• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

PENDIDIKAN PENUNJANG KESUKSESAN

Editor Redaksi
15 Desember 2023
in Kolom Opini

Oleh: Erika Firdayanti
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah malang

JurnalPost.com – Pendidikan merupakan suatu pembelajaran tentang pengetahuan dan keterampilan, serta kebiasaan sekelompok manusia yang diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan adalah proses humanime yang selanjutnya dikenal dengan istilah memanusiakan manusia. Setiap manusia yang terlahir didunia wajib menempuh Pendidikan sebagai Hak nya. Dengan adanya Pendidikan diharapkan setiap manusia memiliki pengetahuan yang luas dan cara berpikir yang bijak sehingga mampu memberikan pertimbangan yang tepat terhadap suatu masalah. Pendidikan yaitu tuntutan didalam hidup tumbuh kembangnya anak-anak. Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota Masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Ki Hajar Dewantara).

Dalam islam sendiri Pendidikan sangat dianjurkan, rosulullah S.A.W mengajarkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahad. Pepatah juga mengatakan “tuntutlah ilmu hingga ke Negri Cina”. Sekolah adalah wadah untuk mengais ilmu, namun ilmu tidak hanya didapat melalui sekolah saja. Setiap generasi tua menurunkan ilmunya kepada generasi penerusnya, dalam tujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan memang tidak menjamin akan kesuksesan, namun pandidikanlah yang mendekatkan kita kedalam dunia kesuksesan.

Tujuan pendidikan
Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan dengan akal, namun banyak manusia yang menggunakal akal pikirannya untuk kejahatan. Tujuan Pendidikan ini agar manusia dapat memanusiakan manusia, sehingga manusia dapat mencapai tujuannya. Selain itu Pendidikan juga sebagai wadah ilmu untuk masa depan agar generasi selanjutnya memiliki wawasan luas serta pemikiran yang dapat merubah Tanah Air menjadi lebih maju. Manusia yang berpendidikan tentunya memiliki moral yang dapat dijadikan sebagai contoh dalam kehidupan, tidak jarang orang yang bermoral dan orang yang berattitude itu adalah orang yang berpendidikan. Isi ilmu Pendidikan tidak hanya tentang keagaaman, kesenian, biologi, fikia, matematika, dsb. Namun ilmu dalam sosial juga penting bagi manusia. Bagaimana cara manusia berinteraksi kepada sesama manusia. Menyatukan banyak pemikiran manusia itu tidaklah mudah, namun dengan adanya ilmu sosial dalam bermasyarakat, adil, dan bijak, semua itu bisa teratasi.

Bisa dikatakan Pendidikan adalah penunjang kesuksesan, karena generasi emas tentunya lahir dari orang tua yang berpendidikan dan sukses membangun karir serta masa depan anak yang terjamin. Tentunya tidak sedikit orang tua diluar sana bekerja keras untuk bisa menyekolahkan anak nya ke janjang yang lebih tinggi untuk menjadukan anak nya berpendidikan, berwibawa, mempunyai gelar di akhir nama, dan memiliki wawasan serta relasi yang luas.

Problematik Pendidikan
Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi memudahkan manusia untuk mengakses jaringan untuk menambah wawasan mereka. Selain itu banyak cara untuk mendapatkan ilmu, namun yang menjadi masalah saat ini adalah banyaknya sekolah-sekolah yang kurang memadai akan fasilitas belajar mengajarnya. Sebagai negara berkembang seperti Indonesia ini masih kurangnya pengawasan tentang Pendidikan. Sistem Pendidikan yang sering berubah dan tingginya syarat untuk bisa jadi pengajar. Itu menjadi hambatan untuk anak usia dini mendapatkan Pendidikan yang menjadi Hak nya disekolah.

Jika dikaji secara detail problem dalam Pendidikan adalah biaya. Biaya yang mahal dan sulit di jangkau oleh masyarakat ekonomi menenagah kebawah menjadi surutnya semangat generasi saat ini untuk menutut ilmu, mereka memilih bekerja dan menghasilkan uang dari pada duduk di bangku sekolah dan mengenyam Pendidikan. Dengan adanya kasus ini Pendidikan yang semulanya proses humanisasi (memnusiakan manusia) kini menjadi dehumanisasi yang secara tidak langsung telah mengupayakan hakikat pemunduran manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya yang mampu mengalami kontrakdisi dalam kehidupan.

Generasi muda saat ini, bisa dikatakan sebagai gen z yaitu generasi milenial. Pengaruh globalisasi pada generasi ini baik langsung atau tidak langsung pasti akan menyebar ke sekolah maupun Universitas. Dengan mudahnya akses jaringan yang mereka gunakan, tentunya tidak sedikit dari mereka yang menyalah gunakan akses tersebut. Tidak banyak dari generasi ini yang terpengaruh kedalam film-film porno yang menjadikan turunnya minat belajar dalam Pendidikan.

Ditinjau dari aspek pemikiran, Pendidikan saat ini baik disekolah maupun dikampus tidak lagi dianggap sebagai wadah mencari ilmu atau kegiatan akademik lainnya, melainkan dianggap sebagai tempat kaum muda merayakan ststus kelasnya. Pendidikan dalam pemikiran mereka tidak sudah tidak bisa lagi menyelesaikan masalah dalam keseharian mereka. Hal ini dipertegas juga dalam tayangan sinetron yang jauh berbeda latar belakang Masyarakat dalam kesuksesan hidup dalam tahapan Pendidikan yang dilalui.

Pada dari aspek personal, seorang guru yang dulu bisa dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kini tidak banyak guru yang menjadi korban dari keagresifan siswa. Banyak guru yang di aniaya oleh siswanya sendiri karena hanya sebatas menegur. Guru honorer yang harus mengorbankan idealismenya dengan menjadi tukang ojek karena persoalan kebutuhan dan kesejahteraan hidup karena honornya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya dalam berumah tangga. Tidak hanya guru yang menjadi korban keagresifan siswa gen z ini, melainkan temannya sendiri dan diri sendiri. Oleh karena itu tidak jarang berita yang menanyangkan kasus bunuh diri pada siswa maupun mahasiswa.

Dalam proses belajar mengajar pada generasi milenial ini banyak sekali tantangan. Teknologi yang semakin canggih ini mengalihkan perhatian gen z, mereka yang seharusnya mengenyam bangku sekolah kini mereka mempunyai pikiran bahwa sekolah hanyalah formalitas saja, karena mereka sudah mempunyai akses untuk mencari tau informasi- informasi melalui media sosial yang mereka pakai. Pendidikan yang sifatnya formal juga mempunyai pengaruh besar dalam pembelaran, mereka cenderung menyukai cara belajar yang santai. Oleh karena itu banyak guru-guru saat ini mengubah metode pembelajarannya menggunakan metode bermain dan belajar. Para guru berusaha maksimal mungkin agar bisa menimbulkan semangat belajar dan menjadi generasi yang dapat membawa nama baik Bangsa.

Pendidikan di Indonesia memang jauh dari kata sempurna, namun menurut penelitian IPSOS sebanyak 53% responden di indoensia menilai bahwa Pendidikan didalam Negeri sudah membaik. Banyak ilmuwan lulusan Universitas dalam Negeri kini melanjutkan study di luar untuk kembali ke Indonesia dan menyalurkan ilmunya untuk anak muda agar menimbulkan semangat baru. Karena Pendidikan adalah penunjang kesuksesan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.