Oleh : Melinda Gati Puspita
JurnalPost.com – Serial Korea “Squid Game” mencuri perhatian penonton di seluruh dunia, sejak tayang di Netflix pada tahun 2021. Menceritakan tentang orang-orang miskin yang rela mempertaruhkan nyawa dalam serangkaian permainan demi hadiah uang dalam jumlah fantastis. Namun dibalik ketegangan dan kebrutalannya, serial ini menyimpan kritik sosial terhadap ketimpangan kelas dan kekuasaan ekonomi.
Dilihat dari teori hegemoni Gramsci, “Squid Game” bukan hanya masalah orang miskin yang ikut permainan demi uang, tetapi tentang bagaimana kekuasaan bisa mengatur pikiran dan perilaku orang lewat budaya dan kebiasaan sehari-hari. Dalam dunia nyata, seperti juga di serial ini, orang kaya mempunyai kuasa bukan karena mereka memaksa, tapi karena mereka berhasil membuat orang lain percaya bahwa aturan main mereka itu normal.
Menurut Stuart Hall dalam teori Representasi dan Identitas memperlihatkan bagaimana perbedaan kelas sosial dibentuk dan ditampilkan lewat simbol, karakter dan visual. Para peserta miskin digambarkan memakai seragam warna hijau polos tanpa identitas pribadi. Sebaliknya, para pembuat dan penonton kaya memakai topeng dan pakai pakaian mewah. Dari sini terlihat bahwa serial ini tidak hanya menunjukkan realitas sosial tapi juga menciptakan makna tentang bagaimana kelas sosial dan identitas dibentuk.
Serial ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme membuat orang bersaing satu sama lain demi bertahan hidup, seolah itu adalah hal yang normal. Para peserta miskin rela mempertaruhkan nyawa karena mereka percaya kemenangan bisa mengubah hidup mereka. Padahal, seperti kata Gramsci, inilah bentuk hegemoni ketika orang yang tertindas menerima aturan yang menindas tanpa sadar karena sudah dianggap normal.
Di sisi lain, “Squid Game” juga menantang struktur kekuasaan tersebut lewat kesadaran karakter utamanya, Gi-hun. Di akhir cerita, ia memilih untuk tidak ikut lagi dalam permainan yang tidak adil itu. Tindakannya menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang menindas, sekaligus pesan bagi penonton untuk membuka mata terhadap realitas sosial di sekitarnya.
Secara reflektif “Squid Game” mengingatkan kita bahwa perubahan tidak bisa datang hanya dari sistem tetapi dari kesadaran individu dan kelompok untuk menolak bagian dari permainan yyang tidak adil. Masyarakat perlu lebih kritis terhadap budaya kompetisi yang ditanamkan oleh kapitalisme bahwa nilai manusia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan atau posisi sosial.
Nama : Melinda Gati Puspita
NIM : 1152200371
MK : Media Cultural and Studies (A)
Sumber
Kusumayanti, D. D., & dkk. (2023). Analisis aspek-aspek hegemoni dan dominasi sosial ekonomi dalam serial “Squid Game.” Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Jember. Retrieved from https://jes.jurnal.unej.ac.id
Li, R. (2024). Representation strategies of the rich and poor classes in the Squid Game. International Journal of Education and Humanities, 15(3). Darcy & Roy Press.



