
JurnalPost.com – Candiwatu, Mojokerto, Sampah kerap dipandang sebagai persoalan sepele yang akan selesai begitu dibuang dari rumah. Bagi sebagian masyarakat, sampah hanyalah sisa aktivitas harian yang tidak lagi memiliki nilai. Pandangan tersebut pula yang awalnya dimiliki Isma Audina, mahasiswi peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) R4 Desa Candiwatu, sebelum terjun langsung dan berinteraksi dengan masyarakat di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Selama menjalani KKN, Isma Audina mengamati bahwa sebagian besar sampah rumah tangga di Desa Candiwatu masih tercampur antara sampah organik dan non organik. Kebiasaan ini dianggap lumrah karena dinilai lebih praktis dan cepat. Namun, kondisi tersebut justru menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari timbunan sampah, bau tidak sedap, hingga sulitnya proses pengelolaan sampah lanjutan.
Awalnya, Isma mengira permasalahan tersebut muncul akibat kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Namun, setelah berinteraksi langsung dengan warga, Isma Audina menyadari bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada sikap acuh, melainkan pada minimnya pemahaman mengenai pemilahan sampah. Banyak warga mengaku belum mengetahui perbedaan sampah organik dan non organik serta dampak jangka panjang jika keduanya terus dicampur.
Berangkat dari pengamatan tersebut, Isma Audina kemudian berinisiatif melaksanakan sosialisasi pemilahan sampah organik dan non organik sebagai bagian dari kegiatan KKN individu. Dalam sosialisasi ini, Isma menjelaskan bahwa sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah non organik seperti plastik dan kemasan sekali pakai membutuhkan pengelolaan khusus agar tidak mencemari lingkungan.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi ruang diskusi yang terbuka antara Isma Audina dan masyarakat Desa Candiwatu. Beberapa warga mulai menyadari bahwa pemilahan sampah bukanlah hal yang sulit untuk diterapkan. Bahkan, kebiasaan sederhana seperti memisahkan sampah sejak dari rumah dapat memberikan dampak positif bagi kebersihan lingkungan desa.
Bagi Isma Audina, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Pemilahan sampah organik dan non organik bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga tentang membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan. Melalui sosialisasi ini, Isma berharap masyarakat Desa Candiwatu dapat perlahan membentuk kebiasaan baru yang lebih peduli terhadap lingkungan dan berkelanjutan.




