Oleh: Aghni Fadea Prastita (20825008)
Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid, Tadris Bahasa Indonesia (A)
JurnalPost.com – Novel “Layar Terkembang” (1936) karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menduduki posisi monumental dalam sejarah sastra Indonesia, bukan hanya sebagai kanon Angkatan Pujangga Baru, tetapi sebagai teks seminal yang secara sadar mengusung wacana “Perempuan Baru” di tengah masyarakat kolonial yang feodal. Jika novel Yuni memotret pergulatan perempuan muda melawan mitos di era kontemporer, Layar Terkembang adalah cetak biru perjuangan tersebut di era pra-kemerdekaan. Novel ini tidak lagi berbicara tentang kawin paksa seperti Sitti Nurbaya, melainkan melangkah jauh ke depan: membahas posisi perempuan di ruang publik, hak berorganisasi, dan otonomi intelektual.
Analisis ini akan membedah bagaimana Sutan Takdir Alisjahbana menggunakan karakter perempuan untuk mempertentangkan tradisi dan modernitas, serta bagaimana feminisme liberal -yang menekankan pendidikan dan kesetaraan hak sipil-menjadi nadi utama cerita ini.
Tuti: Sang Subjek yang Menolak Tunduk
Pusat gravitasi feminisme dalam novel ini terletak pada Tuti, sosok kakak tertua yang menjadi corong pemikiran modern penulis. Tuti digambarkan bukan sebagai perempuan yang mudah hanyut oleh perasaan, melainkan sosok yang tajam pikirannya, la menyadari sepenuhnya betapa suramnya nasib perempuan bangsanya di masa lalu, seperti yang ia ungkapkan dalam sebuah pidato yang menggugah:
“Hitam, hitam sekali penghidupan perempuan bangsa kita di masa yang silam, lebih hitam, lebih kelam dari malam yang gelap. Perempuan bukan manusia seperti laki-laki yang mempunyai pikiran dan pemandangan sendiri… perempuan hanya hamba sahaya…..
Kutipan ini menunjukkan kesadaran Tuti akan posisi perempuan sebagai Liyan (The Other) yang tidak memiliki otonomi, la menolak definisi “perempuan mulia” versi patriarki yang mengharuskan perempuan untuk tidak memiliki kehendak. Bagi Tuti, menyerahkan diri sepenuhnya kepada laki-laki tanpa kemandirian berpikir adalah bentuk perbudakan baru. Prinsip ini ia pegang teguh, bahkan dalam urusan cinta:
“Tidak, ia tidak akan menghambakan dirinya kepada laki-laki serupa itu. Percintaan. Harus berdasar atas dasar yang nyata: sama-sama menghargai…. Kalau tidak demikian, perempuan senantiasa akan menjadi permainan laki-laki.”.
Tuti merepresentasikan feminisme liberal yang menekankan bahwa harga diri perempuan terletak pada akal sehat dan kemandirian, bukan pada kepatuhan buta.
Maria: Romantisme Masa Lalu yang Rapuh
Sebagai kontras, Maria dihadirkan sebagai personifikasi dari tradisi dan emosi yang meluap-luap. La adalah representasi perempuan yang hidupnya digerakkan oleh perasaan, sosok yang mudah dicintai namun rapuh. Deskripsi karakter Maria dalam novel sangat jelas memperlihatkan dominasi perasaan di atas rasionalitas:
“Sebaliknya Maria seseorang yang mudah memuji dan memuja. Sebelum selesai benar ia berpikir, ucapannya telah keluar menyatakan perasaannya yang bergelora… Air mata dan gelak berselisih dimukanya sebagai siang dan malam..
Meskipun Maria membawa kegembiraan, STA melalui tokoh Tuti sering kali mengkritik sikap Maria yang terlalu hanyut dalam perasaan ini. Tuti memperingatkan adiknya bahwa hidup yang hanya didasarkan pada cinta buta akan membuat perempuan lemah:
“Engkau terlalu mengikuti perasaanmu Maria, Engkau terlalu berlebihan. Inilah yang membuat perempuan menjadi permainan lelaki.”.
