otot dan mengurangi rasa sakit.
Effleurage, yang didasarkan pada teori kontrol pintu, bertujuan untuk menghambat sinyal nyeri dengan merangsang serat taktil pada kulit. Dengan menggunakan gerakan menjentikkan, pesan yang dihasilkan bergerak melalui serabut saraf yang lebih besar, yaitu serabut Delta A, yang bertindak sebagai penghalang untuk mencegah sinyal nyeri mencapai korteks serebral. Hal ini mengubah persepsi nyeri karena serabut pada permukaan kulit memiliki diameter yang lebih besar daripada serabut saraf kecil yang menghantarkan nyeri. Penggunaan teknik effleurage juga dapat merangsang produksi hormon endorphin secara alami, yang mengurangi rasa sakit dengan mengubah transmisi sinyal yang diterjemahkan sebagai nyeri. Hormon endorphin berperan dalam menghambat transmisi pesan nyeri di sinapsis sel-sel saraf, yang menghasilkan penurunan sensasi nyeri (Santiasari, 2018).
Teknik Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Teknik pijatan counter pressure dapat diterapkan di area lumbal di mana saraf sensorik rahim dan mulut rahim berjalan bersamaan dengan saraf simpatis rahim yang masuk ke dalam sumsum tulang belakang melalui jalur saraf torakal 10-11-12 dan lumbal yang berlokasi di bawah tulang belakang. Ada variasi dalam cara melaksanakan teknik counter pressure, mulai dari tekanan pada sakrum dengan tangan dalam gerakan teratur hingga pemijatan pada bagian lumbal dengan intensitas tekanan yang kuat.
Teknik pijatan counter pressure lain juga dapat dilakukan dengan menempatkan tumit tangan atau bagian datar tangan, atau bahkan menggunakan bola tenis untuk memberikan tekanan yang kuat, baik dengan gerakan lurus atau lingkaran kecil. Teknik pijatan ini efektif dalam mengurangi rasa sakit pada punggung, kaki, dan tangan (seperti yang dijelaskan oleh Mander pada tahun 2012, sebagaimana dikutip dalam (Ahmad et al., 2023). Menurut (Yuliawati, 2019) Tindakan counter pressure dilakukan dengan menekan sakrum secara bergantian dengan tangan yang dikepalkan secara beraturan frekuensinya 5 kali his, dilakukan selama 2 – 5 menit selama kontraksi berlangsung. Untuk melakukan pijatan ini, dapat menggunakan minyak sayur, minyak pijat, atau sedikit bedak untuk membuat tangan lebih licin dan memberikan kenyamanan kepada ibu (Marmi, 2016:141). Teknik lainnya, effleurage terdapat dua metode :
- Teknik penggunaan kedua tangan
Pendekatan ini memungkinkan ibu yang melahirkan untuk melakukan teknik ini sendiri dengan menggunakan kedua telunjuk tangan. Ini melibatkan gerakan lembut hingga kuat yang mengelilingi area perut. Awalnya dimulai di bagian bawah perut di atas simfisis pubis, kemudian bergerak ke sisi perut, dan kemudian ke bagian bawah perut di sebelah pubis (Seperti yang dijelaskan oleh Bobak dan Lowdermilk dalam buku, yakni (Rahayu et al., 2022).
- Teknik penggunaan satu tangan
Teknik ini biasanya dilakukan oleh pihak lain, seperti keluarga ibu atau tenaga kesehatan yang memberikan bantuan selama persalinan. Mereka menggunakan ujung jari tangan untuk melakukan gerakan lembut dengan sedikit tekanan pada perut ibu. Teknik ini dijalankan dengan gerakan angka delapan yang dilakukan dengan lembut, tegas, dan konsisten (Sesuai dengan penjelasan Bobak dan Lowdermilk dalam buku, yaitu (Rahayu et al., 2022).
Prosedur Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Prosedur teknik counter pressure :
- ibu untuk mencari posisi yang nyaman selama proses persalinan, seperti berbaring miring ke kiri atau duduk.
- Ratakan baby oil di telapak tangan dan gosok-gosokkan kedua tangan sampai terasa hangat.
- Tekan dengan kuat pada titik di bagian bawah punggung (REGIO SAKRALIS) saat terjadi kontraksi dengan menggunakan pangkal telapak tangan atau ibu jari (lakukan tindakan ini sebanyak 3 hingga 4 kali).
Prosedur teknik effeurage:
- Mulailah dengan mengatur posisi tidur ibu, posisikan tubuhnya dalam posisi terlentang yang santai dengan satu atau dua bantal. Pastikan kaki diregangkan sekitar 10 cm dan kedua lutut ditekuk membentuk sudut sekitar 45 derajat.
- Saat kontraksi berikutnya terjadi : tempatkan kedua telapak ujung jari tangan di atas simfisis pubis.
- Dengan nafas dalam yang lembut, usapkan kedua ujung jari tangan ini dengan tekanan ringan, tetapi tegas dan konsisten ke sisi abdomen, mengelilingi area samping abdomen dan menuju ke arah fundus uteri.
