
Oleh: Najwa Shafa Nurbaiti, Raisya Ramadhani, Hana Rufaida, Tasya Aniqa Yamanda – Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
JAKARTA, JurnalPost.com – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) Jakarta pada Juni 2026 berhasil membuktikan bahwa persepsi pengguna terhadap aplikasi Shopee memiliki hubungan yang sangat kuat dengan keputusan pembelian mereka. Penelitian berjudul “Hubungan antara Persepsi dan Keputusan Pembelian Pengguna Aplikasi Shopee” ini dilakukan sebagai tugas akhir mata kuliah Perilaku Konsumen di Era Digital di bawah bimbingan dosen pengampu Ibu Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.
Shopee merupakan salah satu platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kepopulerannya didukung oleh berbagai fitur unggulan seperti gratis ongkos kirim, ShopeePay, flash sale, dan Shopee Live. Di tengah pesatnya pertumbuhan belanja daring, pemahaman tentang faktor-faktor psikologis yang mendorong keputusan pembelian menjadi sangat penting, baik bagi konsumen maupun pelaku industri e-commerce. Inilah yang mendorong tim peneliti melakukan kajian ilmiah untuk melihat seberapa besar pengaruh persepsi konsumen terhadap perilaku belanja online.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 64 responden pengguna aktif aplikasi Shopee. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan Google Form yang disebarkan melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Instrumen penelitian berupa skala persepsi dan skala keputusan pembelian yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya, menggunakan Skala Likert dengan empat titik respons. Data kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson melalui perangkat lunak IBM SPSS Statistics.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang sangat signifikan. Uji korelasi Pearson menghasilkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,818 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000, jauh di bawah taraf kritis 0,05. Angka ini menempatkan kekuatan hubungan antara persepsi dan keputusan pembelian pada kategori “sangat kuat”. Artinya, semakin positif persepsi pengguna terhadap Shopee, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian di platform tersebut.
Persepsi konsumen dalam penelitian ini diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu kemudahan penggunaan aplikasi, kepercayaan terhadap platform, dan kemanfaatan yang dirasakan pengguna. Antarmuka Shopee yang intuitif, beragamnya metode pembayaran yang aman, serta program promosi yang menggiurkan menjadi faktor-faktor yang secara nyata membentuk persepsi positif di kalangan pengguna. Di sisi lain, keputusan pembelian diukur melalui dimensi pilihan produk, pilihan merek, dan waktu pembelian.
Temuan ini sejalan dengan Technology Acceptance Model (TAM) yang menekankan pentingnya persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kemanfaatan dalam mendorong penerimaan suatu teknologi. Dalam konteks Shopee, pengguna yang merasakan kemudahan bernavigasi dan manfaat nyata dari fitur-fitur yang tersedia cenderung memiliki persepsi lebih positif, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menyelesaikan transaksi. Penelitian ini pun memperkuat berbagai kajian terdahulu yang menyimpulkan bahwa persepsi merupakan anteseden penting dalam proses pengambilan keputusan pembelian online.
Dari sisi praktis, penelitian ini memberikan pesan penting bagi Shopee maupun platform e-commerce lainnya. Upaya meningkatkan keputusan pembelian tidak cukup hanya dengan memperbanyak pilihan produk. Platform perlu aktif membangun persepsi positif pengguna melalui peningkatan keamanan transaksi, penyederhanaan alur pembelian, penyajian informasi produk yang akurat, serta mempertahankan program promosi yang memberikan nilai tambah nyata. Konsumen yang merasa aman, nyaman, dan diuntungkan akan jauh lebih terdorong untuk berbelanja secara berkelanjutan.
Meski demikian, peneliti menyadari beberapa keterbatasan dalam kajian ini. Jumlah responden sebanyak 64 orang masih tergolong kecil untuk generalisasi yang lebih luas, dan penelitian hanya mengukur dua variabel utama. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih besar dan beragam, serta menambahkan variabel lain seperti motivasi, kepuasan pelanggan, atau loyalitas pengguna. Walau demikian, hasil penelitian ini tetap memberikan kontribusi berarti bagi pengembangan kajian psikologi konsumen di era digital, khususnya dalam memahami dinamika perilaku belanja online masyarakat Indonesia.



