Penulis :
Fany Putri Khoirina, Haniatul Mazidah, dan Miftakhurrochmah

JurnalPost.com – Indonesia merupakan negara yang subur dan mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mengandalkan nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris, negara dimana sebagian besar penduduknya menjadikan sektor pertanian sebagai bagian besar dari pendapatannya. Sebagai negara agraris, Indonesia mampu menghasilkan produk pertanian dan perkebunan dalam jumlah yang besar. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, konsumsi beras juga akan meningkat. Contohnya adalah padi, karena padi menjadi sumber utama makanan pokok bangsa Indonesia. Hal ini diperkuat berdasarkan data produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk tahun 2022 yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) yakni mencapai 31,54 juta ton, mengalami kenaikan sebanyak 184,50 ribu ton atau 0,59 % dibandingkan dengan produksi di tahun 2021 sebesar 31,36 juta ton. Ketergantungan pada satu jenis pangan terbukti menyebabkan kerentanan pangan (Sibuea, dkk., 2014). Sudah 78 tahun Indonesia merdeka. Namun, kenyataannya Indonesia masih belum lepas dari impor pangan, seperti gandum, kedelai, beras, dll. Di cap sebagai negara agraris bukan berarti Indonesia tidak terbebas dari impor bahan pangan. Sampai saat ini Indonesia tetap melakukan impor beras untuk menjaga ketersediaan beras yang ada di Indonesia di masa depan. Hal tersebut dikarenakan ketersediaan beras tidak bergantung pada hasil produksi dalam negeri.
Alasan yang melatarbelakangi kegiatan impor beras adalah tingginya konsumsi beras di masyarakat. Kebiasaan mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok akan sulit dilepaskan dari pola konsumsi masyarakat Indonesia. “Belum makan, kalau belum makan nasi” adalah ungkapan yang sering diucapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia ketika ditanya mengenai makanan. Fakta ini menunjukkan bahwa nasi menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Ketidakpastian harga beras menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong impor beras ke dalam negeri. Pasalnya, kondisi cuaca yang tidak menentu dan tekanan hama yang terjadi pada musim tanam dapat menyebabkan gagal panen dan harga beras mengalami kenaikan. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ismail Wahab (2022), Direktur Serealia, Kementerian Pertanian, yang mengatakan bahwa kenaikan harga di akhir tahun kerap terjadi akibat ketersediaan pasokan beras yang rendah karena pengaruh musim.
Namun, harga menjadi jauh lebih tinggi karena peningkatan beberapa faktor biaya produksi yang meningkat, seperti adanya kenaikan bahan bakar dan kenaikan harga pupuk dunia yang berdampak pada harga produksi. Banyak petani yang menggunakan pupuk non subsidi yang disebabkan karena terbatasnya pasokan pupuk subsidi yang berimbas pada harga jual hasil panen petani yang semakin tinggi akibat tambahan biaya modal yang dikeluarkan. Penyebab lainnya adalah adanya alih fungsi lahan pertanian yang digunakan untuk memproduksi tanaman pangan menjadi lahan industri, lahan pemukiman, dan lain-lain. Dampak positif dari adanya impor beras yang dilakukan pemerintah adalah ketahanan pangan Indonesia terjamin dan cadangan beras negara aman. Sementara itu, dampak negatif dirasakan oleh petani beras dalam negeri yang berasnya tidak mampu bersaing dengan beras impor.
Disisi lain, masyarakat Indonesia masih mempunyai ketergantungan terhadap makanan cepat saji terutama dalam konsumsi nasi dan makanan yang berbahan dasar terigu, seperti mie. Sebenarnya konsumsi mie diperbolehkan jika diolah menggunakan bumbu racikan sendiri. Namun berbeda dengan Negara China, Jepang, dan Korea Selatan yang masyarakatnya tetap sehat meskipun gemar mengonsumsi mie, seperti Ramen dari Jepang, mi beras guilin dari China, serta ramyeon dari Korea Selatan. Menurut dr. Zaidul Akbar (2023), meski gemar makan mie instan, namun tetap menerapkan pola hidup sehat setiap hari, rutin berolahraga, dan memilih jalan kaki untuk pergi ke suatu tempat. Hal ini dapat memberikan manfaat bagi tubuh dan membakar lemak tidak sehat dalam tubuh.
