
JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola masyarakat dalam mengakses informasi mengenai destinasi wisata. Informasi yang dahulu bersumber dari media promosi konvensional kini bergeser ke platform digital, antara lain media sosial, ulasan pengunjung, dan konten yang diproduksi langsung oleh wisatawan. Pergeseran tersebut menempatkan komunikasi pariwisata sebagai unsur strategis, khususnya dalam menjangkau generasi Z yang cenderung mengandalkan media digital sebagai sumber informasi wisata.
Salah satu destinasi yang relevan untuk dikaji dalam konteks tersebut adalah Telaga Sarangan, yang berlokasi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Keberadaan telaga di kawasan pegunungan menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik visual yang kuat. Akan tetapi, daya tarik visual semata belum cukup untuk menopang keberlangsungan sebuah destinasi wisata. Pengelolaan fasilitas, kebersihan lingkungan, serta efektivitas penyampaian informasi kepada pengunjung turut memengaruhi pembentukan citra destinasi secara keseluruhan.
Komunikasi pariwisata yang dikelola secara efektif memungkinkan pengelola destinasi untuk membangun hubungan dengan wisatawan, menyampaikan nilai-nilai positif yang melekat pada destinasi, serta meningkatkan kesadaran pengunjung terhadap pentingnya pelestarian lingkungan wisata. Dengan demikian, fungsi komunikasi pariwisata tidak terbatas pada aspek promosi, tetapi mencakup pula penyampaian informasi, pembentukan persepsi publik, dan penciptaan keterlibatan wisatawan secara berkelanjutan. Bagi generasi Z yang aktif menggunakan media digital, pengalaman berwisata kerap dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh sebelum kunjungan maupun pengalaman yang dibagikan setelah kunjungan berlangsung.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada Minggu, 14 Juni 2026 terhadap pengunjung Telaga Sarangan, Sintya dan Anisatul, yang merupakan warga lokal, diperoleh gambaran bahwa kondisi kebersihan di kawasan tersebut dinilai relatif baik. Sintya menyatakan bahwa fasilitas kebersihan telah tersedia secara memadai dan berkontribusi terhadap upaya menjaga kelestarian lingkungan wisata.
“Sebenarnya di Telaga Sarangan ini tuh udah cukup bersih, tempat sampah juga sudah banyak dan di warung-warung juga disediakan,” ujar Sintya.
Meskipun demikian, hasil wawancara juga mengindikasikan adanya sejumlah aspek yang masih memerlukan perbaikan. Ditemukan beberapa titik di kawasan wisata yang masih terdapat sampah, yang diduga disebabkan oleh perilaku sebagian pengunjung yang belum optimal dalam menjaga kebersihan. Selain itu, fasilitas toilet juga diidentifikasi sebagai aspek yang masih perlu ditingkatkan, baik dari segi jumlah maupun keterjangkauan lokasi.
“Tapi di beberapa tempat itu masih ada sampah yang dibuang sembarangan, untuk toilet juga belum banyak dan jauh jaraknya,” tambah Anisa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi untuk memperkenalkan keindahan suatu destinasi, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan kepedulian wisatawan terhadap lingkungan. Bagi segmen generasi Z, pesan mengenai kebersihan dan keberlanjutan destinasi dapat disampaikan melalui pendekatan yang lebih kreatif, seperti kampanye media sosial, konten edukatif, maupun kolaborasi dengan komunitas lokal.
Melalui strategi komunikasi yang tepat, wisatawan tidak hanya berperan sebagai pengunjung, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya kolektif dalam menjaga keberlangsungan destinasi. Pengalaman positif yang diperoleh wisatawan berpotensi mendorong terciptanya ulasan dan rekomendasi melalui media digital, yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap penguatan citra Telaga Sarangan di kalangan calon wisatawan.
Telaga Sarangan memiliki potensi wisata alam yang signifikan untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Namun demikian, aspek pengelolaan fasilitas dan strategi komunikasi pariwisata tetap memerlukan perhatian agar kualitas pengalaman wisatawan dapat terus ditingkatkan. Penguatan komunikasi pariwisata diharapkan dapat memperluas penyebaran informasi mengenai destinasi sekaligus meningkatkan kesadaran wisatawan untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Dengan demikian, Telaga Sarangan tidak hanya dikenal melalui keindahan alamnya, tetapi juga sebagai destinasi yang adaptif terhadap kebutuhan wisatawan pada era digital saat ini.
Ditulis oleh Indah Gita Cahyani
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu Mata Kuliah Komunikasi Pariwisata: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.



