
Oleh: Septina Permatasari, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, Program Study Fisioterapi
JurnalPost.com – Saat ini pelayanan fisioterapi di Indonesia sangatlah minim, sehingga pelayanan hanya dapat di peroleh di rumah sakit besar yang berada di kota. Sehingga banyak orang yang menderita stroke atau yang membutuhkan tenaga Fisioterapi tidak mendapat akses yang memadai. Hal ini juga yang menyebabkan kasus kecacatan terbesar dan Tingkat kematian tertinggi di dunia. Sangat memprihatinkan jika masyarakat menganggap remeh atas kasus yang dapat kita atasi bersama.
Banyak kasus yang dapat dilihat stroke adalah sindrom dengan gejala yang berkembang cepat selama lebih dari 24 jam gangguan ini mengakibatkan kelumpuhan fungsional otak penyebab umum yang dapat ditemukan di kalangan Masyarakat biasanya diakibatkan tekanan darah tinggi, kolestrol, diabetes melitus, obesitas dan kurang aktifitas fisik, merokok dan alkohol, pola makan tidak sehat, obat-obatan terlarang, kecelakaan , kelainan genetik, Riwayat, keluarga.
Semua kasus mengenai stroke dapat di cegah dan diobati dengan berbagai cara seperti terapi dan banyaknya dukungan keluarga yang membuat pasien pasca stroke termotivasi untuk sembuh. Bentuk terapi yang biasanya dilakukan oleh pasien pasca stroke seperti, Terapi wicara Memulihkan kondisi pasien dalam bicara menelan yang terganggu Ketika stroke terjadi, Terapi okupsi Melatih system gerak pada pasien untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari, seperti Gerakan shalat atau Gerakan umum seperti makan, Terapi kognitif Melatih pasien dalam berfikir agar memulihkan fungsi otak sehingga dapat mengembalikan memori dimasa lampau, Terapi rekreasi Menghibur pasien dan memberikan kebahagian sebagai motivasi emosional pasien yang naik turun setelah mengalami stroke, dibahas dan Terpi pisikologis Membantu pasien dalam mengatur emosi saat depresi sehingga pasien tidak kehilangan semangat dalam rehabilitas.
Kajian tentang terapi stroke mendapat banyak fakta dan data menarik untuk dipelajari Masyarakat umum, karena stroke dapat terserang kapanpun dan siapa pun, jadi ada baiknya bagi kita semua untuk mencegah gejala tersebut.

Secara umum didapatkan hasil bahwa dari sejumlah pasien yang ditangani menunjukkan hasil peningkatan kekuatan otot. Rata-rata kekuatan otot meningkat menjadi 2,3 piont dari maksimal nilai 4 point. Kemampuan rotasi vertebrae ini juga meningkat sampai 29,54 point. Kemampuan keseimbangan juga linier meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan berjalan maupun kemampuan fungsionalnya, yang mencapai kenaikan 11.07 point dihitung dengan indek Barthel. Hal yang menarik adalah adanya peningkatan kualitas hidup pasien pasca stroke.
Nilai kulaitas hidup yang diukur dengan Stroke Specific Quality of Life Scale (SS-QOL) mnunjukkan kenaikan niali sampai dengan 11,73 point. (Umi budi rahayu,dkk 2020)
Selain itu pasien juga harus melakukan tahap pengecekan seprti tekanan darah, denyut nadi, kesiapan mental, dan pemeriksaan kecukupan oksigen di otak. Hal ini dapat membantu therapist dalam mengatasi dan mendiagnosa pasien dan dapat mengoptimalkan terapi yang akan diberikan terhadap pasien pasca stroke.
