Hery Murnawan1, Ricky Rochmawan Riyanto2, Kevin Irgi Fahrezaldy3, Giovanni Putri Nathalia4,
Muhammad Fachrieza Sheva Pratama5, Muhammad Akmal Bakhits6 e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Tingginya volume sampah, terutama sampah organik (60% hingga 70% dari total timbulan), yang masuk ke TPA Benowo Surabaya (1.600–1.700 ton/hari) menuntut solusi pengelolaan yang terdesentralisasi. Pengabdian masarakat ini menyajikan hasil kegiatan pelatihan dan studi pendahuluan yang berfokus pada teknik biokonversi sampah organik rumah tangga (SORTH) menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens) di Kelurahan Benowo. Metode yang diterapkan adalah pelatihan teori dan praktik langsung yang diikuti oleh Karang Taruna dan warga RW 03. Studi pendahuluan melalui wawancara dan observasi dengan peternak BSF lokal, Bapak Taufiq, mengidentifikasi bahwa budidaya BSF dapat direplikasi secara mudah di tingkat rumah tangga karena kesederhanaan infrastruktur (menggunakan bak plastik/kayu) dan biaya awal yang rendah. Evaluasi menunjukkan bahwa peserta berhasil memahami peran maggot BSF sebagai solusi ramah lingkungan untuk pengurangan SORTH sekaligus sebagai peluang usaha yang menguntungkan (pakan ternak dan pupuk organik). Pelatihan ini berhasil menyediakan kerangka kerja praktis dan terukur bagi masyarakat Kelurahan Benowo untuk memulai pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
KATA KUNCI : Maggot BSF, Biokonversi, Sampah Organik Rumah Tangga, Pelatihan, Kelurahan Benowo.
ABSTRACT
The high volume of waste, especially organic waste (60% to 70% of total waste), entering the Benowo Surabaya Landfill (1,600–1,700 tons/day) requires a decentralized management solution. This community service presents the results of training activities and preliminary studies focusing on household organic waste (SORTH) bioconversion techniques using Black Soldier Fly (BSF) larvae (Hermetia illucens) in Benowo Subdistrict. The method applied involves both theoretical training and hands-on practice attended by Karang Taruna and residents of RW 03. Preliminary studies through interviews and observations with local BSF farmer, Mr. Taufiq, identified that BSF cultivation can be easily replicated at the household level due to the simplicity of the infrastructure (using plastic/wooden bins) and low initial cost. Evaluation showed that participants successfully understood the role of BSF maggots as an environmentally friendly solution for reducing SORTH as well as a profitable business opportunity (animal feed and organic fertilizer). This training successfully provided a practical and measurable framework for the community of Benowo Subdistrict to independently and sustainably manage organic waste.
KEYWORDS : BSF Maggot, Bioconversion, Household Organic Waste, Training, Benowo Subdistrict.
PENDAHULUAN
Pengelolaan sampah padat, khususnya yang berasal dari sektor domestik, merupakan isu lingkungan dan tata kota yang mendesak di seluruh Indonesia. Di Kota Surabaya, tantangan ini terpusat pada kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo yang menampung volume sampah harian sangat besar. Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menunjukkan bahwa volume sampah yang masuk ke TPA Benowo mencapai rata-rata 1.600 hingga 1.700 ton per hari (DLH Surabaya, 2023).
Dari total timbulan sampah tersebut, sampah organik mendominasi secara signifikan, diperkirakan mencapai 60% hingga 70% (DLH Surabaya, 2023). Dominasi ini sebagian besar berasal dari limbah domestik rumah tangga, seperti sisa makanan dan sampah dapur. Tingginya proporsi sampah organik di TPA Benowo tidak hanya mempercepat kejenuhan lahan, tetapi juga berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca, terutama gas metana (CH4), hasil dari dekomposisi anaerob, yang memiliki potensi pemanasan global puluhan kali lipat lebih tinggi daripada karbon dioksida (CO2). Oleh karena itu, diperlukan upaya drastis dan terdesentralisasi untuk mengurangi beban sampah, khususnya pada sumbernya, yaitu skala rumah tangga.
