• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pemilu yang Memilukan

Editor Redaksi
13 Juni 2023
in Kolom Opini

Oleh: Surya Fahresa Deka Yulian, Mahasiswa Prodi. Teknik Informatika Politeknik Harapan Bersama Tegal

JurnalPost.com – Satu harapan yang ingin dicapai oleh suatu bangsa yang telah melaksanakan kontestasi demokrasi adalah melahirkan presiden dan wakil presiden dan anggota parlemen yang adil dan jujur dibarengi nuanasa kedamaian, riang gembira demi kemaslahatan bagi semunya. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah momen penting dalam kehidupan demokrasi sebuah negara. Namun, sayangnya, tidak semua Pemilu berjalan dengan lancar dan damai. Ada beberapa alasan mengapa Pemilu bisa menjadi memilukan antara lain.

Money Politic Awalnya Money Politic identik dengan “Serangan Fajar” mengacu pada pembagian uang yang di lakukan malam hingga waktu Subuh pada hari Pemungutan Suara. Selanjutya muncul istilah “Pascabayar”, menyusul perubahan modus pembagian uang atau barang. Jika sebelumnya diberikan di awal, dalam modus baru ini di berikan setelah pemungutan suara. Agar dapat kompensasi, pemilih yang harus membuktikan bahwasanya dirinya telah memilih calon tersebut dengan menunjukan bukti yaitu foto kertas suara yang telah ia coblos. Black Campaign Black Campaign adalah suatu upaya di bidang politik untuk merusak atau mempertanyaka lawan Politik dengan cara memainkan Propoganda Propoganda yang negatif menjelang Pemilu serentak itu di gelar.

Kekerasan Pemilu: Seringkali menjadi ajang kekerasan fisik dan verbal antara pendukung calon yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan cedera fisik dan trauma psikologis pada korban.

Penipuan: Penipuan dalam Pemilu dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti pemilih yang tidak sah atau penghitungan suara yang tidak jujur.

Ketidakadilan Pemilu: Yang tidak adil dapat terjadi ketika hak suara seseorang dicabut atau diabaikan karena alasan tertentu, seperti agama atau etnis.

Pengaruh Asing: Pengaruh asing dalam Pemilu dapat menjadi ancaman serius bagi kedaulatan negara. Hal ini dapat terjadi melalui kampanye propaganda atau intervensi langsung dalam proses pemilihan.
Keterlibatan Militer: Keterlibatan militer dalam Pemilu dapat mengancam integritas proses demokratis dan menghasilkan hasil yang tidak adil.

Ketidak transparanan: Ketidak transparanan dalam proses pemilihan dapat menyebabkan ketidakpercayaan publik pada hasil Pemilu dan melemahkan legitimasi pemerintahan yang terpilih. Korupsi Korupsi dalam Pemilu dapat terjadi melalui penyalahgunaan dana kampanye atau pengaruh politik dari korporasi atau kelompok kepentingan tertentu.

Tidak Adanya Alternatif: Tidak adanya alternatif calon yang berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dapat menyebabkan pemilih memilih calon yang kurang baik hanya karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik.

Salah satu upaya untuk mengatasi politik uang adalah dengan memberikan sanksi tegas kepada calon yang terbukti melakukan praktik tersebut. Selain itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih calon berdasarkan kualitas dan kapasitasnya, bukan hanya karena uang atau janji manis.

Kampanye hitam juga harus dihindari dengan memberikan sanksi tegas kepada pelaku kampanye hitam dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahayanya praktik tersebut.

Untuk menghindari kekerasan, perlu ada upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga perdamaian selama proses pemilihan dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku kekerasan.

Penipuan dalam Pemilu dapat dicegah dengan meningkatkan pengawasan pada proses pemilihan dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku penipuan. Ketidakadilan dalam Pemilu dapat dicegah dengan memberikan perlindungan hukum kepada hak suara setiap warga negara tanpa diskriminasi apapun. Dalam rangka memastikan bahwa Pemilu berjalan dengan lancar dan damai, perlu ada upaya untuk mengatasi masalah-masalah ini dan memastikan bahwa proses pemilihan berlangsung secara adil dan transparan.

Pemilu yang memilukan adalah cerminan pahit dari proses demokrasi yang seharusnya menjadi sarana untuk mewujudkan keadilan, partisipasi aktif, dan kehendak rakyat. Kejahatan dan pelanggaran yang terjadi dalam pemilu tersebut tidak hanya merusak integritas proses demokrasi, tetapi juga menghancurkan harapan dan keyakinan rakyat akan sistem politik yang adil dan transparan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita sebagai warga negara untuk terus memperjuangkan pemilu yang bebas dari kecurangan, kekerasan, dan manipulasi, serta untuk memperkuat institusi dan mekanisme yang mendukung demokrasi yang sejati.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.