1. Fase penyembuhan pada pasien stroke
Secara umum, fase penyembuhan pada pasien stroke terbagi menjadi 3 yaitu flaccid atau hipotonus (fase 1), spastisitas atau hipertonus (fase 2-5) dan penyembuhan (fase 6) (Brunnstorm, 1970).
a. Fase 1
Fase 1 yaitu flaccid dimana pasien tidak dapat menggerakan anggota gerak yang sakit dan membuat tubuh lebih rilex untuk beristirahat tanpa memaksa keadaan.
b. Fase 2
Pada fase 2 spastisitas mulai timbul. Sinergis dasar ekstremitas muncul sebagai reaksi asosiasi atau kompensasi minimal atau pasien mulai dapatmenggerakan sebagian anggota gerak yang sakit baik secara disadari.
c. Fase 3
Pada fase 3 spastisitas semakin meningkat atau berat dengan gerakan pola sinergis yang disadari. Pasien dapat menggerakan anggota geraknya hanya dalam pola sinergis massal. Reaksi asosiasi dan kompensasi lebih nyata dan dalam pola yang sama dengan sinergisnya.
d. Fase 4
Pada fase 4 yaitu pola sinergis dan spastisitas mulai menurun. Pasien mulai dapat menggerakan anggota geraknya diluar pola sinergis. Ada 3 gerakan kombinasi yang merupakan ciri khas pada fase keempat yaitu meletakkan tangan di belakang tubuh, fleksi shoulder, dan dapat melakukan gerakan pronasi supinasi pada posisi fleksi elbow 90˚.
e. Fase 5
Pada fase 5 spastisitas minimal. Pasien dapat melakukan gerakan kombinasi yang lebih kompleks di luar pengaruh pola sinergis. Gerakan-gerakan pada tahap ini yaitu mengangkat lengan ke samping (horizontal abduksi shoulder), fleksi shoulder lebih dari 90˚ dengan posisi ekstensi elbow.
f. Fase 6
Pada fase ini spastisitas hilang dan pasien sudah dapat melakukan banyak kombinasi gerakan dengan koordinasi yang cukup baik (jika dilihat sepintas tampak normal). (Debora krisnawati,dkk 2021)
Dari hasil studi ini dapat melihat bahwa pasien stroke dapat sembuh dan beraktivitas Kembali, dengan cara melatih pasien stroke dengan beberapa terapi yang direkomendasikan oleh tenaga medis. Umumnya pasien pasca stroke juga memerlukan banyak dukungan dan motivasi dari pihak keluarga dan tenaga medis agar kesembuhan dan terapi berjalan lancar.
Secara garis besar, terapi dapat memulihkan fisiologis pada pasien pasca storke melalui beberapa tahapan yang harus di lalui, agar pasien mendapat terapi yang sesuai dengan kebutuhan dan masa otot yang sesuai, dalam hal ini fisioterapi sangat dibutuhkan dalam membimbing pasien dalam segi Latihan, emosional, edukasi keluarga. Metode-metode ini juga sudah banyak didukung oleh kalangan Masyarakat sekitar kota dan kita sebagai tenaga medis harus meyakinkan bebrapa Masyarakat yang ada di plosok yang masih mengangap penyakit-penyakit yang datang tiba-tiba adalah ancaman, kutukan, dan beberapa mitos.
Daftar Pustaka
Rahayu, UB , dan Ambawati, A. (2020). PKM Edukasi dan Neurorestorasi pada Pasien Stroke di Praktik Fisioterapi NU 99 . Pusat Fisioterapi Pendidikan, Rehabilitasi, Neurorestorasi, Fisioterapi Pasca Stroke . Jurnal.ums.ac.id
Lucky, A., dan Kismantoro, D. (2021). Tinjauan tinjauanliteratur tentang terapi latihan pada pasien stroke .dariliteratur tentang terapi latihan pada pasien stroke . Universitas Kristen Indonesia Jakarta .
OpenAI (2025). Penjelasan penjelasan cara membuat AIAI ( model bahasa (besar) daftar pustaka .model bahasa ) daftar pustaka. ChatGPT: https://chat.openai.com/
Anggieta, L., dan Sundarta, D. (2021). Terapi latihan : Fisioterapi untuk stroke. [email protected]



