
Surabaya, JurnalPost.com – Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan Project Based Learning (PBL) bertema Moderasi Beragama di SDN Rungkut Menanggal 1 pada Jumat, 5 Desember 2025. Program ini merupakan lanjutan dari materi pembelajaran di kelas yang sebelumnya membahas toleransi, keberagaman, serta etika dalam berinteraksi di lingkungan sosial dan digital.
Kegiatan PBL ini disusun untuk memperkenalkan nilai-nilai dasar moderasi beragama kepada siswa sekolah dasar melalui metode penyampaian yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan. Mahasiswa menghadirkan berbagai aktivitas edukatif yang membantu siswa memahami pentingnya saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah perbedaan agama, budaya, maupun kebiasaan.
Sebagai pembina kegiatan, Taufikurrahman menjelaskan bahwa program ini menjadi tahapan lanjutan di kelas. Ia berharap mahasiswa dapat menjadi agen pionir moderasi beragama di masyarakat dengan mempraktikkan nilai-nilai tersebut di lembaga masing-masing.
“Di kelas, siswa sudah mengenal teori dasar mengenai moderasi beragama dan literasi digital. Kegiatan ini merupakan kelanjutannya, agar mereka dapat menerapkan kemampuan tersebut secara nyata—seperti mengenali hoaks, berdialog dengan santun, serta menjaga ruang digital tetap harmonis,” kata Taufikurrahman.
Ia menegaskan bahwa praktik lapangan seperti ini sangat penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan dalam menyampaikan edukasi toleransi kepada masyarakat. SDN Rungkut Menanggal 1 dipilih sebagai lokasi kegiatan karena siswa berada pada usia perkembangan karakter, sehingga mereka lebih mudah dibentuk untuk memahami makna saling menghargai sejak dini.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mengenalkan konsep moderasi beragama melalui contoh-contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Para siswa juga diajak berdiskusi mengenai bagaimana bersikap sopan, menghormati teman yang berbeda, serta membiasakan diri untuk memilih kata yang baik dalam berkomunikasi. Meskipun mereka belum sepenuhnya terlibat dalam media sosial, edukasi dini ini dianggap penting untuk membekali mereka dengan pemahaman dasar sebelum memasuki ruang digital di kemudian hari.
Guru dan jajaran sekolah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Pihak sekolah menilai bahwa kegiatan semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan siswa di tengah perkembangan teknologi dan interaksi yang semakin beragam. Edukasi toleransi tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga membantu mereka membangun kemampuan sosial yang lebih baik.
Setelah kegiatan selesai, mahasiswa melanjutkan sesi refleksi dan evaluasi untuk menilai efektivitas metode yang digunakan. Program ini juga akan diperkuat dengan laporan kegiatan, rencana tindak lanjut, serta kampanye digital mengenai moderasi beragama yang bertujuan menyebarkan pesan toleransi kepada masyarakat luas.
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan, menciptakan ruang belajar yang aman, serta menumbuhkan sikap saling menghargai di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi langkah konkret mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah dipelajari di kampus dan berkontribusi pada penguatan harmoni sosial sejak tingkat pendidikan dasar.
Sebagai bentuk keberlanjutan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran kolaboratif antara perguruan tinggi dan sekolah dasar dalam memperkuat karakter generasi muda. Dengan konsistensi dan pendampingan yang tepat, nilai-nilai moderasi beragama dapat tumbuh menjadi bagian penting dari kepribadian siswa sejak dini.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam menerjemahkan ilmu yang mereka pelajari menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui pendekatan yang edukatif, inklusif, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa, mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur membuktikan bahwa upaya memperkuat harmoni sosial dapat dimulai dari langkah-langkah kecil—namun berdampak besar bagi pembentukan generasi yang lebih toleran, bijak, dan berkarakter.