Di Indonesia, konsumsi mie dianggap tidak baik jika dikonsumsi secara terus menerus, karena mie mengandung banyak kalori. Jika diolah menjadi mie instan didalamnya terdapat bumbu-bumbu yang mengandung zat MSG (Monosodium Glutamate) yang apabila di konsumsi terus-menerus dapat mengakibatkan ketergantungan. MSG dapat memicu kelumpuhan, penurunan kecerdasan, dan merangsang otak menjadi kecanduan makan mie instan. Penyebab lainnya adalah masyarakat Indonesia sering makan mie instan, namun tidak diimbangi dengan rutin berolahraga, sehingga dapat memicu berbagai penyakit. Jika tetap ingin mengonsumsi mi instan, sebaiknya diimbangi dengan olahraga secara teratur agar kalori tidak menumpuk di dalam tubuh.
Konsumsi nasi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia didukung dengan jumlah produksi beras yang melimpah. BPS melaporkan total produksi beras pada tahun 2020 adalah 54,6 juta ton yang merupakan hasil dari luas area panen 10,6 juta hektare. Sementara itu, Food and Agriculture Organization (FAO) juga melaporkan data yang sama mengenai hasil produksi beras Indonesia yakni sebesar 54,6 juta ton. Indonesia dan sebagian besar negara di benua Asia merupakan wilayah dengan produksi beras yang melimpah. Meskipun ketersediaan beras di Indonesia terjaga, kita perlu mengantisipasi jika kedepannya terjadi penurunan produksi beras karena kekeringan akibat El Nino, dll. Keadaan masyarakat Indonesia yang bergantung pada bahan pangan pokok, seperti beras dan gandum dapat melemahkan ketahanan pangan nasional.
Menurut Peraturan Pemerintah nomor 17 Tahun 2015 Tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”. Kita perlu mendukung ketahanan pangan nasional dengan cara melakukan diversifikasi pangan, yaitu tidak bergantung terhadap satu komoditas pangan saja, namun dapat memanfaatkan sumber pangan lokal di daerah, seperti umbi-umban. Umbi-umbian merupakan salah satu komoditas pertanian yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap keanekaragaman pangan dan kecukupan gizi masyarakat karena mengandung vitamin, mineral dan serat, (Komarayanti, 2017). Umbi-umbian merupakan salah satu potensi lokal yang harus dikembangkan dan mempunyai beberapa keunggulan yaitu kandungan gizi dan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber pangan sekaligus alternatif pengganti nasi. Umbi-umbian dapat tumbuh di daerah marginal dimana tanaman lain tidak bisa tumbuh dan disimpan dalam bentuk pati. Selain itu, umbi-umbian merupakan salah satu penunjang ketahanan dan kesejahteraan pangan masyarakat.
Badan Ketahanan Pangan (BKP) tahun 2020, menyajikan data kualitas dan kuantitas umbi-umbian yang banyak dimanfaatkan atau dikonsumsi masyarakat menjadi 5 macam, antara lain singkong, ubi jalar, kentang, sagu, dan umbi-umbian lainnya. Salah satu makanan pengganti nasi yang menjadi tren beberapa tahun terakhir adalah ubi jalar atau Ipomoea batatas L. Konsumsi umbi-umbian di Indonesia masih tergolong rendah. Standar pola makan yang diharapkan pola pangan harapan (PPH) yang merekomendasikan kontribusi energi pangan kelompok umbi-umbian terhadap total kebutuhan energi 2.100 kkal adalah sebesar 6% atau sekitar 126 kkal per hari. Konsumsi pada tahun 2020 belum mencapai porsi energi yang direkomendasikan dan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2019 (BKP 2021). Beberapa lapisan masyarakat yang memanfaatkan ubi jalar sebagai sumber pangan. Ubi jalar merupakan salah satu alternatif pengganti nasi sebagai makanan pokok karena menghasilkan mineral, vitamin dan sumber energi dengan lebih efektif (Purbasari & Sumadji, 2018).