Salah satu pendekatan inovatif dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah organik adalah melalui proses biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal dengan maggot (Hermetia illucens). Biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot (Hermetia illucens) adalah pendekatan berkelanjutan yang terbukti efektif. Maggot BSF dikenal karena kemampuannya dalam mendegradasi limbah organik dengan cepat. Larva BSF dapat mengurangi massa limbah hingga 50–70% dalam periode budidaya yang singkat (Tomberlin et al., 2002; Tomati et al., 2017).
Lebih dari sekadar pengurangan sampah, budidaya BSF menghasilkan dua produk bernilai ekonomi tinggi yang mendukung konsep ekonomi sirkular:
- Protein Pakan (Maggot): Maggot BSF adalah sumber protein hewani alternatif unggul, dengan kandungan protein kasar mencapai 40–50% (Wardhana, 2017), yang dapat menggantikan tepung ikan mahal dalam formulasi pakan ternak (ikan, unggas), sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.
- Pupuk Organik (Kasgot): Residu biokonversi (kasgot) merupakan pupuk organik berkualitas yang dapat digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian skala kecil dan rumah tangga.
Kelurahan Benowo, sebagai salah satu wilayah pemukiman padat, menghadapi tantangan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang sama. Implementasi teknologi biokonversi maggot BSF di tingkat kelurahan diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah yang mandiri dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi teknik budidaya maggot BSF dalam skala rumah tangga di Kelurahan Benowo, dengan fokus pada efisiensi biokonversi sampah organik spesifik rumah tangga (sisa makanan dan sejenisnya) dan potensi ekonomi dari hasil maggot yang diproduksi.
Hasil pengabdian masyarakat ini diharapkan memberikan kerangka kerja praktis dan terukur bagi masyarakat Benowo untuk mengurangi timbulan sampah organik secara signifikan, sambil mempromosikan ekonomi sirkular berbasis komoditas pakan ternak lokal.
METODE PENELITIAN
Pelatihan dilaksanakan dengan metode teori dan praktik langsung, sehingga peserta dapat memahami konsep sekaligus mampu mengaplikasikannya di rumah. Dengan mengikuti kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu mengurangi volumen sampah organik, menjaga kebersihan lingkungan, serta membuka peluang pemanfaatan maggot sebagai pakan ternak dan produk bernilai ekonomi.
a. Lokasi dan Partisipan
- Lokasi Implementasi : RW 03, Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal, Kota
- Partisipan : Anggota Karang Taruna RW 03, Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal, Kota Kelompok ini adalah mitra aktif yang berpartisipasi dalam setiap tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
- Narasumber Ahli : Bapak Taufiq selaku peternak Maggot BSF Lokal, sebagai sumber pengetahuan praktis.
b. Tahapan Kegiatan
Tahap I : Perencanaan Bersama dan Studi Pendahuluan
- Tim Pengabdian Masyarakat melakukan diskusi awal dengan pengurus RW 03 dan Karang Taruna untuk mengonfirmasi urgensi masalah sampah organik di lingkungan
- Tim Pengabdian Masyarakat melakukan kunjungan ke lokasi budidaya Bapak Taufiq. Wawancara mendalam partisipatif dan observasi langsung dilakukan untuk mendokumentasikan teknik operasional budidaya BSF yang efisien dan berkelanjutan secara lokal. Bertujuan menginternalisasi Standard Operational Procedure (SOP) budidaya BSF berbasis pengalaman nyata sebelum mentransfernya kepada masyarakat.
- Materi penyuluhan dan demonstrasi dirancang berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari Bapak Taufiq dan disesuaikan dengan sumber daya (sampah organik rumah tangga) di RW 03.
Tahap II : Pelatihan
- Tim Pengabdian Masyarakat memfasilitasi sesi pelatihan di Balai RW 03 Kelurahan Benowo yang dihadiri oleh Karang Taruna RW 03 Kelurahan Benowo.
