Oleh Falistya Roisatul Maratin Nuro
Tulisan ini terinspirasi dari perkuliahan di Prodi S3 Pendidikan Dasar FIP UNESA
https://s3pendidikandasar.fip.unesa.ac.id/ sebagai institusi jenjang S3 yang saya tempuh.
Pendidikan memegang peranan penting untuk membangun suatu bangsa. Tantangan global seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi dan perubahan ekonomi global membutuhkan kesiapan generasi muda untuk menghadapinya. Bentuk kesiapan untuk menghadapi perubahan tersebut adalah dengan adanya pendidikan berkelanjutan. Pendidikan berkelanjutan tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan tetapi mendorong generasi muda untuk peduli terhadap isu lingkungan, keadilan sosial dan keberlanjutan ekonomi. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SGD 4) dari PBB, yang mengupayakan pendidikan inklusif dan berkualitas pada tahun 2030. Upaya yang perlu dipersiapkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mengembangkan karakter dan keterampilan yang sesuai dengan keterampilan abad abad -21 yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikasi. Menurut data UNESCO 2021 pendidikan berkelanjutan penting untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang bertujuan mengurangi ketimpangan, meningkatkan kualitas hidup dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pendidikan berkelanjutan menggabungkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam kurikulum pendidikan. Kolaborasi dalam kurikulum pendidikan menyeimbangkan pengetahuan dan keterampilan terkait menjaga lingkungan dan membangun masyarakat adil. Kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman dapat mendukung tujuan dari pendidikan berkemajuan. Pada era globalisasi, perkembangan teknologi sangat pesat. Hal ini harus diimbangi dengan adanya keterampilan abad 21 agar tercapainya tujuan pendidikan berkemajuan. Keterampilan abad 21 dalam dunia pendidikan disebut dengan istilah 4C yaitu Critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreatif), collaboration (kolaborasi), dan communication (komunikasi). Pelaksanaan program Sekolah Adiwiyata salah satu wujud penerapan pendidikan berkemajuan yang mengajarkan keterlibatan secara aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah, melakukan pengolahan sampah, dan bercocok tanam pada kegiatan berkebun di sekolah. Kegiatan pengolahan sampah yaitu memilah sampah organik dan non-organik serta mempelajari dampak tidak menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan peduli lingkungan bentuk dari penerapan pengetahuan dan keterampilan untuk membawa perubahan lebih baik pada masyarakat. Kegiatan bakti sosial, pemberian santunan kepada panti asuhan atau masyarakat yang membutuhkan. Pada kegiatan ini menanamkan kesadaran sosial dan lingkungan yang dapat menciptakan generasi muda bertanggung jawab dan tanggap dalam setiap situasi.
Upaya mencapai tujuan pendidikan berkelanjutan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak antara lain yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Lingkungan pendidikan yang inklusif akan mendukung proses pembelajaran tidak hanya di sekolah, melainkan juga di masyarakat melalui pengalaman langsung. Menurut laporan World Economic Forum (2022), pendidikan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat lebih berhasil mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan. Pendidikan anak tidak lagi menjadi tanggung jawab sekolah, akan tetapi seluruh masyarakat. Kolaborasi ini akan memperkuat lingkungan pendidikan yang lebih berkemajuan.

Penerapan pendidikan berkemajuan tidak semulus pada rencana, akan tetapi terdapat kendala di Indonesia terutama pada daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) yang umumnya memiliki fasilitas kurang memadai seperti bangunan sekolah yang kurang layak, dengan peralatan sekolah yang apa adanya dan terbatasnya tenaga pengajar. Keterbatasan yang ada berdampak pada kurangnya informasi yang di pahami guru terkait konsep pendidikan berkelanjutan. Hal ini memerlukan perhatian extra dari pemerintah agar terciptanya implementasi pendidikan berkemajuan di seluruh Indonesia.
Pendidikan berkemajuan memiliki peluang besar untuk menghasilkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan global. Generasi muda perlu disiapkan sebagai agen perubahan yang berdampak positif dan membawa dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat dapat membantu untuk menciptakan sistem pendidikan yang relevan, inklusif dan mampu menjawab tantangan zaman.