Banyak masyarakat yang memanfaatkan umbi-umban sebagai pengganti nasi karena mengandung sumber karbohidrat. Ubi jalar mempunyai peranan penting sebagai bahan pangan alternatif selain beras dan sebagai bahan baku industri yang memiliki banyak keunggulan. Ubi jalar cocok menjadi bahan makanan pengganti nasi bagi orang yang ingin mengontrol berat badan. Hal ini diungkapkan oleh dokter dan ahli gizi masyarakat Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum., yang mengatakan bahwa nasi putih mempunyai indeks glikemik yang tinggi (kecepatan mencerna menjadi gula), sedangkan umbi mempunyai indeks glikemik yang lebih rendah karena kandungan seratnya. Nasi panas memiliki kandungan gula lebih tinggi dibandingkan nasi dalam keadaan dingin. Pernyataan nasi putih panas dan nasi putih dingin sebenarnya ditujukan untuk para penderita diabetes yang kesulitan mengontrol kadar gula darahnya. Penderita diabetes perlu memperhatikan pola makanannya agar kadar gula darahnya tetap dalam batas normal. Penderita diabetes percaya bahwa lebih baik menunggu nasi menjadi dingin daripada makan nasi dalam keadaan panas. Hal ini dikarenakan mengonsumsi nasi dengan keadaan dingin dapat menurunkan indeks glikemik yang ada pada nasi.
Jawa Timur merupakan penghasil ubi jalar terbanyak dengan hasil panen sebesar 245,52 kuintal per hektar pada tahun 2017 (Badan Pusat Statistik, 2018). Sebagian besar kebutuhan ubi jalar nasional dipenuhi oleh produksi ubi jalar di Jawa Timur. Menurut Badan Pusat Statistik (2017), luas panen ubi adalah 1.184.094 ha. Berdasarkan data produksi ubi jalar, wilayah Mojokerto merupakan salah satu daerah produksi ubi jalar terbesar di Provinsi Jawa Timur, dengan produksi ubi jalar tertinggi pada tahun 2018 yaitu sebesar 65.024,60 Ton (Badan Pusat Statistik, 2019). Umbi memiliki kalori yang kecil dan banyak serat, bahkan ubi ungu dan kuning mempunyai kandungan antioksidan. Namun, jika dijadikan sebagai makanan pengganti nasi, ubi jalar kurang cocok karena dapat menyebabkan perut kembung. Jika ingin mengolah ubi jalar sebagai bahan pengganti nasi, kita tidak perlu mengolahnya dengan cara yang rumit, melainkan kita hanya cukup mengukus ubi jalar tersebut, karena dengan menambahkan bahan makanan yang beragam bisa membuat ubi yang seharusnya sehat menjadi tidak sehat lagi. Dari segi ekonomi, ubi jalar dijual dengan harga murah di pasaran bila dibandingkan dengan beras. Oleh karena itu, harga umbi-umbian terjangkau untuk semua kalangan masyarakat Indonesia baik kalangan menengah, atas, maupun bawah dapat membeli umbi-umbian untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, mahalnya harga tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan konsumsi karbohidrat harian. Kebanyakan masyarakat Indonesia melakukan kesalahan saat makan nasi. Mereka asal makan tanpa menghiraukan kandungan gizi dalam makanan tersebut. Sementara itu, umbi-umbian mengandung nilai gizi yang tinggi sehingga sering dijadikan sebagai bahan makanan yang sehat dan bergizi. Umbi-umbian mengandung lebih sedikit gula dibandingkan nasi tetapi tinggi serat. Serat sangat bermanfaat bagi sistem pencernaan manusia. Serat baik untuk melancarkan buang air besar. Oleh karena itu, dapat dikatakan umbi-umbian lebih sehat dibandingkan nasi.
