• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pemborosan Anggaran Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)

Editor Redaksi
25 Februari 2026
in Kolom Opini

Oleh: Alfan Setyawan
Mahasiswa Universitas Islam Raden Rahmat Malang

JurnalPost.com – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dinilai terlalu gegabah, Indonesia belum bisa menerima MBG, banyak pengorbanan yang memicu polemik di masyarakat. Seorang anak yang lahir di Indonesia membuat orang tua sadar bahwa biaya sekolah di negara ini tidaklah gratis, pemerintah memang tidak fokus ke sekolah. Namun, pemerintah justru berfokus pada program makanan. Padahal, seiring bertambahnya usia, anak akan membutuhkan biaya pendidikan yang lebih besar. Muncul persepsi bahwa institusi pendidikan terkadang lebih mengutamakan aspek finansial dibandingkan kontribusi nyata siswa bagi negara. Itulah jeritan sekolah swasta dan guru honorer.

Lingkungan sekolah sudah menjadi tanggung jawab guru bahwa murid harus tahu pendidikan itu sangat penting. Pendidikan tak lagi soal ilmu tapi uang juga berperan. Kualitas pendidikan di Indonesia sampai sekarang tampak kaku seperti kurikulum yang sering berubah, rendahnya gaji guru honorer, tidak meratanya pembangunan sekolah dan tingginya angka pengangguran.

Sistem Pendidikan Lemah
Di negara Jepang ada tokoh bernama Kaisar Hirohito. Waktu itu negara Jepang kalah PD II setelah bom dijatuhkan, yang dilakukan kaisar pertama kali cukup berbeda, ia memerintahkan untuk mengumpulkan sisa-sisa guru. Alasannya cukup masuk akal; kaisar lebih mementingkan perbaikan kualitas pendidikan daripada kekuatan militer. Betapa pentingnya Pendidikan di suatu negara, Jepang yang dulunya terpuruk, sekarang menjadi negara maju. Salah satu pondasi negara adalah Pendidikan berkualitas serta ekonomi yang kuat.

Pendidikan di Indonesia tergolong rendah, peringkat Pendidikan Indonesia secara global berada diposisi ke-67 menurut hasil PISA tahun 2022, peringkat tersebut mencakup kategori matematika, literasi membaca dan literasi sains. Penyebab melemahnya Pendidikan di Indonesia memiliki faktor internal dan eksternal yakni:

1. Keterbatasan ekonomi
2. Biaya Pendidikan mahal
3. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang Pendidikan
4. Kurangnya tenaga pengajar
5. Kurikulum sering berubah
6. Tidak meratanya sekolah di daerah terpencil

Apabila pemerintah abai dalam menangani kasus ini, bisa menimbulkan dampak yang serius, seperti angka pengangguran tinggi, kemiskinan, SDM jadi tidak berkualitas dan ketinggalan zaman dengan negara lain. Di saat negara lain sudah mengeksplorasi luar angkasa, kita justru masih tertahan oleh perdebatan agama serta polemik anggaran program makanan.

Seandainya Pendidikan di Indonesia gratis, mulai dari SD-SMP-SMA, seperti halnya program Makanan Bergizi Gratis (MBG), maka Indonesia bisa menjadi negara maju, orang tua tidak pusing memikirkan biaya SPP anak dan kemungkinan tidak ada korban bunuh diri karena tak mampu beli buku serta pena. Kasus anak SD di NTT adalah peringatan keras bagi masyarakat terutama pemerintah.

Kasus anak SD di NTT bukan persoalan Psikologis saja, karena banyak faktor, bagaimana dengan kemiskinan, biaya fasilitas yang tinggi, sistem pendidikan yang gagal, terutama di daerah pelosok, hal ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Bagi seorang anak yang terus-menerus terhimpit keadaan, ketidakmampuan membeli buku dan pena dianggap sebagai aib bagi diri dan keluarganya. Maka bunuh diri menurutnya adalah keputusan yang masuk akal.

Jika masalahnya adalah anggaran dan pendanaan, seperti pada kasus anak SD di NTT, yang tidak mampu membeli buku dan pena, maka ini menunjukkan adanya kegagalan distribusi dana. Pendanaan pendidikan yang sebaiknya diprioritaskan, namun, dengan adanya program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menggeser dana pendidikan.

Pemborosan Anggaran
Dugaan bahwa anggaran pendidikan dipangkas untuk keperluan program MBG. Seorang guru honorer bernama Reza, yang mengajukan perkara dana MBG ke MK dinilai menguras anggaran pendidikan. Reza menegasakan di MK total semua alokasi dana pendidikan Rp769 triliun, “hak saya untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak dan hak siswa untuk memperoleh fasilitas pendidikan menjadi kabur karena muncul pos anggaran yang tidak seharusnya,” ujarnya.

APBN menetapkan anggaran pendidikan yang seharusnya 20%, namun, diberikan hanya 11,9%. Menurut Reza program MBG mengambil dana pendidikan sekitar Rp268 triliun dari total anggaran Rp769 triliun. Seharusnya dana pendidikan diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab, banyak aspek pendidikan yang perlu ditingkatkan, mulai dari pengajar sampai fasilitas, semua itu belum maksimal. Oleh karena itu, muncul anggapan bahwa program MBG lebih mengutamakan popularitas dan kepentingan politik dibanding esensi pendidikan.

MBG Belum Waktunya
Terkait dugaan program MBG memangkas dana pendidikan. Program MBG ini sistemnya belum transparan, buktinya ada kasus keracunan MBG di berbagai daerah, hal ini bisa memicu konflik keamanan, kesehatan dan kepercayaan masyarakat. Terlebih lagi sekolah menjadi terbebani dengan adanya program MBG, yang berdampak pada profesionalitas guru, sekolah kehilangan makna, guru menjadi tidak fokus untuk mengajar.

Mengapa pendidikan tidak dimaksimalkan dulu, sebelum adanya program MBG. Kalau pendidikan kita sudah maksimal. Maka, tidak ada lagi yang namanya putus sekolah, biaya sekolah bukan menjadi beban, fasilitas sekolah terpenuhi, para guru dapat hak dan sejahtera.

Jika tujuannya untuk kesehatan anak bangsa, memenuhi gizi agar tidak stunting, malnutrisi, sebaiknya pemerintah bisa lebih fokus ke bidang kesehatan masyarakat, terutama para pelajar, tanpa memangkas dana pendidikan. Agar pendidikan dan kesehatan ini harus berjalan dengan seimbang serta tidak menimbulkan polemik masyarakat.
Supaya pendidikan ini semua aspek terpenuhi, dari pengajar sampai fasilitas, maka program MBG tidak perlu masuk, apalagi memangkas hampir setengah anggaran pendidikan, kecuali pendidikan kita sudah maju, itu bisa dinegosiasikan.

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) memang bertujuan baik, namun dalam kondisi ekonomi yang belum stabil dan sistem pendidikan yang belum optimal. Alangkah baiknya program ini diberhentikan dulu, risikonya menimbulkan kekacauan baru jika dipaksakan. Sesuatu yang baru bisa jadi harapan, untuk mencapai harapan prosesnya juga panjang.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.