
SURABAYA, JurnalPost.com – Dua usaha kecil di Surabaya dan Gresik kini tampil berbeda. Agen Jajan sudah bisa menerima pembayaran digital lewat QRIS, sementara Warung Masakan Madura kini punya banner yang memuat nama warung dan menu lebih jelas terbaca dari pinggir jalan. Keduanya merupakan hasil pendampingan lima mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang turun langsung ke lapangan pada Senin (29/6/2026).
Dampaknya langsung terasa. Pemilik Agen Jajan mengaku pelayanannya kini jauh lebih lancar. “Sekarang pelanggan banyak yang memilih membayar dengan dompet digital. Adanya QRIS mengelola pembayaran dan transaksi menjadi lebih praktis,”ujar Bunga.
Hal serupa dirasakan pemilik Warung Masakan Madura setelah banner baru terpasang.
“Banner baru membuat warung saya jadi lebih terlihat sama orang. Para pembeli juga bisa langsung melihat menu yang tersedia sehingga lebih tertarik untuk datang,” ungkap Diah.
Sebelum pembayaran digital QRIS hadir, Agen Jajan hanya melayani pembayaran tunai. Padahal saat ini, semakin banyak pelanggan yang tidak lagi membawa uang tunai saat berbelanja, mereka terbiasa bayar lewat GoPay, OVO, Dana, atau mobile banking lainnya. Dengan adanya QRIS yang kini terpasang di kasir, semua aplikasi dompet digital itu bisa digunakan sekaligus.
Keuntungannya tidak hanya dirasakan para pembeli. Setiap transaksi kini tercatat otomatis tidak ada lagi uang yang lupa dihitung atau salah kembalian di jam ramai saat pembeli datang. Pemilik bisa memantau pemasukan harian langsung dari aplikasi, kapan pun yang penjual butuhkan.

Di sisi lain, Warung Masakan Madura menghadapi masalah yang berbeda yaitu warungnya sulit dikenali saat orang melintas. Tanpa penanda yang jelas, orang yang lewat sering tidak tahu apa yang dijual di dalam. Mahasiswa merancang banner dengan ukuran huruf yang terbaca dari kejauhan, tata letak yang rapi, serta informasi yang lengkap yaitu nama warung dan menu. Tidak mewah tapi langsung fungsional.
Program ini merupakan bagian dari mata kuliah berpraktikum dari prodi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya yaitu Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan yang diampu Drs. Jupriono, M.Si. Lima mahasiswa yang terlibat didalamnya yaitu Lia, Shellen, Dyawi, Indzar, dan Mustika. Mereka memilih QRIS dan Banner bukan tanpa alasan. Keduanya dipilih karena sesuai dengan masalah nyata yang dihadapi masing-masing UMKM yang mereka pilih, bukan sekadar untuk memenuhi tugas kuliah.
Pembangunan bagi UMKM kecil tidak selalu hadir dalam bentuk program besar. Dalam kegiatan ini, perubahan dimulai dari pembuatan QRIS dan banner yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha.




