Latar Belakang
Sektor industri sangat penting bagi pembangunan ekonomi karena memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor industri juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dengan menjadi komponen produktif. Indonesia adalah Negara berkembang dan kegiatan pembangunan ekonomi yang dilakukan bertujuan agar mengurangi permasalahan perekonomian yang ada. Pembangunan ekonomi akan terus berkembang apabila dilakukan sesuai dengan alur nya tepat agar sesuai tujuan dan sasarannya (Syara, 2019). Hal ini dilakukan melalui jalur industrialisasi. Manufakcturing Industri hampir selalu mendapat periorotas utama dalam rencana pembangunan Negara yang berkembang.Sektor industry ini dijadikan sebagai pemimpin yang artinya dengan melakukan pembangunan industri akan menaikkan sektor lainnya di bidang jasa maupun pertanian. Di Negara Indonesia sektor industri manufaktur adalah suatu sektor yang mengalami perkembangan sangat pesat. Manufaktur merupakan salah satu industri yang sangat terpengaruh oleh Revolusi Industri 4.0 (Asmara, 2018). Tidak hanya dalam proses manufaktur, tetapi juga di seluruh rantai nilai industri, menghasilkan pengembangan model bisnis digital baru untuk mencapai efisiensi tinggi dan kualitas produk yang lebih tinggi. Revolusi Industri 4.0, di sisi lain, menimbulkan kekhawatiran akan pergantian tenaga kerja manusia oleh robot dan melemahnya perusahaan lokal.
Industri Manufaktur
Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri. Industri manufaktur, atau biasa juga disebut industri sekunder atau industri non- ekstraktif. Industri manufaktur mengubah bahan mentah menjadi barang jadi yang memiliki nilai jual dan dapat dikonsumsi atau digunakan oleh konsumen. Bahan mentah dari industri manufaktur adalah barang jadi yang dihasilkan oleh industri primer. Industri manufaktur sering kali tidak mengambil bahan mentah langsung dari sumber daya alam sehingga industri manufaktur disebut juga dengan industri non-ekstraktif. Industri manufaktur memproduksi produk dengan skala yang sangat besar (mass production) (Sukamulja, 2021). Perkembangan teknologi rekayasa manufaktur yang canggih telah mendorong industri ini ke depan, memungkinkan produksi skala besar yang menjaga kualitas dan efisiensi. Di Indonesia, fokus industri manufaktur secara tradisional adalah untuk merebut pangsa pasar domestik, namun dengan tren yang berkembang untuk meningkatkan ekspor. Industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang paling tahan banting, terutama dalam keadaan krisis ekonomi. Terlebih lagi, industri produk konsumsi sering kali mempertahankan stabilitas karena permintaan yang konsisten, bahkan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Integrasi strategis dari praktik-praktik Teknik Manufaktur, seperti lean manufacturing, otomasi, dan persediaan tepat waktu, semakin membentengi industri ini dari kondisi pasar yang berfluktuasi dan meningkatkan kemampuannya untuk berkontribusi terhadap ketahanan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Strategi Industri Manufaktur
Adanya pertimbuhan perekonomian yang semakin meningkat serta berkelanjutan merupakan sebuah syarat paling utama dalam menerapkan cara agar Indonesia menjadi negara yang maju. Salah satu hal yang harus dilakukan agar tujuan tersebut dapat terlaksana yaitu dengan mencari dukungan dari beberapa sektor, yang salah satunya di bidang manufaktur. Pihak pemerintahan juga terus memberikan cara yang konsisten untuk memberikan dukungan di bidang manufaktur dari adanya beberapa kebijakan yang ditetapkan. Hal ini dapat dilihat melalui berkembangnya kegiatan industri manufaktur yang ada di Indonesia sehingga mampu menggantikan commodity based dan berubah menjadi manufacture based. Strategi industri manufaktur dalam meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dilakukan dengan penerapan strategi industri 4.0 yang merupakan salah satu rencana dari pendirian Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 yang dilakukan dengan adanya konsep gedung pintar. Making roadmap industri 4.0 pada awalnya hanya difokuskan untuk 5 sektor industri startegis secara nasional melalui tingkatan PDB (Product Domestic Bruto), yaitu beberapa bidang: (Utomo & Harjono, 2021)
1. Industri pada bagian makanan, minuman akan manjadi industri yang kuat dan terdepan di negara ASEAN, terkhusus yaitu food and beverage powerhouse.
2. Industri di bidang otomotif, yang akan dijadikan sebagai indutsri yang paling utama dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri kendaraan bermotor, terkhusus untuk Electrified Vihacle (EV) dan internal combustion engine (ICE).
3. Industri di bidang elektronik, akan dijadikan industri yang mampu memberikan kebutuhan pasar luar dan dalam negeri. Seperti sekumpulan elektronika.
4. Industri pada bidang kimia, harus siap sebagai industri yang mengetahui keinginan konsumen dalam negeri serta luar negeri.
5. Industri di bidang tekstil dan produk tekstil, akan dijadikan sebagai indutsri yang menciptakan produk pakaian seperti baju olahraga.
Dengan adanya revolusi industri yang dilakukan akan mampu memberikan perubahan mengenai cara manusia menjalani kehidupan dan bertahan hidup menggunakan kemajukan teknologi yang memberikan informasi serta berdampak positif terhadap kehidupan di masyarakat luas. Melalui perkembangan teknologi yang terus berkembang seiring berjalannya waktu memiliki terobosan pada bidang kecerdasan buatan, hal ini terjadi karena dengan adanya teknologi dapat menggantikan peran manusia dalam menjalankan pekerjaan secara otomatis. Ketika suatu usaha industri di bidang manufaktur melakukan strategi revolusi industri 4.0 tentunya semua kegiatan akan dilakukan dengan otomatis karena adanya perkembangan media teknologi yang semakin berkembang.
Penulis: Rz. Muhammad Arifin Ilham (Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga)
DAFTAR PUSTAKA
Asmara, K. (2018). Analisis Peran Sektor Industri Manufaktur Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Di Jawa Timur. Journal of Economics Development Issues, 1(2), 33–38. https://doi.org/10.33005/jedi.v1i2.18
Sukamulja, S. (2021). Manajemen Keuangan Korporat. ANDI Yogyakarta.
Syara, F. A. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Industri Manufaktur Di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Pembangunan, 1(2), 365–374
Utomo, S., & Harjono, A. N. (2021). Pentingnya Membangun Platform Kolaborasi Multi- Stakeholder sebagai Key Enabling Factor dalam Membangun Ekosistem Inovasi Industri 4.0 di Era New Normal. Jurnal Informatika Universitas Pamulang, 6(1), 67. https://doi.org/10.32493/informatika.v6i1.8142