- Sesi ini dilakukan secara interaktif, di mana peserta didorong untuk berbagi pandangan mengenai potensi BSF dan merencanakan pengelolaan limbah mereka sendiri.
- Dilaksanakan demonstrasi proses maggot, dimana Karang Taruna terlibat langsung dalam: (a) perakitan biopond sederhana; (b) pemilihan dan pra-perlakuan sampah organik rumah tangga; dan (c) Inokulasi (penyebaran) 1 kg larva BSF sebagai starter ke dalam media pakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ditemukan bahwa kandang didesain sederhana namun fungsional, menggunakan kawat kasa halus untuk mencegah lalat lain masuk, serta media budidaya berupa bak plastik/kayu. Metode budidaya yang diterapkan Bapak Taufiq dicirikan oleh kesederhanaan infrastruktur (bak plastik/kayu) dan standar operasional yang mudah dipahami. Hal ini penting untuk keberhasilan program pelatihan, karena menunjukkan bahwa budidaya maggot tidak memerlukan modal awal yang besar dan dapat direplikasi oleh peserta pelatihan dengan keterbatasan sumber daya. Kendala seperti manajemen kelembapan (yang krusial agar maggot tidak mati) dan hama merupakan poin penting yang harus ditekankan dan diberikan solusinya dalam materi pelatihan. Penggunaan Sampah Organik Rumah Tangga sebagai pakan utama (seperti yang dilakukan Bapak Taufiq) menegaskan peran maggot BSF sebagai agen biokonversi yang efektif.
Tabel 1. Data Ukuran Umum Bak Plastik untuk Budidaya Maggot BSF
| Skala Budidaya | Ukuran (P x L x T) | Kapasitas Sampah | Penggunaan |
| Rumah tangga kecil | 40 x 30 x 20 cm | 1-3 kg/hari | Cocok untuk skala uji coba atau menampung larva baru menetas (baby
maggot) |
| Rumah Tangga sedang | 60 x 40 x 30 cm | 3-5 kg/ hari | Ukuran paling umum dan mudah dipindah-
pindahkan. |
| Semi-komersial (Pembesaran) | 80 x 50 x 35 cm | 5-10kg/hari | Untuk pe,besaran maggot hinggpanen, menampung po[pulasi yang lebih
padat. |
| Industri/Komersial (Kolam) | >100x > 50x > 40
cm |
> 10 kg/hari | Seringkali menggunakan bak fiber atau kolam semen, bukan laigi
bak plstik biasa. |
Pengamatan menunjukkan bahwa maggot dipanen pada akhir fase larva (sekitar hari ke- 18 hingga ke-21) sebelum mereka berubah mernjadi prepupa, karena pada fase ini maggot memiliki kandungan protein dan lemak tertinggi. Seluruh durasi siklus sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan media pakan sekitar 60-70%. Kondisi dingin dapat memperlambat fase larva hingga berbulan-bulan. Lalat BSF dewasa tindak menggigit /menyengat dan tidak membawa penyakit seperti lalat rumah, sehingga aman dibudidayakan di lingkungan rumahan.
