
Oleh: Alfarobi Ibnu Sifak
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
JurnalPost.com – Bagi Generasi Z, perjalanan wisata tidak lagi sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mencari pengalaman yang unik, autentik, dan layak dibagikan kepada orang lain. Fenomena tersebut menjadikan komunikasi pariwisata memiliki peran yang semakin penting dalam memperkenalkan destinasi kepada masyarakat. Salah satu contoh yang menarik dapat ditemukan di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang kini dikenal sebagai salah satu lokasi terbaik di Indonesia untuk menikmati pengalaman bertemu whale shark atau hiu paus.
Beberapa tahun lalu, nama Teluk Saleh belum banyak dikenal wisatawan domestik. Keindahan teluk yang berada di Pulau Sumbawa itu lebih sering menjadi perbincangan di kalangan nelayan, peneliti kelautan, maupun komunitas penyelam. Namun, situasinya berubah ketika berbagai foto dan video bawah laut mulai membanjiri media sosial. Rekaman wisatawan yang berenang berdampingan dengan whale shark menyebar luas melalui Instagram, TikTok, hingga YouTube. Dalam waktu singkat, Teluk Saleh berubah menjadi salah satu destinasi impian bagi para pecinta wisata bahari, khususnya Generasi Z.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika dahulu promosi wisata mengandalkan brosur, iklan televisi, atau pameran pariwisata, kini keputusan seseorang untuk berkunjung lebih banyak dipengaruhi oleh konten digital yang mereka temui setiap hari. Generasi Z merupakan kelompok yang tumbuh bersama internet sehingga lebih mempercayai pengalaman visual, ulasan wisatawan, maupun cerita yang dibagikan oleh kreator konten dibandingkan promosi konvensional.
Dalam konteks ini, komunikasi pariwisata tidak lagi sekadar menyampaikan informasi mengenai lokasi wisata, harga tiket, atau fasilitas yang tersedia. Komunikasi telah berkembang menjadi proses membangun cerita atau storytelling yang mampu menciptakan keterikatan emosional dengan calon wisatawan. Video yang memperlihatkan kemunculan whale shark di perairan Teluk Saleh saat matahari terbit, dipadukan dengan panorama laut yang tenang, bukan hanya menyajikan keindahan visual, tetapi juga membangun imajinasi tentang pengalaman yang ingin dirasakan oleh para penonton. Di sinilah kekuatan komunikasi bekerja menjual pengalaman, bukan sekadar destinasi.
Namun demikian, meningkatnya popularitas sebuah destinasi juga menghadirkan tantangan baru. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula risiko terganggunya ekosistem apabila tidak diimbangi dengan komunikasi yang bertanggung jawab. Whale shark merupakan satwa yang dilindungi dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Oleh karena itu, promosi wisata tidak boleh berhenti pada penyajian gambar-gambar yang menarik, tetapi juga harus disertai edukasi mengenai tata cara berinteraksi dengan satwa liar.

Komunikasi pariwisata memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan bahwa wisatawan tidak diperbolehkan menyentuh whale shark, menghalangi jalur renangnya, ataupun membuang sampah ke laut. Informasi mengenai pentingnya menjaga jarak aman, mematuhi arahan pemandu wisata, serta menghormati habitat alami satwa harus menjadi bagian dari setiap materi promosi. Dengan demikian, komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga membentuk perilaku wisatawan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Generasi Z sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Karakter mereka yang aktif di media sosial memungkinkan setiap pengalaman wisata menjadi sarana promosi yang sangat efektif. Sebuah unggahan foto maupun video dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Namun, pengaruh tersebut akan memberikan dampak positif apabila diiringi dengan narasi yang mengajak masyarakat untuk mencintai dan menjaga alam, bukan sekadar mengejar konten yang viral.
Keberhasilan Teluk Saleh menjadi destinasi wisata bahari yang semakin dikenal membuktikan bahwa komunikasi pariwisata merupakan faktor penting dalam membangun citra sebuah daerah. Alam yang indah memang menjadi modal utama, tetapi tanpa strategi komunikasi yang tepat, potensi tersebut belum tentu diketahui oleh masyarakat luas. Sebaliknya, komunikasi yang kreatif, informatif, dan bertanggung jawab mampu memperkenalkan kekayaan alam Indonesia kepada dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata.



