• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Peran Fisioterapi Dalam Menunjang Kesehatan Mental Anak Disabilitas Motorik

Editor Redaksi
9 Januari 2026
in Artikel

Oleh: PRIMA GITA AMALIA

JurnalPost.com – Peran Fisioterapi dalam menunjang anak disabilitas sering kali menghadapi tantangan yang memengaruhi fungsi gerak serta dampak psikososial yang signifikan terhadap Kesehatan mental mereka. Kesehatan anak adalah masa yang sangat penting, karena tumbuh kembang memengaruhi anak kedepannnya Masa tumbuh kembang adalah fase fondasi yang sangat menentukan kemampuan anak di masa depan.Pada masa ini, kemampuan motorik halus, motorik kasar, berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional, dan perkembangan psikologis sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Pada anak-anak disabilitas, tantangan tumbuh kembang ini menjadi berlipat ganda.

Fisioterapi anak adalah cabang fisioterapi yang berfokus pada pengembangan, pemulihan, dan pemeliharaan kemampuan motorik anak terutama anak dengan gangguan atau keterbatasan seperti cerebral palsy, spina bifida, muscular dystrophy, dan kelainan perkembangan motorik lainnya .Tujuan utama fisioterapi adalah membantu anak mencapai potensi fungsional maksimal sesuai kemampuannya, serta mendukung kemandirian dan partisipasi sosial Bagi anak-anak penyandang disabilitas (kecacatan), tantangan tumbuh kembang menjadi lebih kompleks. Pemeriksaan tumbuh kembang anak secara langsung dan memberikan edukasi serta diskusi pada orang tua dan anak-anak dengan kecacatan menjadi sangat penting dilakukan. Di tengah fokus yang mendalam pada pemulihan dan peningkatan fungsi fisik, peran fisioterapi dalam mendukung kesehatan mental dan emosional anak disabilitas sering kali luput dari perhatian.

Faktanya, gerak tubuh dan fungsi mental memiliki keterkaitan yang erat dan membentuk sebuah siklus umpan balik. Keterbatasan gerak tidak hanya menghambat aktivitas sehari-hari tetapi juga membatasi eksplorasi lingkungan, interaksi sosial, dan pada akhirnya, mereduksi rasa percaya diri dan harga diri. Anak disabilitas sering kali bergumul dengan rasa frustrasi, kecemasan, bahkan depresi, yang timbul dari ketidakmampuan mereka untuk berpartisipasi layaknya teman sebaya. Di sinilah fisioterapi muncul sebagai alat bantu yang tidak hanya merehabilitasi fisik, tetapi juga secara fundamental menopang psikologis dan mental anak.

Data statistik menyoroti urgensi masalah gangguan tumbuh kembang ini. Gangguan tumbuh kembang anak adalah hal penting yang harus diwaspadai oleh setiap orang tua maupun pengasuh pendamping. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak optimal dapat berdampak pada kemampuan anak di usia selanjutnya seperti berbicara dan bersosialisasi. Menurut data UNICEF tahun 2015, didapatkan bahwa angka kejadian gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia balita masih tinggi. Khususnya gangguan perkembangan motorik, didapatkan bahwa 27,5% atau 3 juta anak mengalami gangguan.Secara nasional, Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2014 mencatat bahwa 13% hingga 18% anak balita di Indonesia mengalami kelainan pertumbuhan dan perkembangan. Masalah yang sering timbul meliputi gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku. Jika masalah dalam proses tumbuh kembang tidak segera diatasi, hal ini akan berakibat terhambatnya ketercapaian tingkat tumbuh kembang yang sesuai dengan usianya. Apabila gangguan tersebut berlanjut, maka ia dapat menjadi suatu bentuk kecacatan yang menetap pada anak. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa intervensi berkelanjutan dan terstruktur sangat diperlukan untuk memastikan anak-anak disabilitas mendapatkan hak kesehatan mereka, sesuai dengan amanat UU No 8 tahun 2016 pada Pasal 5 tentang hak disabilitas di bidang kesehatan.

