
Oleh: Qanita Ayunda Najiya | Mahasiswa Program Studi Farmasi, Universitas Airlangga
JurnalPost.com – Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan. Jika dahulu informasi mengenai penyakit dan obat lebih banyak diperoleh dari dokter, apoteker, atau buku kesehatan, kini berbagai platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi sumber utama bagi banyak orang. Berbagai konten kesehatan dengan jutaan penonton muncul setiap hari, mulai dari tips mengatasi flu, rekomendasi vitamin, hingga obat-obatan yang diklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan baru dalam dunia kefarmasian.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai produk obat dan suplemen menjadi viral setelah direkomendasikan oleh influencer atau kreator konten. Banyak masyarakat membeli produk tersebut tanpa memahami kandungan, dosis, maupun efek sampingnya. Tidak sedikit pula yang menganggap suatu obat aman digunakan hanya karena banyak direkomendasikan di media sosial. Padahal, setiap obat memiliki aturan penggunaan yang berbeda sesuai kondisi kesehatan masing-masing individu.
Fenomena ini menjadi perhatian karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan. Salah satu contohnya adalah penggunaan antibiotik tanpa resep atau tanpa diagnosis yang jelas. Masyarakat sering kali menggunakan antibiotik untuk mengatasi batuk dan pilek biasa yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Padahal antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri. Penggunaan yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dilakukan.
Selain antibiotik, tren konsumsi vitamin dan suplemen secara berlebihan juga semakin meningkat. Banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak vitamin yang dikonsumsi maka semakin sehat tubuhnya. Kenyataannya, beberapa vitamin yang dikonsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Misalnya, konsumsi vitamin tertentu dalam dosis tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi organ tubuh dan menimbulkan gangguan kesehatan lainnya.
Maraknya informasi kesehatan di media sosial sebenarnya tidak selalu berdampak negatif. Banyak tenaga kesehatan, termasuk apoteker, yang kini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat melalui platform digital. Konten mengenai penggunaan obat yang benar, bahaya penyalahgunaan obat, serta pentingnya membaca aturan pakai menjadi semakin mudah diakses. Kehadiran tenaga kesehatan di ruang digital menjadi langkah penting untuk menyeimbangkan informasi yang beredar dan membantu masyarakat memperoleh sumber informasi yang lebih terpercaya.
Namun demikian, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi kesehatan digital. Sebelum mempercayai suatu informasi kesehatan, penting untuk memeriksa sumber informasi tersebut. Informasi yang berasal dari institusi kesehatan resmi, tenaga kesehatan berkompeten, atau hasil penelitian ilmiah tentu lebih dapat dipercaya dibandingkan informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Masyarakat juga perlu memahami bahwa pengalaman seseorang dalam menggunakan obat belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.
Peran apoteker dalam kondisi ini menjadi semakin strategis. Apoteker tidak hanya bertugas menyediakan obat, tetapi juga berperan sebagai edukator yang membantu masyarakat memahami penggunaan obat secara rasional. Konsultasi dengan apoteker sebelum menggunakan obat tertentu dapat membantu mencegah kesalahan penggunaan, interaksi obat, maupun efek samping yang tidak diinginkan. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan layanan konsultasi ini secara optimal.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi dan media sosial merupakan peluang besar untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat. Namun, kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan untuk memilah dan memverifikasi kebenarannya. Obat bukanlah produk konsumsi biasa yang dapat digunakan hanya karena sedang viral. Kesadaran untuk mencari informasi yang valid dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah penting untuk mewujudkan penggunaan obat yang aman, efektif, dan bertanggung jawab di era digital.
Daftar Pustaka
World Health Organization. (2024). Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Penggunaan Obat Rasional. Jakarta: Kemenkes RI.
International Pharmaceutical Federation. (2023). Pharmacists Supporting Public Health. The Hague: FIP.