Disisi lain, jenis umbi-umbian yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat selain ubi jalar adalah singkong. Singkong atau Manihot esculenta merupakan tanaman yang tumbuh dari akar ketela pohon. Singkong mudah ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Begitu pula dengan makanan yang terbuat dari singkong. Singkong mempunyai manfaat lain sebagai alternatif pengganti nasi. Singkong merupakan tanaman pangan perdu dengan nama lain ubi kayu, ketela pohon, dan telo kaspe. Umur simpan singkong segar relatif singkat. Oleh karena itu, singkong dapat diolah menjadi gaplek, tepung tapioka, tape, keripik singkong dan lainnya untuk mencapai umur simpan yang lebih lama. Dengan mengonsumsi singkong, kita bisa mendapatkan karbohidrat yang cukup tanpa harus bergantung pada nasi. Singkong juga kaya akan serat yang baik untuk kesehatan pencernaan. Berdasarkan teori dan penelitian tentang karakteristik serta khasiat umbi-umbian terutama ubi jalar dan singkong, masyarakat yang mengonsumsi singkong dianggap sebagai kaum miskin. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Dr. Andriko Noto Susanto, SP, MP saat webinar berjudul “Makan singkong bikin sehat” yang diselenggarakan pada Kamis, 2 Agustus 2021, Konsumsi singkong masih sebatas camilan dan makanan selingan. Oleh Karena itu, program diversifikasi pangan sangat penting untuk mendukung pola pangan yang bergizi seimbang, sehat, dan aman.
Ubi jalar dan singkong merupakan tanaman pangan musiman yang mudah dibudidayakan dan dapat tumbuh dan berkembang di seluruh Indonesia. Masyarakat Indonesia diharapkan mampu untuk mengoptimalkan tanaman umbi-umbian sebagai alternatif pengganti nasi dan meningkatkan konsumsi pangan ubi jalar dan singkong dengan cara melakukan diversifikasi pangan sebagai produk pangan alternatif nasional yang mempunyai peranan utama sebagai bahan pangan dan sebagai bahan industri.
Daftar Pustaka
Badan Ketahanan Pangan. 2020. Laporan Kinerja : Pusat Ketersedian dan Kerawananan Pangan Tahun 2019. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.
Badan Pusat Statistik,2019. Istilah penelusuran ini muncul dalam hasil: ubi, jalar, ungu, Mojokerto, Jawa Timur. Sumber: https://pdfs.semanticscholar.org/373b/23c639e25ca24083ccec49ad8d3f8b89fc4c.pdf
Emrald, Ichsan. 2022. Kementan: Harga Beras Naik Bukan Akibat Produksi yang Turun. Diakses pada 18 November 2022. Sumber : https://ekonomi.republika.co.id/berita/rljm9t349/kementan-harga-beras-naik-bukan-akibat-produksi-yang-turun
Karimah, N.I., Dadang S., dan Yayat H. 2023. Konsumsi Umbi-umbian di Indonesia. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik. Sumber : journal.ipb.ac.id.
Sibuea, Sihol Marito, dan Harso Kardhinata, Syafruddin Ilyas. 2014. Identifikasi Dan Inventarisasi Jenis Tanaman Umbi-Umbian Yang Berpotensi Sebagai Sumber Karbohidrat Alternatif Di Kabupaten Serdang Bedagai. Jurnal Online Agroekoteknologi. Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/101490-ID-identifikasi-dan-inventarisasi-jenis-tan.pdf
SUSENAS. 2020. Pengeluaran konsumsi nasi pada masyarakat indonesia.
Violet. 2023. Nasi panas vs Nasi Dingin. Sumber : https://safelink.id/NasipanasvsNasidingin
Putri, G.N.A., Aulia, N.N., Salsabila, N., Aisy, R., Indrawati, S., Madani, W.F., Khastini, R.O., 2023. Pemanfaatan Ubi Jalar sebagai Alternatif Karbohidrat yang Meningkatkan Ekonomi Warga Banten. Jurnal Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.
Komarayanti, S. (2017). Ensiklopedia Buah-Buahan Lokal Berbasis Potensi Alam Jember. Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Jember.
Sumber Gambar :
Erna. Konsumsi Beras Turun, Penajam Diversifikasi Pangan. Diakses pada 17 Januari 2023. Sumber: https://dutatv.com/konsumsi-beras-turun-penajam-diversifikasi-pangan/