Tabel 2. Siklus Hidup Maggot BSF
| Fase | Durasi | Deskripsi |
| Telur | 3-4 hari | Telur diletakkan oleh lalat betina dewasa di celah-celah kering (seperti kardus atau papan kayu) dekat dengan sumber pakan (sampah oganik). Telur berwarna putih kekuningan, mirip
butiran garam. |
| Larva (Maggot) | 18-21 hari | Larva yang baru menetas (baby maggot) berukuran kecil dan akan makan tanpa henti, merombak sampah organik. Pada fase akhitr yaitu sekitar hari ke-18, larva mencapai ukuran dan besar maksimal yaitu 0,16g/ekor dan berwarna krem. Fase inilah yang dipanen sebagai
panen ternak. |
| Prepupa | 7-14 hari | Larva berhenti makan, tubuhnya berubah menjadi warna cokelat gelap kehitaman dan strukturnya menjadi lebih keras. Prepupa secara alami akan bermigrasi atau merangkak mencari tempat yang kering dan tersembunyi untuk bersiap
menjadi pupa. |
| Pupa | 7/-14 hari | Prepupa membentuk cangkang pupa yang keras. Serangga di dalamnya melakukan transformasi menjadi lalat dewasa. Ini adalah fase istirahat dan tidak
bergerak. |
| Lalat Dewasa | 5-8 hari | Lalat dewasa keluar dari pupa. Lalat BSF berwarna hitam, tidak memiliki alat mulut untuk makan, dan hanya minum air. Fungsi utamanya adalah kain dan bertelur. Lalat jantan biasanya mati setelah kawin dan lalat betina mati setelah
berhasil bertelur. |

3.2. Pembuatan Kandang Lalat BSF dan Biopond
Kandang lalat BSF (disebut juga Kandang Breading atau Imago) merupakan infrastruktur esensial dalam budidaya maggot BSF berkelanjutan. Kandang ini berfungsi sebagai tempat perkawinan (kopulasi) lalat dewasa dan tempat betina meletakkan telur (oviposisi), memastikan siklus hidup BSF terus berlanjut.
Pembuatan kandang lalat BSF ini memiliki beberapa tujuan utama:
- Mengoptimalkan Kopulasi : Menyediakan lingkungan yang teduh, hangat, dan memiliki intensitas cahaya matahari langsung yang memadai, yang merupakan faktor penting dalam keberhasilan perkawinan lalat BSF.
- Melindungi Telur: Melindungi telur yang baru diletakkan dari predator (seperti semut) dan faktor lingkungan (hujan atau kelembapan berlebih).
- Mengontrol Populasi: Memastikan produksi telur terkonsentrasi di area yang disediakan (media oviposisi) untuk memudahkan panen telur.
Bahan yang digunakan dipilih berdasarkan ketersediaan lokal dan pertimbangan ekonomis agar mudah direplikasi oleh masyarakat Kelurahan Benowo. Adapun bahan yang digunakan adalah :
- Rangka Kayu/Bambu sebagai struktur utama penyangga
- Jaring Kasa Nyamuk (halus) untuk dinding kandang agar lalat BSF tidak keluar dan lalat liar (seperti lalat hijau) tidak masuk, sehingga menjaga kehigienisan koloni.
- Plastik UV/Atap Transparan digunakan sebagai atap untuk memastikan kandang mendapatkan intensitas sinar matahari yang cukup (faktor krusial untuk perkawinan BSF).
- Papan/Triplek (sekat) untuk membuat rak media penetasan telur dan rak pupation box
- Media Oviposisi Bilah kayu kering, kardus berongga, atau tumpukan papan tipis yang diletakkan di dekat umpan atau atraktan untuk tempat bertelur lalat betina.
-
Dimensi 150 cm (panjang) x 100 cm (lebar) x 180 cm (tinggi). Ukuran ini dianggap ideal
untuk skala komunal/rumah tangga, memberikan ruang terbang yang cukup bagi lalat BSF. Kandang ditempatkan di luar ruangan (outdoor) atau di lokasi yang terkena sinar matahari langsung selama beberapa jam di pagi hari.

3.3. Pelatihan Budidaya Maggot
Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) berjalan dengan baik dan mampu mencapai sebagian besar target yang telah direncanakan. Jumlah peserta yang hadir menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap program ini. Dari target awal 25 peserta, kegiatan berhasil diikuti oleh 40 peserta, terdiri dari warga desa, kelompok pemuda, dan ibu rumah tangga yang tertarik mengembangkan usaha pengelolaan sampah organik dan pakan ternak alternatif.
Dalam hal ketercapaian tujuan, kegiatan ini berhasil menumbuhkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot. Peserta dapat memahami peran maggot sebagai solusi ramah lingkungan, sekaligus sebagai peluang usaha yang menguntungkan. Dari hasil evaluasi lisan dan diskusi, sebagian besar peserta mampu menyebutkan manfaat budidaya maggot, tahapan pemeliharaan, serta potensi ekonominya. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama kegiatan, yaitu memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai budidaya maggot, telah tercapai dengan sangat baik.
