
Oleh: Dimas Angger G.W
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
JurnalPost.com Di era digital yang bergerak begitu masif, aktivitas berlibur bukan lagi sekadar sarana untuk melepas penat dari rutinitas harian. Bagi Generasi Z (Gen-Z), berwisata telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan eksistensial untuk mengekspresikan diri dan mencari ketenangan jiwa (healing). Kelompok usia yang tumbuh bersama teknologi ini selalu berburu destinasi baru yang tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga ketenangan yang autentik. Salah satu permata tersembunyi yang belakangan ini mendadak viral di berbagai lini masa media sosial adalah Sumber Umbulan. Destinasi pemandian alam yang terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini menjadi contoh nyata betapa krusialnya peran komunikasi pariwisata dalam menggaet minat generasi yang hidup di balik layar gawai tersebut.
Sumber Umbulan sendiri menawarkan daya tarik utama berupa kolam pemandian alami dengan air yang sangat jernih langsung dari mata air bumi. Suasananya begitu asri karena dikelilingi oleh vegetasi hijau dan pepohonan rindang yang memberikan atmosfer sejuk. Bagi Gen-Z, karakteristik tempat seperti ini memegang predikat wajib, yaitu aesthetic dan instagramable. Namun, jika ditarik garis ke belakang, mengapa tempat yang dulunya hanya berfungsi sebagai sumber air bersih bagi warga lokal kini bertransformasi menjadi magnet wisata anak muda? Jawabannya terletak pada pergeseran pola komunikasi pariwisata dari konvensional ke digital.
Proses penyebaran informasi ini terjadi secara organik. Komunikasi pariwisata modern tidak lagi didominasi oleh brosur cetak atau baliho besar di pinggir jalan, melainkan melalui video pendek di platform TikTok dan Instagram Reels. Konten yang dibuat oleh para pengunjung menjadi jembatan informasi yang sangat persuasif. Ditambah lagi dengan fleksibilitas jam operasional Sumber Umbulan yang terbuka selama 24 jam. Informasi mengenai aksesibilitas tanpa batas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anak muda yang kerap mencari pelarian dari penatnya tugas kuliah atau kerja di waktu-waktu tak terduga.
Bagaimana strategi komunikasi pariwisata ini dapat bekerja dengan sangat efektif pada kesadaran Gen-Z? Karakteristik utama Gen-Z adalah mereka cenderung skeptis terhadap iklan formal yang terlalu dikonsep oleh korporasi. Sebaliknya, mereka sangat memercayai ulasan jujur dari sesama pengguna internet. Ketika seorang kreator konten mengunggah video estetik saat menyelam di air jernih Sumber Umbulan, lengkap dengan latar suara musik yang menenangkan, informasi visual tersebut langsung mendistribusikan elemen What, Who, Where, When, Why, dan How secara instan ke layar ponsel ribuan remaja lainnya. Gaya bahasa yang kasual dan visual yang sinematik jauh lebih mudah mengetuk rasa penasaran mereka untuk langsung datang ke lokasi.
Namun, komunikasi pariwisata di era sekarang tidak boleh berhenti pada tahap mengejar viralitas visual semata. Industri pariwisata saat ini dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap isu aktual, salah satunya adalah pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Menariknya, Gen-Z diklaim sebagai generasi yang paling peduli terhadap isu lingkungan. Oleh karena itu, narasi komunikasi yang dibangun ke depan wajib menyisipkan pesan edukasi. Jangan sampai popularitas Sumber Umbulan justru membawa dampak buruk berupa tumpukan sampah atau kerusakan ekosistem lokal. Komunikasi pariwisata yang cerdas harus mampu mengedukasi wisatawan muda agar menikmati kesegaran mata air secara bertanggung jawab, misalnya dengan kampanye tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kesucian area sumber.
Kesimpulannya, fenomena viralnya Sumber Umbulan di Singosari menegaskan bahwa komunikasi pariwisata telah bertransformasi menjadi ekosistem digital yang dinamis dan interaktif. Untuk menarik minat Gen-Z, sebuah destinasi harus mampu dikomunikasikan secara visual, jujur, dan berbasis pengalaman nyata. Melalui strategi komunikasi yang tepat, kreatif, serta peka terhadap kelestarian alam, destinasi wisata lokal seperti Sumber Umbulan tidak hanya akan terus ramai dikunjungi sebagai tempat melepas penat, tetapi juga akan tetap terjaga keasrian lingkungannya untuk dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.



