• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pelatihan Manajer Koperasi Militeristis: Relevankah dengan Kebutuhan Lapangan?

Editor Redaksi
3 Juli 2026
in Kolom Opini
Sumber ylbhi

Oleh: Nurul Hidayah, Mahasiswi Universitas Tidar

JurnalPost.com – Program bagi calon manajer Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih dengan tajuk pelatihan dasar militer (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad), kini resmi berganti nama menjadi Pelatihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. Modifikasi itu dilakukan setelah insiden gugurnya nyawa peserta pelatihan. Namun, perubahan tersebut tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan mendasar tentang relevansi desain teknis militer ini diberlakukan sejak awal.

Mulanya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) merancang pelatihan dengan desain militer untuk menanamkan nilai-nilai disiplin, teamwork, kepemimpinan, semangat, dan etos kerja pada calon manajer Merah Putih. Melansir dari data Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI (2026), terdapat 35.476 peserta yang terdiri dari 30.000 manajer Kopdes Merah Putih dan 5.476 pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Sebelum sistem pelajaran direvisi, seluruh peserta diwajibkan mengikuti latihan dasar militer selama 30 hari dan 15 hari belajar ilmu manajerial koperasi. Selain itu, Latsarmil Komcad juga memakan biaya yang cukup fantastis. Berdasarkan pemaparan Anggota Komisi I DPR, Tubagus Hassanudin, mengungkapkan anggaran Latsarmil per-orang mencapai 30 juta, sedangkan untuk pembelajaran substansi koperasi hanya 15 juta. Keterangan tersebut menandakan bahwa terjadi ketidaksesuaian prioritas kompetensi.

Tugas utama seorang manajer koperasi sebenarnya ialah mengelola operasional harian supaya koperasi dapat berjalan efektif dan menguntungkan. Namun, model pembekalan yang disediakan pemerintah justru condong pada latihan fisik dan prosedur komando yang tidak relevan dengan manajerial koperasi. Ketidaksesuaian ini dapat mengubah orientasi pembelajaran, sehingga peserta kurang dibekali ilmu praktis untuk mengelola kas, menyusun laporan keuangan, menyediakan layanan yang relevan, dan membangun kepercayaan anggota. Akibat dari materi yang tidak aplikatif tersebut, yakni melemahnya kapasitas koperasi untuk tumbuh dan justru berpotensi menimbulkan kebingungan peran manajer di ruang kerja. Desain pelatihan ini tak hanya soal ketidaksesuaian materi, tetapi konsekuensinya juga terlihat langsung di lapangan.

Berdasarkan informasi terbaru dari Kemhan, terdapat lima peserta yang meregang nyawa selama Latsarmil berlangsung. Donny Ermawan selaku Wakil Menteri Pertahanan mengungkapkan bahwa kematian calon-calon manajer tersebut dilandasi karena beberapa faktor. Penyebab pertama ialah perubahan pola hidup, mereka yang terbiasa menjalani kehidupan sipil tiba-tiba masuk ke barak militer dengan intensitas kedisiplinan tinggi. Adapun faktor penyakit bawaan, yang artinya tidak semua orang menjalani Latsarmil dalam keadaan sehat. Selain itu, kondisi cuaca juga disinyalir menjadi faktor yang memperburuk kondisi korban.

Pernyataan dari pihak tersebut justru menyisakan tanda tanya besar. Perlu kejelasan sebenarnya siapa yang membuat keputusan desain materi, apakah ada kajian kebutuhan dan uji kesehatan pra-latihan, serta protokol darurat apa yang diterapkan saat cuaca atau kondisi peserta memburuk. Setelah tekanan dari berbagai pihak meningkat, barulah Kemhan memangkas durasi latihan dan menghapus materi teknis serta taktis militer. Upaya perubahan memang dapat dibaca sebagai langkah koreksi, tetapi dalam konteks ini menandakan bahwa desain program tersebut sedari awal memang belum tepat. Dasar ilmiah, konstitusional, dan standar keselamatan seharusnya diprioritaskan dalam perancangan pendidikan manajerial.

Berkaca dari persoalan tersebut, sebaiknya pemerintah menempatkan Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih sebagai program penguatan ekonomi masyarakat, bukan menjadi ruang coba-coba pendekatan semimiliter. Oleh karena itu, pembekalan seharusnya berfokus pada manajemen usaha, literasi keuangan dan akuntansi, serta digitalisasi koperasi. Selain karena relevan dengan kebutuhan, pelatihan jenis ini juga menggunakan biaya yang lebih efisien dan menyasar langsung pada prioritas utama. Langkah perbaikan yang dapat dilakukan mencakup kajian kebutuhan bersama, penyusunan kurikulum berbasis kompetensi inti koperasi, melibatkan narasumber yang berkompeten di bidang pengelolaan keuangan, dan menguji materi melalui pilot di lapangan. Selain itu, hasil kajian dan mekanisme pengawasan juga harus ditransparasikan supaya dapat diawasi publik.

Dengan begitu, evaluasi program tidak hanya berhenti pada pengurangan unsur militer melainkan benar-benar mengarah pada perbaikan secara substansial. Persoalan ini menjadi pembelajaran mahal bagi pihak terkait, bahwa setiap program harus didesain secara matang sebelum diluncurkan. Sebab tanpa perbaikan riil, risiko pemborosan anggaran hingga ancaman keselamatan warga sipil akan terus berulang. Dengan demikian, pengelolaan kebijakan publik semestinya memerlukan kalkulasi yang tepat demi dampak kesejahteraan yang nyata kepada masyarakat.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.