Dari sisi target materi, seluruh poin penting berhasil disampaikan secara lengkap oleh pemateri. Materi meliputi:
- Pengenalan maggot BSF dan siklus
- Teknik pengolahan sampah organik untuk pakan
- Cara pembuatan kandang BSF
- Proses pembiakan, panen, dan pemanfaatan
- Peluang bisnis dan pemasaran produk
Peserta tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga mengikuti praktik langsung seperti cara menyiapkan media pakan, memindahkan larva, dan mengamati proses pengomposan. Hal ini membuat penyampaian materi lebih mudah dipahami dan aplikatif di lapangan.
Dari aspek kemampuan pelaksanaan kegiatan, seluruh rangkaian berlangsung dengan lancar berkat koordinasi yang baik antara panitia, pemateri, dan pemerintah desa. Sarana praktik yang disediakan cukup memadai, mulai dari contoh kandang, wadah pakan, hingga sampah organik sebagai bahan demonstrasi. Beberapa kendala kecil seperti keterbatasan alat praktik dapat diatasi dengan sistem bergiliran sehingga tidak menghambat kegiatan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini dapat dikategorikan berhasil. Target peserta terpenuhi, tujuan kegiatan tercapai, materi tersampaikan dengan baik, dan peserta menunjukkan minat serta kemampuan awal untuk mengembangkan budidaya maggot secara mandiri. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal masyarakat dalam mengurangi sampah organik sekaligus membuka peluang usaha baru yang berkelanjutan.

KESIMPULAN
Budidaya maggot BSF merupakan solusi yang sangat relevan dan mendesak untuk mengatasi dominasi sampah organik rumah tangga di Kelurahan Benowo, yang sejalan dengan upaya pengurangan beban volume sampah di TPA Surabaya. Maggot BSF terbukti efektif sebagai agen biokonversi Sampah Organik Rumah Tangga (SORTH).
Wawancara dan observasi dengan peternak lokal (Bapak Taufiq) menunjukkan bahwa budidaya BSF dapat dilakukan dengan infrastruktur yang sederhana (bak plastik/kayu) dan standar operasional yang mudah dipahami, sehingga tidak memerlukan modal awal yang besar dan sangat mungkin untuk direplikasi oleh masyarakat di tingkat rumah tangga.
Ketercapaian Tujuan Pelatihan: Pelatihan yang melibatkan Anggota Karang Taruna dan warga berhasil menumbuhkan pemahaman dan keterampilan dasar yang kuat. Peserta (mencapai 40 orang) dapat memahami peran ganda maggot sebagai solusi lingkungan dan peluang usaha melalui produk pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk organik (Kasgot).
Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini dikategorikan berhasil, memberikan pengetahuan dan kerangka kerja praktis yang diharapkan dapat menjadi langkah awal yang berkelanjutan bagi masyarakat Benowo dalam mewujudkan kemandirian pengelolaan sampah organik dan pengembangan ekonomi sirkular lokal.
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya. (2023). Laporan tahunan pengelolaan sampah Kota Surabaya 2023. Pemerintah Kota Surabaya.
Tomberlin, J. K., Sheppard, D. C., & Joyce, J. A. (2002). Selected life-history traits of black soldier flies (Diptera: Stratiomyidae) reared on three artificial diets. Environmental Entomology, 31(2),361–366. (https://doi.org/10.1603/0046-225X-31.2-361)
Tomati, U., Galli, E., & Pasetti, L. (2017). Bioconversion of organic wastes using black soldier fly larvae. Journal of Waste Management & Research, 35(4), 345–352.
Wardhana, A. H. (2017). Potensi Maggot BSF sebagai sumber protein pakan ternak alternatif.
Balai Penelitian Ternak Indonesia.