Nasib tragis Maria yang meninggal di usia muda karena penyakit dapat dibaca sebagai simbol runtuhnya “perempuan lama”. Kecantikan fisik dan kehalusan perasaan saja tidak cukup untuk bertahan di zaman yang menuntut ketangguhan akal budi. Kematian Maria adalah cara penulis menegaskan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan perasaan, tetapi memerlukan kekuatan pikiran.
Maria: Romantisme Masa Lalu yang Rapuh
Sebagai kontras, Maria dihadirkan sebagai personifikasi dari tradisi dan emosi yang meluap-luap. La adalah representasi perempuan yang hidupnya digerakkan oleh perasaan, sosok yang mudah dicintai namun rapuh. Deskripsi karakter Maria dalam novel sangat jelas memperlihatkan dominasi perasaan di atas rasionalitas:
“Sebaliknya Maria seseorang yang mudah memuji dan memuja. Sebelum selesai benar ia berpikir, ucapannya telah keluar menyatakan perasaannya yang bergelora… Air mata dan gelak berselisih dimukanya sebagai siang dan malam.”.
Meskipun Maria membawa kegembiraan, STA melalui tokoh Tuti sering kali mengkritik sikap Maria yang terlalu hanyut dalam perasaan ini. Tuti memperingatkan adiknya bahwa hidup yang hanya didasarkan pada cinta buta akan membuat perempuan lemah:
“Engkau terlalu mengikuti perasaanmu Maria. Engkau terlalu berlebihan. Inilah yang membuat perempuan menjadi permainan lelaki.”.
Nasib tragis Maria yang meninggal di usia muda karena penyakit dapat dibaca sebagai simbol runtuhnya “perempuan lama”. Kecantikan fisik dan kehalusan perasaan saja tidak cukup untuk bertahan di zaman yang menuntut ketangguhan akal budi. Kematian Maria adalah cara penulis menegaskan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan perasaan, tetapi memerlukan kekuatan pikiran.
Sintesis Yusuf dan Pernikahan Rasional
Tokoh Yusuf menjadi jembatan antara dua kutub ini. Awalnya ia terpikat pada Maria karena pesona fisiknya, namun ia akhirnya mengakui bahwa pada Tuti terdapat kekuatan yang berbeda:
“Sesungguhnya Tuti berparas tak kalah cantiknya, tetapi pada Tuti saya lebih mendapati ketajaman pikirannya..
Pernikahan antara Tuti dan Yusuf di akhir cerita bukanlah bentuk kekalahan Tuti terhadap patriarki, melainkan sebuah kontrak kesetaraan. Pernikahan ini terjadi atas dasar wasiat Maria yang menyadari bahwa Tuti dan Yusuf adalah pasangan yang lebih tepat untuk menghadapi masa depan:
“Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun…”
Pernikahan mereka melambangkan persatuan antara rasionalitas (Tuti) dan vitalitas (Yusuf). Sutan Takdir ingin menunjukkan bahwa keluarga modern Indonesia harus dibangun di atas landasan kesetaraan intelektual, di mana suami dan istri adalah mitra yang sejajar dalam perjuangan.
Penutup: Layar yang Terkembang
Novel ini ditutup dengan semangat optimisme akan kemajuan. Judul “Layar Terkembang” sendiri adalah metafora tentang pergerakan yang tak bisa dibendung. Seperti kutipan yang menjadi jiwa dari seluruh narasi ini:
“Karena sekali layar terkembang, jalan satu-satunya adalah untuk maju ke depan.”.
Tuti adalah nakhoda bagi nasibnya sendiri, dan melalui dirinya, Sutan Takdir Alisjahbana mewariskan pesan abadi bahwa perempuan Indonesia harus berani berpikir, berani bersuara, dan berani memegang kendali atas arah hidup mereka sendiri.