DDST II dan Play Therapy pemeriksaan tumbuh kembang anak disabilitas sangat penting.Salah satu yang digunakan dalam pengabdian adalah pemeriksaan DDST II(Denvel Developmental Screening Test  II). Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa dan mengetahui tumbuh kembang balita.Selain pemeriksaan DDST II,pemeriksaan fisik juga dilakukan seperti mengukur berat badan,tinggi badan,dan mengukur kepala. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi kesehatan anak. Setelah pemeriksaan melakukan play therapy yang bertujuan untuk menstimulasi motorik kasar dan halus pada balita seperti melompat, bermain, dan berlari. Setelah pemeriksaan melakukan edukasi dan sesi diskusi terhadap orang tua terkait permasalahan dan kendala pola pengasuhan cara melatih anak anak dengan keterbatasan.

Program pemeriksaan tumbuh kembang dan edukasi pola asuh inklusif ini memiliki potensi positif yang besar jika terus dikembangkan dan mendapat dukungan layanan kesehatan yang memadai. Intervensi yang terarah dan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak disabilitas dan membantu mereka untuk hidup mandiri. Pemeriksaan rutin juga memastikan bahwa anak-anak disabilitas, seperti yang terlihat pada kasus anak dengan Hydrocephalus yang datang ke Yayasan Lombok Care, mendapatkan intervensi agar bisa menjalankan hidup yang normal dan layak. Dukungan dari berbagai pihak, seperti kunjungan perwakilan WHO dan kolaborasi dengan Tim dokter dari FKIK UNRAM, RS UNRAM, dan RSUP NTB, menunjukkan bahwa program ini memiliki dampak luas dan mendapat pengakuan penting. Kolaborasi antara keluarga, tenaga pendidik, dan layanan kesehatan memang menjadi kunci terciptanya masa depan yang lebih inklusif. Kurangnya pengetahuan orang tua dapat memengaruhi atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain itu, jika pemeriksaan tidak dilakukan secara berkala dan berkesinambungan, masalah tumbuh kembang dapat luput dari deteksi dini, yang pada akhirnya akan menghambat ketercapaian tingkat perkembangan sesuai usia dan berujung pada kecacatan yang menetap.

Sebagai kesimpulan, isu tumbuh kembang anak, khususnya pada anak-anak dengan disabilitas, memerlukan perhatian yang komprehensif dan berkelanjutan. Pemeriksaan tentang tumbuh kembang anak-anak dengan disabilitas perlu dilangsungkan secara berkala dan berkesinambungan. Hal ini penting karena masa tumbuh kembang memengaruhi kemampuan anak ke depannya, dan anak-anak disabilitas sering menghadapi keterbatasan dalam akses layanan dan stimulasi.Lebih lanjut, Edukasi parenting merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh dan kembang anak serta meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan disabilitas. Edukasi ini memberikan pengetahuan tentang stimulasi dan pola asuh yang tepat, yang sangat memengaruhi hasil perkembangan anak yang positif. Oleh karena itu, kewajiban petugas kesehatan adalah untuk mengurangi kecacatan dan meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat, terutama masyarakat dengan disabilitas, melalui upaya pemeriksaan dan edukasi yang terintegrasi. Melalui kolaborasi antara penyedia layanan kesehatan, keluarga, dan masyarakat, hak-hak anak disabilitas dapat terpenuhi, sehingga mereka dapat mencapai tumbuh kembang optimal, hidup mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Wedayani, A. A. A. N., Karuniawaty, T. P., Wiguna, P. A., Parwata, W. S. S., Ullyani, N., & Lestarini, I. A. (2024). Pemeriksaan Tumbuh Kembang Anak Dan Edukasi Pola Asuh Pada Anak–Anak Disabilitas Di Yayasan Lombok Care. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan Ipa, 7(2), 745-748.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.