- Setelah mencapai fundus uteri, dengan perlahan-lahan pada saat ekspirasi, siapkan kedua ujung jari tangan tersebut menuju ke bagian bawah perut di atas simfisis pubis, melalui daerah umbilikus.
- Ulangi gerakan ini selama kontraksi berlangsung.
Indikasi Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Indikasi untuk penggunaan teknik ini adalah kondisi tubuh yang memerlukan manipulasi, dan teknik ini memberikan manfaat yang positif. Beberapa indikasi tersebut mencakup:
1) Keadaan tubuh yang sangat lelah.
2) Kelainan tubuh, seperti rasa nyeri pada persendian.
3) Gangguan dalam sistem saraf.
4) Keluhan dan kelemahan otot (seperti yang dijelaskan oleh Alimah dalam buku, yaitu (Rahayu et al., 2022).
Hubungan Antara Ibu dan Pendamping Penting Mendukung Pengurangan Nyeri dengan Pijatan Counter Pressure dan Effleurage
Komunikasi dan keterlibatan mitra serta pendukung sangat penting pada saat memberikan counter pressure dan effleurage massage pada ibu saat melahirkan. Melalui komunikasi yang baik, pasangan dapat memahami kebutuhan dan kesukaan ibu serta memberikan dukungan yang sesuai. Pijat counter pressure dan effleurage tidak hanya meredakan nyeri persalinan secara alami dan efektif, tetapi juga memperkuat ikatan emosional di antara keduanya. Ketika pasangan secara aktif berpartisipasi dalam pijat, ikatan yang lebih dalam tercipta dan hubungan mereka diperkuat. Dengan mendorong pembaca untuk mencari lebih banyak informasi dan mempelajari teknik lain untuk meringankan nyeri persalinan, diharapkan dapat memberikan dukungan tambahan bagi ibu dan pasangan untuk menjalani proses persalinan dengan lebih tenang dan percaya diri.
Referensi
Ahmad, M., Hamdiah Ahmar, Mk., Firda Liantanty, Mk., Keb Baig Dika Fatmasari, M., Kiki Reski Rahmadani Bakri, Mk., Yatri Hilinti, Mk., & Asmah Sukarta, Mk. (2023). PENATALAKSANAAN NYERI PERSALINAN NON FARMAKOLOGIS.
Fitriahadi, E., & Utami, I. (2020). Buku Ajar Asuhan Persalinan & Managemen Nyeri Persalinan.
Hendrawan, B. (2020). Buku Mengurangi Rasa Sakit Persalinan Efforts to Improve Physical Fitness Through a Game-Based Physical EducationProgram (Classroom Action Research at SD Muhammadiyah and MI Muhammadiyah Tasikmalaya) View project MENGURANGI RASA SAKIT PERSALINAN DENGAN SHIATSU View project. https://www.researchgate.net/publication/341998934
Kemenkes. (2018). Profil Kesehatan Indonesia.
Marmi. (2016). INTRANATAL CARE Asuhan Kebidanan Pada Persalinan.
Meiliasari, meli, & Danuatmaja, B. (2004). PERSALINAN NORMAL TANPA RASA SAKIT.
Pasongli, S., Rantung, M., & Pesak, E. (2014). Efektifitas Counterpressure Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif Persalinan Normal Di Rumah Sakit Advent Manado. Jurnal Ilmiah Bidan, 2(2), 12–16.
Rahayu, S., Puspita, M., Rosiana, H., & Nasrawati. (2022). Teknik Massage Effleurage & Pijat Oksitosin.
Rejeki, N. S., Kp, S., Kep, M., & Mat, S. (2020). Buku ajar Manajemen Nyeri Dalam Proses Persalinan (Non Farmaka) i BUKU AJAR MANAJEMEN NYERI DALAM PROSES PERSALINAN (NON FARMAKA).
Santiasari, R. (2018). EFEKTIVITAS PIJAT EFFLEURAGE DAN COUNTERPRESSURE TERHADAP KEMAJUAN DILATASI SERVIKS PADA KALA I FASE AKTIF EFFECTIVENESS OF EFFLEURAGE AND COUNTERPRESSURE MASSAGE IN CERVICAL DILATATION. Media Ilmu Kesehatan, 7(3).
Satria, M. (2018). PENGARUH SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PIJAT PUNGGUNG TEKNIK COUNTERPRESSURE TERHADAP PENGURANGAN RASA NYERI IBU BERSALIN KALA I FASE AKTIF DI KLINIK BIDAN ELVIANA TAHUN 2017. XII(5).
Wagiyo, & Putrono. (2016). Asuhan Keperawatan Antenatal, Intranal & Bayi Baru Lahir Fisiologis dan Patologis.
Yuliawati, Y. (2019). Efek Kombinasi Counterpressure dan Pelvic Rocking terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Persalinan Normal Kala I Fase Aktif. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai, 12(2). https://doi.org/10.26630/jkm.v12i2.1983

